Kebersihan dalam Islam

Aktivitas kebersihan selalu dilakukan, tidak terkecuali pemerintah, melibatkan lembaga terkait dan warga. Hasilnya positif, banua kita makin bungas

AKTIVITAS kebersihan selalu dilakukan, tidak terkecuali pemerintah, melibatkan lembaga terkait dan warga. Hasilnya positif, banua kita makin bungas dan asri, meskipun masih ada yang membuang sampah sembarangan. Sampah jadinya berserakan, aroma tidak nyaman. Kondisi terakhir ini, tentu bertentangan keinginan Islam yang mengajarkan kebersihan.

Islam adalah agama yang berisi undang-undang Ilahi sesuai rasio dan perkembangan, bagi kebahagian dunia dan akhirat. Mengajarkan al-nahzafah syathr min al-iman (kebersihan bagian dari iman). Beriman tidaknya seseorang, indikasinya kemauan dan kemampuan mewujudkan kebersihan.

Ada 31 kali kebersihan (thaharah) disebut Alquran, misalnya; Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang tobat dan mencintai orang yang menyucikan diri (al-mutathahhirun) (al-Baqarah; 222). Ayat-ayat tersebut menjelaskan pentingnya kebersihan fisik dan rohani dari kotoran dan sesuatu yang berefek ketidaknyamanan, menjelaskan kewajiban wudhu, mandi pembersih hadas kecil dan besar.

Ada 59 kali kebersihan menggunakan lafal tazkiyah, menjelaskan kebersihan jiwa dari sifat mazmumah atau muhlikat menurut al-Gazali, berupa sifat tercela yang membuat terganggunya kesehatan mental (angkuh, mau menang sendiri, arogan, hasud).

Ada tazkiyat al-nafs (membersihkan dan menjaga jiwa dari dosa), tazkiyat al-mal (membersihkan harta dengan berzakat infak dan sedekah), antara lain; Qad aflaha man tazakka wzakarasma rabbih fashalla (Beruntunglah orang yang membersihkan diri dan dia ingat nama Tuhannya lalu dia salat) (al-A’la; 14-15).

Perintah menjaga kebersihan dalam hadis diungkap fitrah dan nazhafah, seperti Khamsun min al-fitrah al-khitan wa al-istihdad, watanf al-ibth wa taqlim al-azhfar wa qashsh al-syarib (lima hal yang merupakan fitrah (kebersihan/kesucian) bagi seseorang; khitan (bersunat), mencukur rambut kemaluan, mencukur bulu ketiak, memotong kuku dan menggunting kumis).

“Allah baik dan mencintai kebaikan, Allah bersih mencintai kebersihan, Allah mulia mencintai kemuliaan, Allah indah mencintai keindahan. Bersihkanlah pekarangan rumahmu”. Bagian akhir hadis ini, tegas memerintahkan kebersihan pekarangan yang sudah diterapkan semua warga.

Kecuali ada pemakai jalan/gang; anak-anak/pejalan kaki makan  sambil berjalan, sampahnya dilempar secara bebas tanpa menghiraukan kebersihan pekarangan warga lainnya. Masalah ini perlu kita pikirkan untuk sosialisasi kebersihan di depan-depan gang, memberi pelajaran kepada pemakai jalan atau pejalan kaki untuk tidak membuang sampah sembarangan.

Kebersihan tempat ibadah mutlak adanya, sebab wadah sujud dan mengabdikan diri menyembah Allah yang Maha Suci. Inilah sebabnya kenapa setiap masjid malah mushalla ada penjaga kebersihannya (kaum) dengan tugas menjaga kebersihan di samping menata keperluan bagi salat berjemaah. Cukup rasional pendapat, bahwa ‘kaum’ adalah orang yang terbanyak memperoleh pahala dalam keseharian, karena dialah yang bertanggung jawab tentang kebersihan tempat ibadat itu.

Suatu ketika rombongan bersilaturrahmi ke rumah tokoh agama, ungkapan pertama tokoh tersebut mencari ‘kaum’ untuk duduk di dekatnya, mungkin karena pertimbangan di atas. Hasil penelitian (2007) menunjukkan adaya tempat ibadah yang memprihatinkan karena tidak terurus, hampir roboh, ada yang bagus namun tidak terjaga kebersihannya; berdebu, ada kotoran cecak dan burung.

Halaman
12
Ikuti kami di
Editor: M Fadli Setia Rahman
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2016
About Us
Help