Ritus Global Bernama Euro

Euro 2012
HARI-hari ini perhatian penggemar bola mulai tertuju ke Polandia dan Ukraina. Dua negara yang bertetangga ini jadi tuan rumah Piala Eropa (Euro) 2012. Pesta olahraga yang paling jadi pusat perhatian dunia, selain Piala Dunia dan Olimpiade.
Jika dilihat dari penggemar fanatiknya, maka Piala Dunia menempati urutan pertama dan Euro di urutan kedua. Malah ada yang mengatakan, dari segi kualitas dan prestise, Euro setara dengan Piala Dunia tanpa Brasil dan Argentina (dan mungkin Nigeria). Wajar saja jika antusiasme bolamania begitu gegap gempita.
Euro kini ibarat berhala baru yang dipuja, dinanti, ditonton, disimak, didiskusikan oleh hampir separo warga bumi. Ia jadi ritus empat tahunan yang gaungnya menandingi Piala Dunia dan Olimpiade, dan membuat orang terpaku dan dengan khidmat mengikuti tahap-tahapannya.
Partai-partai pemanasan pun tak luput dari bahasan dan diskusi serius para penggemar bola. Misalnya, bagaimana Italia disodok Rusia dengan tiga gol tanpa balas, atau mengapa Inggris hanya mampu menghasilkan golsemata wayang ke gawang Belgia dalam laga persahabatan, Sabtu (2/6), sementara Belanda tampil gemilang menyarangkan enam gol ke gawang Irlandia Utara.
Begitulah, ketika para bintang dunia nanti saling berlaga dengan segala kemampuan untuk prestasi nyata, rakyat kita cukup hanya jadi pemirsa dan terlena dalam bius sensasi Euro tadi, seolah tercekam oleh pengaruh berhala begitu kuat.
Tapi ada baiknya, ini jadi semacam kanal untuk sejenak mengalirkan ketegangan demi ketegangan, dan kejutan serta berbagai sentakan yang berasal dari aneka persoalan di tanah air yang tak kunjung tuntas. Mulai dari isu korupsi, pemaksaan kehendak satu kelompok terhadap kelompok lain atas nama agama dan golongan, hingga ke krisis bahan bakar minyak.
Di sisi lain, kaum politisi serta pejabat tetap lebih suka menciptakan gempa gosip dan rumor politik, melupakan tugas utamanya memperbaiki ekonomi rakyat. Simak saja bagaimana para elite saling terkam, saling tendang dan bakusodok lewat pernyataan-pernyataan mereka yang kadang seakan tanpa tata krama.
Polemik berkembang dan meletup-letup namun tak pernah mencapai titik akhir berupa kesimpulan rasional yang bisa melegakan semua pihak, karena belum selesai satu perkara diperdebatkan dan diributkan, muncul lagi problem baru yang tak kalah seru. Ujung-ujungnya, rakyat bingung.
Sementara mereka berlaga di lapangan hijau politik tanpa penjaga gawang dan sibuk bakucakar, rakyat penggemar bola bolehlah menarik napas dahulu sejenak menikmati sensasi demi sensasi yang disaksikan langsung dari Eropa.
Sepakbola tak cuma berhala, tapi sudah jadi sihir bagi semua penggemarnya, bahkan di Italia ada yang menulis dalam kolom identitas agamanya, soccer (sepakbola). Eropa memang jadi panutan bola dunia, di Indonesia saja liga-liga Eropa seperti Jerman, Spanyol, Inggris, dan Italia menyihir jutaan pemirsa.
Kini kerinduan penggila bola di tanah air akan terpuaskan oleh rangkaian penampilan apik pemain kelas dunia. Polandia dan Ukraina yang ribuan kilometer di dari tanah air, seolah pindah ke rumah masing-masing lewat media elektronik dan cetak.
Dari Euro 2012, bangsa kita juga belajar siap kalah dan menang jika tim favorit atau jagoan kita gagal/sukses ke babak selanjutnya, tanpa harus mencari kambing hitam bahkan merusuh karena tak bersedia menerima kemenangan pihak lain.
Dari para kesebelasan yang bertarung di laga kelas dunia itulah kini bangsa-bangsa di Asia, Afrika, dan bahkan di Amerika menyaksikan bagaimana mereka memainkan bola dengan cantik dan indah. Bukan sekadar adu kuat, namun juga sebuah hiburan.
Bagi kita di tanah air, ini pun merupakan kesempatan sejenak menarik napas dari deraaan aneka persoalan yang mereka hadapi saban hari. Rakyat cuma ingin kebutuhan primer mereka terpenuhi. Mereka tak butuh omong-kosong dan janji-janji, melainkan bukti dari apa yang dijanjikan para elit.
Sementara para kesebalasan tangguh dari daratan Eropa bertarung di laga paling prestisius nanti, kita cukup hanya jadi komentator dan penonton sambil membayangkan kesebelasan nasional kita mampu bersaing di arena kelas dunia. Entah kapan. (*)


