Sabtu, 29 November 2014
Banjarmasin Post
Home » Kolom » Fikrah

Nilai Amal di Sisi Allah

Jumat, 20 Juli 2012 01:37 WITA

Nilai Amal di Sisi Allah
blogspot
KH Husin Naparin Lc MA
Oleh: KH Husin Naparin Lc MA

MENURUT Abdullah bin Umar RA, bahwa Nabi Muhammad SAW menerangkan: “Nilai amal manusia di sisi Allah SWT ada tujuh macam, yaitu, dua macam di antaranya mendapat ganjaran pasti, dua macam diganjar setimpal, satu macam diganjar sepuluh kali lipat, satu macam diganjar sampai tujuh ratus kali lipat, dan satu macam lagi amal yang tidak diketahui akan ganjarannya.”

Dua macam amal yang mendapat ganjaran pasti ialah: pertama, seseorang yang nantinya bertemu dengan Allah SWT di akhirat mendapat ganjaran surga, yaitu karena ia telah menyembah Allah dengan ikhlas dan tidak mensyarikatkan dengan sesuatu.

Kedua, orang yang bertemu dengan Allah di akhirat mendapat siksa neraka, karena ia telah mensyarikatkan Allah.

Adapun amal yang diganjar semisal ada dua macam pula, yaitu: pertama, seseorang yang berbuat maksiat dihukum sesuai kemaksiatannya, inilah yang difirmankan Allah: Man ja’a bi sayyi’ati fala yujza illa mitsliha. Artinya: “Barang siapa berbuat kejahatan dibalas seimbang kejahatannya” (QS Al-An’am 160).

Kedua, barang siapa yang ingin mengerjakan kebajikan tetapi ia tidak sempat mengerjakannya, maka ia mendapat satu kebajikan.

Kemudian satu amal yang diganjar sepuluh kali lipat, ialah seseorang yang menginginkan berbuat kebajikan dan ia mampu mengerjakan sebagaimana yang difirmankan Allah: Man ja’a bilhasanati falahu ‘asyru amtsaliha. Artinya: “Barang siapa berbuat kebaikan mendapat balasan sepuluh kali lipat amalnya” (QS Al-An’am 160).

Selanjutnya amal yang diganjar sampai tujuh ratus kali lipat, ialah orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah (fi sabilillah), nafkahnya itu dilipatgandakan satu dirham menjadi tujuh ratus dirham.

Adapun amal yang tidak diketahui ganjarannya kecuali hanya Allah yang mengetahuinya, ialah shaum (puasa). Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Tabrani dan Baihaqi. Hadits ini menurut Ibnu Hibban adalah shahih.

Demikianlah puasa hanya Allah yang mengetahui ganjarannya sesuai kualitas puasa yang dilaksanakan oleh seseorang, di dalam hadits qudsi ditandaskan pula bahwa: “Allah SWT berfiman: Wash-shaumu li wa ana ajzi bih artinya: “Puasa itu untuk-Ku dan Aku-lah yang mengganjarnya.”

Kewajiban shaum hanya dipikulkan kepada orang yang beriman untuk mengetahui derajat takwa seseorang. Allah berfiman yang artinya: “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa” (QS Al-Baqarah 183).

Barangkali dari sinilah Imam Al-Gazali mengklasifikasikan shaum menjadi tiga peringkat, yaitu :

Pertama: shaum al-awamm, dimaksudkan puasa orang kebanyakan yang hanya mampu menahan diri keinginan perut dan nafsu seksual, orang ini berpuasa hanya secara ritual untuk menunaikan kewajiban sebagai seorang muslim.

Kedua: shaum al-khawash, dimaksudkan ialah seseorang yang berpuasa dengan sadar bahwa puasanya bukan hanya menahan diri dari keinginan perut dan nafsu seksual, tetapi menahan seluruh anggota dari segala kemaksiatan. Puasa ini diistilahkan pula dengan shaum al-khushus.

Ketiga: shaum al-khawash-al-khawash, dimaksudkan ialah seseorang yang berpuasa dengan sadar sesadarnya bahwa puasanya bukan hanya menahan diri dari keinginan perut dan nafsu seksual, tetapi menahan seluruh anggota dari segala kemaksiatan, bahkan ia mampu menahan batinnya dari pemikiran-pemikiran selain Allah SWT, dimana lahir dan batinnya hanya untuk menggapai redha Ilahi.

Selamat berpuasa Ramadan 1433 H. (*)
Editor: Dheny

TRIBUNnews.com © 2014

About Us

Help

Atas