A PHP Error was encountered

Severity: 4096

Message: Object of class stdClass could not be converted to string

Filename: controllers/articles.php

Line Number: 105

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Object of class stdClass to string conversion

Filename: controllers/articles.php

Line Number: 105

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Undefined variable: Object

Filename: controllers/articles.php

Line Number: 105

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Trying to get property of non-object

Filename: controllers/articles.php

Line Number: 105

Kebersihan dalam Islam - Banjarmasin Post
  • Tribun Network
  • Login
  •  
  •  
  • Tribun JualBeli
Selasa, 22 Juli 2014
Banjarmasin Post

Kebersihan dalam Islam

Jumat, 18 Mei 2012 01:37 WITA
Oleh: H Murjani Sani, Ketua Umum MUI Kota Banjarmasin

AKTIVITAS kebersihan selalu dilakukan, tidak terkecuali pemerintah, melibatkan lembaga terkait dan warga. Hasilnya positif, banua kita makin bungas dan asri, meskipun masih ada yang membuang sampah sembarangan. Sampah jadinya berserakan, aroma tidak nyaman. Kondisi terakhir ini, tentu bertentangan keinginan Islam yang mengajarkan kebersihan.

Islam adalah agama yang berisi undang-undang Ilahi sesuai rasio dan perkembangan, bagi kebahagian dunia dan akhirat. Mengajarkan al-nahzafah syathr min al-iman (kebersihan bagian dari iman). Beriman tidaknya seseorang, indikasinya kemauan dan kemampuan mewujudkan kebersihan.

Ada 31 kali kebersihan (thaharah) disebut Alquran, misalnya; Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang tobat dan mencintai orang yang menyucikan diri (al-mutathahhirun) (al-Baqarah; 222). Ayat-ayat tersebut menjelaskan pentingnya kebersihan fisik dan rohani dari kotoran dan sesuatu yang berefek ketidaknyamanan, menjelaskan kewajiban wudhu, mandi pembersih hadas kecil dan besar.

Ada 59 kali kebersihan menggunakan lafal tazkiyah, menjelaskan kebersihan jiwa dari sifat mazmumah atau muhlikat menurut al-Gazali, berupa sifat tercela yang membuat terganggunya kesehatan mental (angkuh, mau menang sendiri, arogan, hasud).

Ada tazkiyat al-nafs (membersihkan dan menjaga jiwa dari dosa), tazkiyat al-mal (membersihkan harta dengan berzakat infak dan sedekah), antara lain; Qad aflaha man tazakka wzakarasma rabbih fashalla (Beruntunglah orang yang membersihkan diri dan dia ingat nama Tuhannya lalu dia salat) (al-A’la; 14-15).

Perintah menjaga kebersihan dalam hadis diungkap fitrah dan nazhafah, seperti Khamsun min al-fitrah al-khitan wa al-istihdad, watanf al-ibth wa taqlim al-azhfar wa qashsh al-syarib (lima hal yang merupakan fitrah (kebersihan/kesucian) bagi seseorang; khitan (bersunat), mencukur rambut kemaluan, mencukur bulu ketiak, memotong kuku dan menggunting kumis).

“Allah baik dan mencintai kebaikan, Allah bersih mencintai kebersihan, Allah mulia mencintai kemuliaan, Allah indah mencintai keindahan. Bersihkanlah pekarangan rumahmu”. Bagian akhir hadis ini, tegas memerintahkan kebersihan pekarangan yang sudah diterapkan semua warga.

Kecuali ada pemakai jalan/gang; anak-anak/pejalan kaki makan  sambil berjalan, sampahnya dilempar secara bebas tanpa menghiraukan kebersihan pekarangan warga lainnya. Masalah ini perlu kita pikirkan untuk sosialisasi kebersihan di depan-depan gang, memberi pelajaran kepada pemakai jalan atau pejalan kaki untuk tidak membuang sampah sembarangan.

Kebersihan tempat ibadah mutlak adanya, sebab wadah sujud dan mengabdikan diri menyembah Allah yang Maha Suci. Inilah sebabnya kenapa setiap masjid malah mushalla ada penjaga kebersihannya (kaum) dengan tugas menjaga kebersihan di samping menata keperluan bagi salat berjemaah. Cukup rasional pendapat, bahwa ‘kaum’ adalah orang yang terbanyak memperoleh pahala dalam keseharian, karena dialah yang bertanggung jawab tentang kebersihan tempat ibadat itu.

