Bandul Bernama Angie

Sabtu, 15 September 2012 | 01:30 Wita A- A A+ Dibaca: 301 kali

SELINTAS tentu tidak ada kaitannya antara anggota DPR yang kini menjadi terdakwa kasus dugaan suap proyek di Kemenpora dan Kemendikbud, Angelina Sondakh (Angie) dan ilmu fisika. Selain sebagai legislator, mantan artis itu adalah single parents bagi tiga anak setelah meninggalnya sang suami, Aji Massaid.

Dia memang tidak lagi elite partai penguasa, Partai Demokrat (PD). Namun, sebagai mantan wakil sekjen partai yang didirikan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Angie tetap memiliki pengaruh di partainya.

Sedikit banyak dia masih mengetahui ‘jerohan’ partai. Dugaan borok partai pun, pasti diketahuinya. Apalagi pada kasus yang menjerat Angie itu diduga keras melibatkan banyak politisi, bahkan elite partainya.

Di DPR, Angie juga bukan sosok legislator yang pasif. Dia pernah menjadi anggota Badan Anggaran (Banggar) mewakili fraksinya. Di DPR, bahkan di tata pemerintahan negara ini, Banggar memiliki posisi sangat strategis. Segala tetek bengek pembiayaan yang mengandung unsur kas negara --dibiayai anggaran pendapatan belanja negara (APBN)-- harus mendapat persetujuan Banggar.

Dengan mengatasnamakan kepentingan rakyat, Banggar bak lembaga penentu. Banggar seakan bisa mengatur besaran dan proyek atau daerah yang menurut mereka layak dibantu menggunakan uang rakyat.

Dalam kasus yang menjerat Angie misalnya. Secara misterius, anggaran proyek wisma atlet di Palembang, Sumsel, bisa naik berlipat-lipat.

Menurut Muhammad Nazaruddin yang juga mantan elite PD, persetujuan kenaikan anggaran itu tidak gratis. Konon ada patgulipat atau kongkalikong yang ujung-ujungnya duit untuk pimpinan dan anggota Banggar. Kebetulan, grup perusahaan milik Nazaruddin yang mendapat proyek tersebut. Pria yang berstatus terpidana itu terus memasok informasi tentang dugaan permainan di tubuh Banggar, termasuk yang melibatkan Angie.

Angie yang pernah terpilih sebagai Putri Indonesia 2001 itu bagaikan bandul yang terus bergerak. Hukum fisika menyatakan: benda yang bergerak cenderung terus bergerak sampai gaya-gaya (kekuatan) lain menghentikannya.

Kekuatan benda bernama Angie kian kuat karena dia berada pada waktu yang tepat untuk membongkar segala praktik menyimpang di institusinya, bahkan institusi lain.

Seandainya Angie bersedia kooperatif dan berani membuka deal-deal yang melibatkan politisi dalam permainan anggaran proyek, tentu dia layak mendapat acungan jempol. Bola es yang digelindingkannya tentu akan terus membesar dan menerjang segala ‘kotoran’ di depannya.

Kembali ke hukum fisika tadi, untuk menghentikan gerak sebuah benda harus ada gaya (kekuatan) lain. Mengacu dari itu, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) yang menangani kasus itu, harus kian intensif menguak dugaan pesta proyek yang menggunakan uang rakyat.     Tindakan memeriksa pimpinan dan anggota Banggar yang diduga terlibat kasus itu, juga bisa disebut sebagai kekuatan yang diharapkan bisa menghentikan gerak ‘bandul’ bernama Angie.

Apakah upaya itu berhasil? Waktu yang akan menjawab. Ada tiga kemungkinan yang terjadi. Pertama, bandul Angie kian kencang bergerak. Kedua, bandul itu bergerak tetapi pelan. Ketiga, bandul tidak bergerak sama sekali.

Harapan kita, masyarakat, bandul itu terus bergerak kencang. Angie harus berani mengungkapkan kebobrokan negara ini agar bisa ditemukan solusi yang tepat. Ibarat kapal, negara ini nyaris karam karena banyaknya lubang akibat gerusan praktik korupsi.

Memang, jika Angie berani melakukan itu, imbas ke lembaga DPR dan partainya sangat besar. Bahkan, bisa jadi berdampak pula pada pemerintah yang saat ini berkuasa. Di sisi lain, keberanian itu juga rentan dipolitisi.

Akan tetapi, sebaiknya Angie melihatnya untuk kepentingan yang lebih besar: menyelamatkan negara yang penuh lubang oleh kian maraknya praktik korupsi. Semoga. (*)

  • Editor: Dheny
  • Sumber: Banjarmasin Post Edisi Cetak
  • Jalan Sehat Bersama Suaka Ananda

    Polling