• Tribun Network
  • Login
  •  
  •  
  • Tribun JualBeli
Minggu, 21 September 2014
Banjarmasin Post

Lampu Merah Dunia Malam

Jumat, 20 April 2012 01:56 WITA
Oleh: Ahmad Barjie B, Sekretaris Umum Yayasan & Badan Pengelola Masjid At-Taqwa Banjarmasin

Beberapa tahun lalu Moammar Emka menyusun buku best seller: Jakarta Undercover.  Isinya mengungkap rahasia kehidupan malam di ibukota, terutama tempat-tempat hiburan malam (THM) yang identik dengan kemaksiatan.

Di hotel-hotel resmi  maupun warung remang-remang, hal-hal begituan seperti lumrah. Meskipun di Jakarta ada Front Pembela Islam (FPI) yang selalu proaktif melawan dan merazia tempat-tempat maksiat, namun penyakit masyarakat seperti tak kunjung hilang. Banyaknya kecaman terhadap FPI makin memberi angin bagi bisnis maksiat.

Sebagai kota tua, padat dan berkembang signifikan, Banjarmasin juga berpotensi undercover. Sejumlah THM sudah lama beroperasi di kota ini dan sepertinya akan terus bertambah. Lajunya pertumbuhan hotel dan perekonomian Kalsel, Kalteng dan sekitarnya satu sisi menggembirakan, sisi lain mengundang keprihatinan. Kemajuan itu cenderung dijadikan lahan subur bagi bisnis THM bernuansa maksiat.

Kerugian yang telah dan akan diderita tak hanya ternodainya agama dan menurunnya moralitas generasi muda, tapi juga tersedotnya uang untuk kebutuhan yang sia-sia. Kadung terlambat, seharusnya ada usaha signifikan untuk mengantisipasinya.

Mesin Penyedot

Sebuah majalah ibukota pada 2008 mengkalkulasi ongkos maksiat perjudian Rp 150 miliar per hari, miras Rp 40 miliar per hari, narkoba Rp 200 miliar per hari dan prostitusi/pelacuran Rp 50 miliar per minggu.    

Berapa angkanya untuk Banjarmasin? Secara pasti pihak terkait perlu melakukan penelitian.  Ramainya sejumlah hotel jelang tengah malam sampai pagi, nyaris semua pedagang bensin eceran di daerah ini menggunakan botol bekas miras, banyaknya wanita muda berpakaian seksi dan mini, sesaknya tempat parkir hingga meluber ke jalan dll, menunjukkan betapa maraknya praktik ini.

Seorang pelanggan THM yang sudah insyaf menceritakan, kalau seseorang sudah fly, apa pun dapat dilakukan. Berhubungan badan sambil berdiri atau duduk mudah saja, apalagi di sebagian hotel tersedia sekat-sekat yang memudahkan praktik liar.

Perempuan yang sudah mabok, dilorot celana dalamnya tidak akan merasa, bahkan meminta. Ada banyak pria berduit yang sanggup membeli keperawanan puluhan jutaan rupiah. Ia sedih, banyak korbannya justru wanita-wanita muda, pelajar, mahasiswa atau gadis yang masih punya masa depan. Ia takut anak-anak gadis kita 10 tahun ke depan tak ada lagi yang menikah dalam keadaan perawan.

Menurutnya setiap malam terdapat puluhan ribu orang datang ke THM, mereka berasal dari dalam dan luar kota di Kalsel-Kalteng dan banyak juga dari daerah-daerah hulu sungai. Jika per orang membawa uang rata-rata Rp 1.500. 000,- dapat dihitung berapa uang yang dibelanjakan, berapa kaleng minuman keras yang ditenggak, berapa butir narkoba yang dipakai, berapa wanita malam yang digauli secara bebas dan seterusnya.

Kalau tiap malam ada 10. 000 orang pergi ke THM, berarti uang yang tersedot oleh dunia malam mencapai Rp 15.000.000.000,- per  malam.

Angka ini bisa dicross-check dengan pajak atau retribusi yang diperoleh pemerintah daerah. Dipastikan jauh dari seimbang, mudaratnya jauh lebih besar ketimbang manfaat. Jelas izin atau toleransi yang diberikan pemerintah untuk operasionalisasi THM hakikatnya hanya menguntungkan segelintir orang, dengan mengorbankan banyak orang.

Betapa maju dan sejahteranya ba!nua kita sekiranya uang sebanyak itu digunakan untuk hal-hal yang positif, konstruktif dan produktif.

Basis Keluarga

Seorang habib terkenal sangat khawatir dengan merebaknya kemaksiatan di daerah ini. Ia takut bencana massal Tsunami yang pernah terjadi di Aceh, Padang, Yogya dsb juga terjadi di daerah kita akibat sikap acuh tak acuh ulama, pemuka agama, pemerintah dan masyarakat.

Alam hutan dan gunung sudah rusak, gelombang laut makin naik dan sebagainya, setiap saat bisa saja meletuskan bencana tak terduga.

Alm KHM Zaini Ghani Sekumpul pernah memperingatkan, jika bendungan Riam Kanan bungkas maka Kalsel akan “kiamat”. Batas antara bencana dan keselamatan hanya setipis kulit bawang. Kalimantan sama sekali tidak aman dari bencana.

Sikap “asal saya dan keluarga saya tidak bermaksiat, orang lain tak usah dipikirkan”, ini sangat berbahaya. Sikap begini mengundang murka dan bencana dari Allah.

Kota dan daerah yang sudah ditimpa bencana, bukan berarti tak ada orang saleh,  tapi justru amar ma’ruf nahi munkar kurang intensif dan orang-orang memilih saleh sendiri. Ia menyarankan adanya aksi bersama seluruh elemen masyarakat, pemuda, mahasiswa, ulama dan warga banua untuk mencegah, membendung dan mengatasi kemaksiatan yang terlanjur terjadi.

Agar tidak anarkis, pemerintah bersama aparat keamanan perlu turun tangan lebih dulu. Hotel-hotel harus dikembalikan ke fungsi aslinya sebagai tempat menginap dan acara publik yang sehat dan wajar.

Keluarga perlu lebih dibina dan ditata ulang agar tidak ada anggotanya yang lari ke dunia malam. Mengantisipasi dan mengurangi risiko ini, peneliti Sinnet dan John DeFrain mengkampanyekan perlunya keluarga sehat dan bahagia dengan menekankan perbaikan dan peningkatan kehidupan beragama dalam keluarga.

Waktu bersama dalam keluarga yang lebih memadai, komunikasi yang lebih baik dan terjalin sesama anggota keluarga, saling harga menghargai, setiap anggota merasa terikat kuat dan erat dalam keluarga, setiap terjadi persoalan intern keluarga segera diselesaikan secara bijaksana, positif dan konstruktif, tidak berlarut hingga mencari pelarian yang menyesatkan.
Penulis: Sudi
Editor: Sudi
Bagi apa yang Anda baca dengan teman Anda.
  | Social:    ON Social:    OFF | Option
0 KOMENTAR
8250 articles 13 0
Loading...
Sebelum memberikan komentar, silahkan login menggunakan
TERBARU
TERBARU
TERLAMA
TERKOMENTARI
TRIBUNnews.com © 2014 About Us Help
Atas