Minggu, 26 April 2015

Lampu Merah Dunia Malam

Jumat, 20 April 2012 01:56

Beberapa tahun lalu Moammar Emka menyusun buku best seller: Jakarta Undercover.  Isinya mengungkap rahasia kehidupan malam di ibukota, terutama tempat-tempat hiburan malam (THM) yang identik dengan kemaksiatan.

Di hotel-hotel resmi  maupun warung remang-remang, hal-hal begituan seperti lumrah. Meskipun di Jakarta ada Front Pembela Islam (FPI) yang selalu proaktif melawan dan merazia tempat-tempat maksiat, namun penyakit masyarakat seperti tak kunjung hilang. Banyaknya kecaman terhadap FPI makin memberi angin bagi bisnis maksiat.

Sebagai kota tua, padat dan berkembang signifikan, Banjarmasin juga berpotensi undercover. Sejumlah THM sudah lama beroperasi di kota ini dan sepertinya akan terus bertambah. Lajunya pertumbuhan hotel dan perekonomian Kalsel, Kalteng dan sekitarnya satu sisi menggembirakan, sisi lain mengundang keprihatinan. Kemajuan itu cenderung dijadikan lahan subur bagi bisnis THM bernuansa maksiat.

Kerugian yang telah dan akan diderita tak hanya ternodainya agama dan menurunnya moralitas generasi muda, tapi juga tersedotnya uang untuk kebutuhan yang sia-sia. Kadung terlambat, seharusnya ada usaha signifikan untuk mengantisipasinya.

Mesin Penyedot

Sebuah majalah ibukota pada 2008 mengkalkulasi ongkos maksiat perjudian Rp 150 miliar per hari, miras Rp 40 miliar per hari, narkoba Rp 200 miliar per hari dan prostitusi/pelacuran Rp 50 miliar per minggu.    

Berapa angkanya untuk Banjarmasin? Secara pasti pihak terkait perlu melakukan penelitian.  Ramainya sejumlah hotel jelang tengah malam sampai pagi, nyaris semua pedagang bensin eceran di daerah ini menggunakan botol bekas miras, banyaknya wanita muda berpakaian seksi dan mini, sesaknya tempat parkir hingga meluber ke jalan dll, menunjukkan betapa maraknya praktik ini.

Halaman1234
Penulis: M Fadli Setia Rahman
Editor: M Fadli Setia Rahman
KOMENTAR
TRIBUNnews.com © 2015 About Us Help
Atas