Selasa, 23 Desember 2014
Banjarmasin Post

Kejelian Menangkap Peluang Usaha Keripik Siput

Selasa, 11 September 2012 15:37 WITA

Kejelian Menangkap Peluang Usaha Keripik Siput
TRIBUNNEWS/YOGI GUSTAMAN
Para remaja kreatif yang merintis bisnis keripik siput. Insert keripik bekicot (kiri)

BANJARMASINPOST.CO.ID - Inspirasi membuka usaha bisa dari mana saja. Peluang itu ditangkap Kenny Kurniawan (14) dan Kevin (14), yang mengawali bisnis patungan membuat keripik siput (bekicot). Ide ini ia dapat ketika mengikuti kegiatan di sekolahnya, SMP Anugerah Pekerti, Surabaya.

Kala itu, guru mata pelajaran Etika Lingkungan, Bangun Pratomo, meminta Kenny dan Kevin untuk mencari tahu soal siput. Ketika tugas kelar, Bangun membuka pikiran Kenny dan Kevin bahwa binatang siput memiliki khasiat yang sangat tinggi dan baik untuk kesehatan.

Masukan gurunya semakin membuat rasa ingin tahu Kenny dan Kevin semakin besar soal manfaat siput. Keduanya memutuskan mencari manfaat lain dari siput di dunia maya. Setelah mendapat pengetahuan yang cukup, mereka yakin usaha siput cukup menjanjikan.

"Kita berpikir, olahan siput belum banyak orang lakukan. Akhirnya kita memutuskan bisnis olahan siput yang sangat menguntungkan. Apalagi dari segi pesaing sedikit sekali," ujar Kenny Kurniawan, manajer produksi Sipoet Zoen, kepada Tribun, di FX Senayan, Jumat (7/9/2012).

Usaha bersama yang dirintis Kenny dan Kevin dimulai pertengahan 2011. Sebelum memutuskan untuk menjadikan keripik berbahan baku siput, muncul diskusi di antara mereka. Setelah pikir-pikir, mereka memutuskan siput dibuat keripik sekaligus cemilan menyehatkan.

Dengan sabar, mereka berbagi tugas. Kevin dalam usaha ini bertugas sebagai juru masak. Ia mengaku suka sekali memasak karena besar di lingkungan keluarga yang dominan kaum hawa. Di lingkungan ini, Kevin ikut-ikutan belajar masak. Kemampuannya memasak menjadi modal Kevin.

Mengawali proses usaha ini bagi Kevin dan Kenny cukup mengasyikkan. Mereka sampai harus mencari tahu di mana mendapatkan bahan baku siput, cara mengolah, sampai memberikan cita rasa untuk siput. Karena tak mungkin mencari sendiri bahan baku siput, keduanya memutuskan untuk membeli siput yang dioven setengah matang.

"Untuk mengolah siput jadi keripik, harus dikeringkan. Kita memutuskan membeli siput yang setengah matang dioven. Lalu kita goreng sendiri dan langsung dikasih bumbu. Urusan masak memasak langsung saya yang menanganinya. Kalau Kenny pegang marketing," terang Kevin.

Keripik siput pertama olahan Kevin dibuat tanpa bumbu dan masih mempertahankan rasa orisinal. Keduanya memulai pemasaran dengan membawa keripik rasa orisinal ke sekolah. Mereka berdua meminta teman-teman dan guru untuk merasakan keripiki siput rasa orisinal.

Hasilnya, kebanyakan yang merasakan keripik siput orisinal produksi Kevin dan Kenny belum menerima. Keduanya tak putus asa. Justru dari teman-temannya di sekolah, mereka mendapatkan masukan. Tak sedikit dari teman-teman sekolahnya yang mengusulkan diberi bumbu keju biar ada rasanya.

Seusai sekolah, Kevin dan Kenny memutar otak. Mereka sepakat olahan keripik siput harus diberi bumbu. Ide menaburkan bumbu keju masukan dari teman-teman di sekolah ditampik Kevin. Menurutnya, siput sudah memiliki cita rasa tersendiri. Tapi, bumbu rasa keju tidak pas untuk siput.