Suatu ketika rombongan bersilaturrahmi ke rumah tokoh agama, ungkapan pertama tokoh tersebut mencari ‘kaum’ untuk duduk di dekatnya, mungkin karena pertimbangan di atas. Hasil penelitian (2007) menunjukkan adaya tempat ibadah yang memprihatinkan karena tidak terurus, hampir roboh, ada yang bagus namun tidak terjaga kebersihannya; berdebu, ada kotoran cecak dan burung.

Kondisi ini tentu saja kontradiksi dengan ajaran kebersihan dalam Islam, apalagi tempat ibadah yang harus selalu bersih. Rasul pernah bersabda kalau masjid tidak wajar dijadikan tempat sampah, sebab ia tempat khusus untuk salat, zikir, tilawah Alquran.

Manusia dan lingkungan saling mempengaruhi, sehingga perlu dijaga kebersihannya; perumahan, perkantoran, lingkungan sekolah/lembaga pendidikan yang secara tidak langsung mendidikkan nilai-nilai kebersihan pada anak didik. Buanglah sampai pada tempatnya agar orang tidak kena imbas/aroma buruknya yang berpengaruh pada kesehatan.

Rasul menyatakan; al-iman tis’ah wa sittun syubah, afdhaluha lailahaillallah wa adnaha imatath al-aza ‘an al-thariq (iman itu 69 cabang, tertinggi zikir lailaha illallah (tidak ada Tuhan selain Allah) dan terendah mengambil duri di jalan agar jangan terinjak orang lain). Al-jar qabl al-dar (Cek dan amati lingkungan sekitar (kebersihannya) sebelum membangun rumah di situ). Selanjutnya Islam melarang  kencing sembarangan; di bawah pohon, di tepi sungai yang tidak mengalir (sumur). Hadis ini secara tidak langsung mendidikkan kepedulian terhadap kebersihan lingkungan.

Allah Maha Mengatur, tidak ada yang salah (bathil) dalam aturan-Nya (Ali ‘Imran; 191), pergantian malam dan siang, penciptaan air dan udara dan lain-lain harmonis sekali, diminta untuk dijaga kelestarian dan kebersihannya. Bila bersih manusia pun sehat, pencemaran mengundang datangnya penyakit, karena itu hindarilah polusi dan pencemaran, karena banyak kematian terjadi disebabkan polusi udara dan pencemaran.

Allah mengingatkan; Wala tufsidu fi al-ardh ba’da ishlahiha (Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi sesudah Allah memperbaikinya) (al-A’raf 55). ‘Kerusakan’ di atas dimaksudkan ‘tidak menyambut kedatangan Nabi dan ajarannya’, salah-satunya tidak peduli kebersihan.

Alternatif Solusi

Dalam rangka meningkatkan kebersihan, perlu ada gerakan/gebrakan tertentu dan segala risikonya; Perlu kesiapan anggaran untuk penghargaan pelestari kebersihan/lingkungan. Tidak mesti besar, dan diprediksikan memotivasinya terus meningkatkannya. Perlu keberanian turun ke lapangan mengamati pelestari/perusak kebersihan/lingkungan (pembuang sampah sembarangan). Kalau perlu ada alat deteksi perekamnya, kemudian menasihati dan mengarahkan, sebagaimana di Malaysia dan Singapura.

Orang jadi tidak berani membuang sampah sembarangan. Sosialisasi ajaran Islam tentang keimanan dan kebersihan, teori maupun praktik. Teori disampaikan melalui ceramah, pertemuan, dialog. Secara operasional, mengadakan gerakan massal kebersihan, seperti setiap menjelang masuk belajar, anak-anak diajak gotong royong membersihkan lingkungan/halaman sekolah, gotong royong kebersihan sungai, gotong royong berkala di jalan raya.

Menggalakkan budaya bersih diri keluarga dan lingkungan. Mandi pada waktunya, berpakaian rapi, membuat tong sampah seadanya di rumah tangga, membiasakan anak/anggota keluarga membuang sampah di tempatnya. Mengimbau pengguna jalan/pejalan kaki,agar bekas makanan/minman (kotak mie instant, bekas es cream, plastik bekas, tusuk pentol) dibuang pada tempatnya. Kasihan warga/penghuni rumah, setiap saat mengais sampah di halamannya yang dibuang secara tidak bertanggung jawab. Wa Allah a’lam bi al-shawab.
Editor: Sudi
Bagi apa yang Anda baca dengan teman Anda.
  | Social:    ON Social:    OFF | Option
TRIBUNnews.com © 2014 About Us Help
Atas