Almarhum Wamen ESDM Berpesan Untuk Hidup Berhemat

Rabu, 9 Mei 2012 | 18:50 Wita A- A A+ Dibaca: 421 kali
Istri-Widjajono-Partowidagdo-Nina-Sapti-Triaswati-3.jpg
Istri Widjajono Partowidagdo, Nina Sapti Triaswati duduk persis di depan foto keluarga bersama suami dan anak tercinta.- tribunnews.com

BANJARMASINPOST.CO.ID, JAKARTA - Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Widjajono Partowidagdo dipanggil sang khalik ketika mendaki Gunung Tambora, Sabtu (21/4/2012) lalu. Kepergiannya mengejutkan banyak orang. Apalagi, ia dikenal sebagai sosok cerdas, pandai bergaul, ramah, dan bersahaja.

“Saya sudah ikhlas. Mas Wid pergi di tempat yang dicintainya,” kata sang istri, Ninasapti Triaswati, saat ditemui di kompleks kantor Sekretaris Kabinet, Jakarta, Rabu (9/5/2012).

Hari ini juga, “wasiat” berupa gagasan dan buah pemikiran almarhum Wakil Menteri ESDM, Widjajono Partowidagdo, khususnya mengenai Bahan Bakar Minyak (BBM)  didiskusikan di kantor Sekretaris Kabinet. Nina pun hadir dan memaparkan paparan pandangan sang suami dalam acara ini.

Namun, apa sebenarnya wasiat mendiang Pak Wid, sapaan almarhum, kepada Nina? Gaya hidup sederhana dan berhemat menjadi kenangan dan spirit hidup yang diarungi mereka berdua dalam bahtera rumah tangga selama ini.

“Kami itu hidup hemat, dari melarat kita. Melarat bukan tidak memiliki apa-apa. Kami dosen, bukan start dari keluarga kaya raya. Kami sama-sama belajar, kami sama-sama menimba ilmu sama-sama mencari nafkah, tidak berfoya-foya tentu kami perlu untuk menambah ilmu ke luar negeri. Itu suatu yang wajar,” kenang Nina.

Gaya hidup hemat ini pun tampak dalam banyak pengalaman membangun biduk rumah tangga Nina beserta almarhum.
“Jalan-jalan pun kita melihat kehematan-kehematan di berbagai aspek. Jadi itu semua yang menjadi wasiat di dalam semua PR-nya, hematnya dimana,” kisahnya kepada wartawan.

Tidak hanya itu, Nina melihat juga bagaimana negara ini harus berhemat khususnya dalam hal BBM. Karena subsidi BBM tidak tepat sasaran. Pasalnya, masyarakat tidak semuanya mendapatkannya.

“Kan Rp130 triliun kan tidak hemat sama sekali, itu buat apa? Itu buat dibakar gitu lho dan yang menikmati yang punya mobil. Kalau yang di atas gunung tidak punya mobil, motor tidak menikmati apa-apa, dia petani biasa, kecuali dia sekali-sekali naik bus atau naik angkot, hanya itu aja,” ujarnya.

Subsidi BBM saat ini kata Anggota Komite Ekonomi Nasional (KEN) ini dinikmati oleh rakyat yang kaya jauh lebih banyak daripada yang tidak punya mobil dan motor. Jadi ini yang aneh dari subsidi BBM.

"Secara ekonomi tidak adil bahasa sederhananya,” jelasnya.

Lebih lanjut Nina menambahkan bahwa semua pihak dari pusat, daerah, Presiden hingga masyarakat harus ambil bagian untuk mengawasi kebijakan BBM subisidi agar tepat dan adil.  

“Jadi di sinilah tugas kita bahwa keadilan tidak bisa satu pihak, harus adil bersama. Nah itulah wasiat utamanya (mendiang-red). Ibaratnya kita tidak ingin melarat, kita ini negara miskin yang berfoya-foya. Miskin minyak tapi foya-foya minyak.  Kalau mau kaya hiduplah dengan cara berlimpah, ada gas, ada batubara ada energi surya, sedangkan yang migas ditinggalkan kita ganti bahan bakar gas, tenaga surya,” pungkasnya.

  • Editor: Edibpost
  • Sumber: Tribunnews
  • Jalan Sehat Bersama Tribun

    Polling