Kuliah Sudah Bisa Tapi Biaya Transportasi Susah
BANJARMASINPOST.CO.ID, YOGYAKARTA - Permata Sari Telaumbanua (18 ) asal Nias adalah salah satu dari 1.102 mahasiswa baru penerima beasiswa Bidik Misi. Kepada Kompas,com,
Permata merasa bersyukur mendapat beasiswa Bidik Misi sehingga bisa
kuliah di UGM. Dia juga merasa bangga dan tidak menyangka bisa kuliah di
salah satu universitas top di Indonesia ini.
Bahkan, kata
Permata, kedua orang tuanya tidak percaya kalau dirinya diterima di UGM.
"Bukan senang ataupun gembira, sebaliknya ayah saat itu justru meminta
saya untuk membatalkan melanjutkan kuliah karena memikirkan beratnya
biaya yang harus ditanggung kelak," kata Pani, pangilan akrab Permata.
Tekad
dan keinginan keras Pani menjadikan ayahnya luluh. Hal itu setelah dia
menjelaskan kepada orangtuanya bahwa tidak membayar uang serupiah pun
untuk biaya kuliah di UGM.
Kendati demikian, ada kendala lain
yang dihadapi Pani. Kedua orangtuanya tidak sanggup membbiayai
perjalanan Pani ke Yogyakarta. Ibunya, Yuni Ramarepa, lalu mengundang
sanak keluarga. Kepada kerabatnya, Yuni menyampaikan Pani diterima di
UGM. Untunglah, beberapa orang adik iparnya bersedia ikut membantu.
"Ada tiga om yang bantu," kata Pani.
Menurut
Pani, ia bersama dengan kedua orang adiknya tinggal di Desa Saewe,
Kecamatan Gido, Nias. Keluarganya menopang hidup dari hasil jerih payah
ayahnya sebagai nelayan. Bila melaut, selama 4-5 hari ayahnya tidak
pulang ke rumah. Bila kapal sudah merapat, hasil tangkapan akan dibawa
ke pasar tradisional Gunung Sitoli untuk dijual dan mendapatkan uang
antara Rp 300 ribu sampai Rp 500 ribu.
Hidup dengan kondisi
keterbatasan tidak hanya dialami oleh Pani. Karena sebagian besar
penerima beasiswa Bidik Misi merupakan anak dari keluarga kurang mampu,
namun memiliki prestasi di kelasnya.


