Kisah Pemaaf

Sebuah hadis menceritakan secara menarik karena kandungan isinya tentang Rasulullah SAW yang mengajarkan kepada kita untuk selalu bersikap

Kisah Pemaaf
dok
Ustad Jeffry Al Buchori

Lengkapnya, kisah itu sebagai berikut: Abu Hurairah berkata. “Seseorang telah mencela Abu Bakar. Abu Bakar pun diam, sedangkan Nabi SAW ketika itu bersama mereka. Nabi merasa kagum, lalu tersenyum. Ketika orang itu memperbanyak cercaannya, maka Abu Bakar menimpali sebagian yang diucapkannya. Nabi pun marah dan beranjak pergi.

Abu Bakar kemudian menyusul beliau dan bertanya. “Wahai Rasulullah, orang itu telah mencerca diriku, dan engkau tetap duduk. Namun, disaat aku menimpali sebagian yang diucapkannya, mengapa engkau marah dan berdiri?”

Rasulullah pun menjawab,     

“Bersamamu tadi ada malaikat yang menimpali orang tersebut, sementara engkau diam. Akan tetapi, ketika engkau menimpali sebagian yang diucapkannya, setan pun datang dan aku pun tidak mau duduk dengan setan.”

Kemudian beliau SAW bersabda, “Wahai Abu Bakar, ada tiga perkara yang semuanya dalah hak. Tidaklah seseorang yang dizalimi dengan suatu kezaliman, kemudian ia memaafkannya karena Allah, melainkan Allah akan memuliakannya karena perbuatannya itu dan akan menolongnya. Dan tidaklah seseorang yang membukakan pintu untuk menyampaikan suatu pemberian dengan niat bersilaturahim, melainkan Allah akan memperbanyak hartanya. Dan tidaklah seseorang membuka pintu untuk meminta-minta dengan niat meperbanyak hartanya, melainkan Allah akan menyedikitkan hartanya.”

Pemaaf merupakan sifat yang sangat terpuji dan salah satu sikap yang sangat dianjurkan di dalam Alquran. Allah SWT berfirman, “Jadilah pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang makruf, serta jangan pedulikan orang-orang yang bodoh.” (QS 7: 199).

Dalam ayat lain Allah berfiman, “... dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak suka bahwa Allah mengampunimu? Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (QS 24: 22)

Mereka yang enggan dan tidak mau mengikuti ajaran Nabi Muhammad SAW akan merasa sulit memaafkan kesalahan orang lain. Sebab, boleh jadi dengki sudah mengakar di dalam jiwa mereka.     

Sehingga apa pun bentuk perbuatan baik yang dilakukan seseorang akan bernilai jelek di hadapan orang yang pendengki dan pemarah.     

Padahal, Allah telah menegaskan kepada orang yang beriman bahwa sikap memaafkan adalah lebih baik.

Halaman
12
Ikuti kami di
Editor: M Fadli Setia Rahman
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2016
About Us
Help