Kakaren
Suasana Lebaran perlahan memudar dan kita kembali ke rutinitas harian seperti biasa. Namun tentu saja banyak pelajaran yang bisa diambil dari
Tahun ini, seperti pada beberapa tahun terakhir, kecelakaan di jalan raya didominasi oleh para pemudik bersepeda motor. Angkanya cenderung naik dari tahun ke tahun. Sudah barang tentu kita tidak ingin angka-angka itu menjadi sekadar statistik, apalagi jika terus meningkat saban tahun. Rangkaian kecelakaan itu, lebih-lebih yang disertai dengan korban jiwa, pastilah menorehkan duka mendalam bagi keluarga mereka. Kita layak berempati kepada korban siapa pun.
Banyak penyebab kecelakaan pada tiap momen mudik dan kembali ke kota, khususnya yang dialami para pengendara motor. Mungkin saja mereka mengalami kelelahan, baik fisik maupun psikis, setelah mengarungi jarak ratusan kilometer. Boleh jadi mereka dalam kondisi fisik yang tidak betul-betul prima ketika berangkat. Kemungkinan lain: beban berat (istri, anak-anak, dan barang bawaan), yang membuat mereka kesulitan menguasai motor; begitu banyaknya kendaraan di jalan; kurangnya penerangan jalan umum; rusaknya banyak ruas jalan; dan sebagainya.
Namun juga ada data yang menarik. Menurut Kepala Bagian Operasional Korlantas Polri Kombes Bambang Sugeng, mayoritas di antara ribuan korban kecelakaan ternyata tidak memiliki SIM. Tampaknya ada korelasi antara kepemilikan SIM dan jumlah korban kecelakaan.
Khusus menyoroti para pengendara motor, saya kira bukan hal yang asing bahwa karakter pengendara motor di mana pun di negeri ini nyaris serupa: semangat mereka adalah menyalip kendaraan apa pun di depan. Sekecil apa pun peluang untuk menyalip akan mereka manfaatkan, termasuk menyalip dari kiri. Ketika wajib menyalakan lampu di siang hari diberlakukan, lampu yang dinyalakan kebanyakan lampu jauh.
Parahnya, karakter pengendara mobil juga mulai bersaing dengan pemotor: banyak yang mencuri jalan ketika terjadi kemacetan dan perilaku seperti itu menambah parah kemacetan.
Ke depan, banyak hal yang harus dilakukan. Razia pengendara perlu dilakukan lebih ketat. Kalau ada pengendara yang melanggar (tidak punya SIM, kelebihan muatan, dan sebagainya), tindaklah dengan tegas. Sementara itu, kepemilikan SIM pun harus benar-benar melalui tes yang superketat.
Di kalangan pengendara, perlu ditanamkan sungguh-sungguh bahwa kepulangan mudik ke kampung halaman, atau di mana pun kita berkendaraan, adalah kesempatan yang tidak boleh menjadi sia-sia hanya karena kemampuan mengendara yang terbatas, kondisi fisik yang kurang memadai, dan sebagainya.
Dan pemerintah, tentu saja, perlu punya kemauan untuk bekerja keras menyediakan sarana jalan yang representatif dan angkutan massal yang nyaman dan aman. Keledai saja enggan terjerumus di lubang yang sama. Jangan kalah oleh keledai. (*)