Paris Selintas

Mujiburrahman
Oleh: Mujiburrahman
KAMIS, 3 April 2012, pukul 06.10 pagi. Pesawat Air France mendarat di Bandara Charles de Gaulle, Paris, setelah terbang 13 jam dari Singapura. Walau cuaca masih dingin, para penumpang tetap bersemangat, melewati lorong-lorong kaca, antre di imigrasi dan mengambil bagasi.
“Bonjour,” kata sopir taksi itu.
“Good morning, Sir,” sengaja kugunakan Bahasa Inggris.
Ia pun mengerti kalau penumpangnya tak pandai Bahasa Perancis. Setelah kutunjukkan alamat tertulis, dia langsung mengangguk. Dia tidak lancar berbahasa Inggris. Aku jadi merasa bodoh. Mengapa dulu aku tak sempat belajar Bahasa Perancis saat kuliah di Montreal. Ya, sesal kemudian tak berguna.
Sepagi itu, jalan menuju Kota Paris sudah macet. Aku bosan, dan mencoba lagi bicara dengan sopir. “I am from Indonesia. Where are you from?” tanyaku.
“Algeria,” jawabnya.
“O, yes. Tatakalam `Arabiyyah? (Anda berbahasa Arab?).
Dia langsung menjawab, “na’am” (ya). Meski Bahasa Arabnya campur aduk dengan Bahasa Berber, percakapan kami akhirnya berjalan lancar.
Namanya Rachid. Ia merantau ke Paris sudah 5 tahun, beristeri dan punya satu anak. Orang-orang Magribi (Aljazair, Maroko dan Tunisia), mantan koloni Perancis, banyak yang menjadi imigran Muslim di sini.
Selebihnya berasal dari wilayah Sub-sahara Afrika, Turki, Timur Tengah dan Asia. Jumlah Muslim Perancis diperkirakan 5-6 juta jiwa. Islam adalah agama kedua terbesar setelah Katolik di Perancis.
“Benarkah sekarang Perancis terkena krisis ekonomi?” tanyaku.
“Betul. Mencari kerja makin sulit. Mungkin ini akibat krisis Eropa secara umum. Kini orang-orang Eropa Timur banyak yang datang ke sini mencari kerja,” katanya.
“Berapa harga minyak kendaraan per liter di sini?”
“Mahal sekali, 1 Euro 20 sen,” katanya.
“Kalau di negeri kami, masih Rp 4.500, sekitar 38 sen Euro saja,”kataku bangga.
Setelah satu jam berlalu, aku akhirnya tiba di tujuan. Profesor Andree telah menungguku. Aku diantar ke sebuah apartemen, tempat menginap. Ia lalu minta diri, dan memintaku menemuinya usai seminar di kampus EFO. Ia memberi petunjuk jalur kereta bawah tanah, yang cukup rumit.
“Hati-hati dengan dompetmu. Ini kota besar. Banyak copet, dan orang Indonesia sering kecopetan,” katanya.
Esok harinya, aku ditemani Ayang Utriza, mahasiswa Indonesia program doktor bidang filologi. Ayang adalah alumni UIN Jakarta, sempat studi di Al-Azhar, lalu ke Perancis. Bahasa Perancisnya nyaris sempurna.
Ayang membantuku membeli kartu telepon dan tiket transportasi kota. Kami makan di restoran mahasiswa yang murah, dan salat Jumat di sebuah gedung apartemen, tak jauh dari EHESS, lembaga yang mengundangku. Jemaahnya mayoritas Muslim kulit hitam asal Afrika.
Usai salat, kami berjalan menuju perpustakaan nasional yang diberi nama Francois Mitterand, perdana menteri yang menggagas gedung megah itu. Bentuknya seperti siku-siku di empat sudut, dengan tinggi 79 meter, terdiri atas 20 lantai (belum termasuk yang di bawah tanah). Perpustakaan ini dibangun 1995, dan mulai operasi 1996, lalu 1998. Koleksinya mencapai 30 juta item, dan 14 juta di antaranya adalah buku, majalah dan dokumen. Tersedia 3314 tempat duduk untuk pengunjung.
“Pernah, jam 8 pagi, saat salju turun, saya ke sini. Ternyata banyak sekali orang yang sudah antre mau masuk. Ketika itu, tak terasa airmata saya mengalir. Begitu besar cinta dan penghargaan orang Perancis pada ilmu. Di negeri kita, yang cuacanya enak, hampir tak pernah banyak orang yang antre ke perpustakaan. Perpustakaan sering sepi,” keluh Ayang.
Rupanya, dalam hal macet, krisis ekonomi dan copet, kita agak mirip dengan Perancis, sementara harga minyak di kita jauh lebih murah. Tapi dalam hal etos keilmuan, kita tertinggal. Padahal, perintah Tuhan yang paling awal kepada umat Islam adalah membaca (Iqra’), bukan? (*)


