Komplotan Perjokian UGM Digulung

Polisi Tangkap 42 Joki Fakultas Kedokteran

Sekelompok kecil orang terorganisir memakai trik kotor untuk memasukan calonnya ke jurusan-

Polisi Tangkap 42 Joki Fakultas Kedokteran
tribunnews.com
Puluhan calon mahasiswa program mandiri internasional Fakultas Kedokteran UGM, terpaksa digelandang ke Mapolres Sleman, pada Jumat (13/7/2012) petang karena diduga sebagai joki.

Sisi gelap dunia pendidikan perguruan tinggi ini terungkap saat Polisi Sleman menahan dan memintai keterangan 42 orang joki, yang mengaku membantu peserta ujian seleksi dengan jawaban soal yang didistribusikan melalui perangkat komunikasi, antara lain melalui handphone.

Ke-42 mahasiswa yang sempat dimintai keterangan di Polres Sleman, akhirnya dibebaskan pada Sabtu (14/7/2012) dinihari setelah didata terlebih dahulu. Polisi juga menetapkan satu orang sebagai tersangka dengan tuduhan pemalsuan identitas saat melancarkan aksi perjokian pada Jurusan Kedokteran Universitas Gajah Mada (UGM).

Sebenarnya, peristiwa itu bukanlah hal baru. Beberapa kampus swasta favorit di Yogyakarta dan Jawa Tengah, serta beberapa daerah lainnya beberapa kali berhasil menggagalkan aksi perjokian.
Lantas kenapa hal ini terus terjadi, tak lain lantaran dalam menjalankan aksinya, mereka menggunakan cara - cara yang sangat rapi dan terorganisir.

Seorang mantan mantan tim penjaring calon mahasiswa menceritakan pengalamannya selama menekuni bisnis tersebut kepada wartawan. Untuk menemuinya, terpaksa harus melewati beberapa "lapis" agen dengan mengabarkan dari satu orang ke orang lainnya.

Sehingga tak heran identitasnya pun terpaksa disamarkan atas permintaan narasumber. Sebut saja namanya Irman, ia menceritakan bahwa awal mula terjun ke "bisnis" itu sekitar tahun 2011 lalu.
Ia pun mengaku bahwa keputusannya bergelut di jasa perjokian itu lantaran ia juga direkrut oleh seorang yang ia sebut sebagai eksekutor lapangan.

Tidak cukup sulit untuk menemukan konsumen, terbukti ia sempat memperoleh dua orang calon mahasiswa yang hendak masuk ke jurusan favorit di sebuah universitas swasta di Yogyakarta.

Setelah melakukan pendekatan dan negosiasi akhirnya si calon mahasiswa diminta untuk menyerahkan sejumlah dokumen identitas diri, meliputi pas foto, KTP, foto kopi kartu kelurga serta foto kopi ijazah.

Dalam tahapan tersebut, menurut Irman, pihaknya belum menentukan besaran tarif yang akan dibebankan kepada si calon mahasiswa.

Lantaran dokumen - dokumen itu dikumpulkan terlebih dahulu untuk dipelajari, baik itu dari segi jumlah konsumen maupun untuk mempelajari berapa besar kemampuan finansial konsumen.

Dengan begitu, ia pun bisa menentukan besaran tarifnya. Selain dari tingkat kemampuan para konsumennya, besaran tarif juga dihitung berdasarkan tingkat akreditasi jurusan yang dituju serta bonafid dan tidaknya kampus yang dijadikan sasaran. Sehingga wajar saja, untuk setiap kampus memiliki perhitungan yang berbeda, berkisar antara Rp 50 juta hingga Rp 100 juta.

Halaman
12
Ikuti kami di
Editor: Edibpost
Sumber: Tribunnews
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2016
About Us
Help