Kenny langsung mengeluarkan ide, bagaimana jika siput diberi bumbu pedas. Ide ini lalu diterapkan Kevin dan hasilnya diterima banyak orang. Apalagi, teman-teman di sekolahnya suka dengan yang pedas-pedas. Muncullah ide untuk menamakan keripik siput pedas dengan keripik siput balado.

Setelah keripik siput balado banyak peminatnya, sebagai juru masak, Kevin melakukan eksperimen dengan mengolah keripik siputnya dengan rasa barbeque dan rasa lada hitam. Kevin dan Kenny puas setelah keripik mereka ternyata digemari adik kelasnya dan menjadi cemilan paling dicari di sekolahnya.

Berharap bisa diekspor

Usaha Kevin dan Kenny yang usahanya bermodalkan awal Rp 1,5 juta menjadi tak sia-sia. Ketika ada ajang Kidpreneur Award 2012 yang digagas Berani Magz dengan sponsor Permata Bank, keduanya lolos sebagai satu dari 10 tim finalis dari peserta di seluruh Indonesia sebanyak 250 tim.

Kegembiraan mereka makin lengkap setelah dewan juri memutuskan tim Keripik Siput sebagai juara kedua dan mendapat uang tunai Rp 10 juta. Bukan itu saja, tim Keripik Siput juga menjadi juara favorit versi Facebook dengan memperoleh hasil polling tertinggi. Untuk juara favorit, mereka mendapat Rp 1 juta.

Menurut panitia, penilaian mereka untuk gelar ini ditentukan dari berapa banyak orang yang mengklik tombol "Like" di foto para finalis. Hingga polling ditutup, sebanyak 1.415 orang telah memilih tim Kripik Siput ini. "Waktu itu kita berpikir juaranya cuma sekali, juara favorit," ungkap Kevin.

Salah satu nilai lebih tim ini, menurut salah satu dewan juri, adalah kemampuan mereka memaparkan produknya di depan khalayak umum. Mereka terlihat komunikatif dan luwes memasarkan produknya. Ditambah, mereka terlihat percaya diri tanpa canggung sedikit pun.

Selama menjalani usaha keripik siput, Kevin dan Kenny mengaku tidak kesulitan untuk pemasarannya. Mereka berdua menerapkan strategi lips marketing, pemasaran dari mulut ke mulut. Hasilnya luar biasa. Keripik yang mereka titipkan di kantin sekolah banyak digemari teman-teman.

Menurut Kenny, modal pertama sebesar Rp 1,5 juta sudah kembali. Modal itu awalnya dipinjam dari orangtua Kevin dan Kenny. Masing-masing patungan Rp 750.000. Untuk mengirit ongkos produksi, pertama kali mereka masih menggunakan kompor dan penggorengan milik orangtua mereka.

"Tapi sekarang modal yang kita pinjam sudah kita kembalikan kepada orangtua kita. Karena maju, kita juga sudah memiliki sendiri peralatan produksi, seperti kompor, penggorengan, sampai untuk packing produk," terang Kenny sambil menambahkan bahwa usaha patungan ini mendapat dukungan keluarga.

Lewat usahanya, Kevin dan Kenny sudah membangun harapan bahwa produk keripik siputnya kelak dapat diekspor. Modal untuk itu terbuka setelah keduanya mendapat pengalaman berharga kala karantina di ajang Kidpreneur Award 2012. "Kan kita sudah dapat masukan dari kakak-kakak pengusaha," terang Kenny.

Presiden Direktur Berani Magz, H Witdarmono, menilai anak-anak yang menjadi finalis Kidpreneur Award 2012 sudah mengenal uang, tetapi tidak untuk menjadi materialistis. Pelajaran terpenting yang bisa diambil bahwa mereka tahu perencanaan untuk berwiraswasta. "Mereka berani mengambil risiko dan mereka ingin menjadi besar sekaligus berjiwa sosial," ungkapnya.
Editor: Halmien
Sumber: Kompas.com

TRIBUNnews.com © 2014

About Us

Help

Atas