• Tribun Network
  • Login
  •  
  •  
  • Tribun JualBeli
Rabu, 24 September 2014
Banjarmasin Post

Polisi Tangkap 42 Joki Fakultas Kedokteran

Senin, 16 Juli 2012 15:29 WITA
Polisi Tangkap 42 Joki Fakultas Kedokteran
tribunnews.com
Puluhan calon mahasiswa program mandiri internasional Fakultas Kedokteran UGM, terpaksa digelandang ke Mapolres Sleman, pada Jumat (13/7/2012) petang karena diduga sebagai joki.
BANJARMASINPOST.CO.ID, YOGYAKARTA - Sekelompok kecil orang terorganisir memakai trik kotor untuk memasukan calonnya ke jurusan-jurusan favorit di lembaga pendididikan terkemuka di Yogyakarta, tanpa terkecuali Universitas Gajah Mada (UGM).

Sisi gelap dunia pendidikan perguruan tinggi ini terungkap saat Polisi Sleman menahan dan memintai keterangan 42 orang joki, yang mengaku membantu peserta ujian seleksi dengan jawaban soal yang didistribusikan melalui perangkat komunikasi, antara lain melalui handphone.

Ke-42 mahasiswa yang sempat dimintai keterangan di Polres Sleman, akhirnya dibebaskan pada Sabtu (14/7/2012) dinihari setelah didata terlebih dahulu. Polisi juga menetapkan satu orang sebagai tersangka dengan tuduhan pemalsuan identitas saat melancarkan aksi perjokian pada Jurusan Kedokteran Universitas Gajah Mada (UGM).

Sebenarnya, peristiwa itu bukanlah hal baru. Beberapa kampus swasta favorit di Yogyakarta dan Jawa Tengah, serta beberapa daerah lainnya beberapa kali berhasil menggagalkan aksi perjokian.
Lantas kenapa hal ini terus terjadi, tak lain lantaran dalam menjalankan aksinya, mereka menggunakan cara - cara yang sangat rapi dan terorganisir.

Seorang mantan mantan tim penjaring calon mahasiswa menceritakan pengalamannya selama menekuni bisnis tersebut kepada wartawan. Untuk menemuinya, terpaksa harus melewati beberapa "lapis" agen dengan mengabarkan dari satu orang ke orang lainnya.

Sehingga tak heran identitasnya pun terpaksa disamarkan atas permintaan narasumber. Sebut saja namanya Irman, ia menceritakan bahwa awal mula terjun ke "bisnis" itu sekitar tahun 2011 lalu.
Ia pun mengaku bahwa keputusannya bergelut di jasa perjokian itu lantaran ia juga direkrut oleh seorang yang ia sebut sebagai eksekutor lapangan.

Tidak cukup sulit untuk menemukan konsumen, terbukti ia sempat memperoleh dua orang calon mahasiswa yang hendak masuk ke jurusan favorit di sebuah universitas swasta di Yogyakarta.

Setelah melakukan pendekatan dan negosiasi akhirnya si calon mahasiswa diminta untuk menyerahkan sejumlah dokumen identitas diri, meliputi pas foto, KTP, foto kopi kartu kelurga serta foto kopi ijazah.

Dalam tahapan tersebut, menurut Irman, pihaknya belum menentukan besaran tarif yang akan dibebankan kepada si calon mahasiswa.

Lantaran dokumen - dokumen itu dikumpulkan terlebih dahulu untuk dipelajari, baik itu dari segi jumlah konsumen maupun untuk mempelajari berapa besar kemampuan finansial konsumen.

Dengan begitu, ia pun bisa menentukan besaran tarifnya. Selain dari tingkat kemampuan para konsumennya, besaran tarif juga dihitung berdasarkan tingkat akreditasi jurusan yang dituju serta bonafid dan tidaknya kampus yang dijadikan sasaran. Sehingga wajar saja, untuk setiap kampus memiliki perhitungan yang berbeda, berkisar antara Rp 50 juta hingga Rp 100 juta.

"Sedangkan untuk penjaringan, saat itu saya dibayar Rp 10 juta untuk dua mahasiswa, tapi akhirnya tidak jadi karena konsumennya juga mengurungkan niat menggunakan jasa joki," ungkapnya, saat ditemui pada Minggu (15/7/2012) siang.

Sementara itu, untuk para calon mahasiswa yang hendak menggunakan jasa joki, modusnya tidak jauh berbeda dengan yang terungkap kemarin di UGM. Baik itu joki maupun konsumen joki diharuskan menggunakan kerudung dan lengan panjang. Sedangkan bagi para joki, diharuskan memiliki pembawaan yang tenang.

Hal ini diutarakan seorang yang pernah ditawari menjadi Joki. Sebut saja namanya, Dian. Ia sempat ditawari menjadi joki sekitar tahun 2005 sewaktu dirinya hendak mendaftar di sebuah perguruan tinggi negeri. Namun berdasarkan pengamatannya, si perekrut memang cukup berhati - hati saat memilih siapa yang hendak dijadikan kaki tangannya.

Syarat pertama mengenakan jilbab serta memiliki pembawaan yang tenang sehingga tidak mencurigakan saat melancarkan aksinya di dalam ruangan ujian. Ia menyebut seorang rekannya yang lain yang tak mengenakan jilbab namun diminta menggunakannya saat ujian berlangsung demi untuk menutupi earphone yang terpasang.

Dian melanjutkan, saat itu ia tiba-tiba dihampiri seseorang yang belum ia kenal. Setelah bercakap-cakap, pada akhirnya ia ditawari untuk menjadi joki namun dengan cara yang lebih aman. Setelah sempat dipikir berulang kali, akhirnya Dian menyanggupi tawaran itu dengan imbalan sebesar Rp 1,5 juta, yang dibayarkan beberapa hari kemudian setelah tes berakhir.

Beberapa hari sebelum pelaksanaan ujian dimulai, para eksekutor lapangan ini mendapatkan briefing terlebih dahulu untuk mengetahui cara penggunaan peralatan komunikasi yang dihubungkan ke seorang operator yang ia sendiri tidak mengetahui siapa dan dimana keberadaannya.

Dari keduanya, terungkap bahwa praktik perjokian maupun berbagi jawaban, sebenarnya dipraktikan pula di beberapa universitas swasta yang ada di Yogyakarta dan Jawa Tengah. Terutama di kampus-kampus yang memiliki jurusan-jurusan unggulan semisal paling banyak yakni kedokteran.
Editor: Edibpost
Sumber: Tribunnews
Bagi apa yang Anda baca dengan teman Anda.
  | Social:    ON Social:    OFF | Option
0 KOMENTAR
14930 articles 13 0
Loading...
Sebelum memberikan komentar, silahkan login menggunakan
TERBARU
TERBARU
TERLAMA
TERKOMENTARI
TRIBUNnews.com © 2014 About Us Help
Atas