Selasa, 25 November 2014
Banjarmasin Post

China Protes Tentang Pembantaian di Nanjing

Kamis, 23 Februari 2012 11:00 WITA

China Protes Tentang Pembantaian di Nanjing
net
Pembunuhan massal di Nanjing tahun 1937.
BANJARMASINPOST.CO.ID - China menyampaikan protes resmi ke Jepang setelah salah seorang walikota di Jepang membantah pasukan Jepang melakukan pembunuhan massal di Nanjing tahun 1937.

"Dalam bantahan atas pembunuhan massal oleh walikota Nagoya, China sudah mengungkapkan posisi yang sungguh-sungguh dan menyampaikan keluhan yang serius kepada Jepang," kata juru bicara Kementrian Luar Negeri China, Hong Lei, seperti dikutip kantor berita AFP.

Protes disampaikan Rabu 22 Februari itu menanggapi pernyataan walikota Nagoya, Takashi Kawamura, saat bertemu dengan delegasi pemerintah kota Nanjing yang berkunjung ke Nagoya, Senin awal pekan.

Dalam pertemuan itu, dia mengatakan tidak terjadi pembunuhan massal maupun pemerkosaan namun perang konvensional. Namun pemerintah China berpendapat sebanyak 300.000 orang tewas dalam pembunuhan massal, pemerkosaan, dan pengrusakan kota Nanjing.

Beberapa sejarawan di Jepang mempertanyakan jumlah korban di Nanjing, dengan memperkirakan angkanya antara 20.000 hingga 200.000.

Tidak bergeming

Tragedi Nanjing hingga saat ini masih terus membayang-bayangi hubungan kedua negara. Tahun 2005, serangkaian unjuk rasa marak di China ketika Perdana Menteri Jepang, Junchiro Koizumi berkunjung ke kuil Yasukuni, yang dianggap pemerintah China dan negara Asia lain sebagai lambang penghormatan kepada para penjahat perang.

Bagaimanapun Kawamura tidak bergeming walau komentarnya memicu kontroversi. "Karena ketidaksepakatan tentang insiden ini seperti duri dalam tenggorokan, saya mengusulkan untuk melakukan perdebatan tentang hal itu," tuturnya.

Dia menambahkan tidak keberatan untuk berkunjung langsung ke Nanjing guna menjelaskan posisinya. "Saya berharap untuk meneruskan pertukaran yang bersahabat antara Nagoya dan Nanjing," tambahnya.

Nagoya dan Nanjing mencapai kesepakatan sebagai kota kembar sejak tahun 1978.
Editor: Didik Trio
Sumber: Kompas.com

TRIBUNnews.com © 2014

About Us

Help

Atas