• Tribun Network
  • Login
  •  
  •  
  • Tribun JualBeli
Minggu, 26 Oktober 2014
Banjarmasin Post

Menyusuri Keindahan Pulau Nias

Sabtu, 13 Oktober 2012 17:18 WITA
BANJARMASINPOST.CO.ID - Pulau Nias terletak di Samudra Hindia, sebelah barat Pulau Sumatera. Pulau indah dan mengagumkan ini dikelilingi sekitar 27 pulau kecil di mana baru 11 pulau di antaranya yang sudah berpenghuni, termasuk Pulau Nias, Pulau Simeuleu, Pulau Mentawai, dan Pulau Enggano. Lokasi persis Pulau Nias berada sekitar 125 km dari pantai barat Sumatera.

Memiliki luas sekitar 5.000 km persegi, Pulau Nias merupakan yang terbesar di antara pulau-pulau di sekitarnya. Gunungsitoli adalah ibu kota Nias di mana di sini tersedia fasilitas bagi Anda yang ingin menjelajahi kemegahan alam dan budaya Nias. Di kota ini pula ada Museum Pusaka Nias yang menyimpan sekira 6.500 koleksi benda budaya peninggalan masyarakat Nias.

Pulau sepanjang 130 km dengan lebar 45 km ini seolah terasing keberadaannya. Hanya sedikit kapal dagang berlabuh di pulau ini karena memang dilarang. Pihak berwenang akan segera memerintahkan kapal dagang yang mendekat untuk membelok ke pelabuhan di Padang atau ke pelabuhan di Bengkulu. Oleh karena itu, berkunjung ke Nias serasa menelusuri kehidupan masa lalu, di sana waktu seakan berhenti dengan budaya dan tradisi yang masih bertahan lestari.

Penduduk Pulau Nias tersebar di sekitar 650 desa, tetapi banyak dari desa-desa tersebut termasuk sulit dapat dijangkau melalui darat karena medannya yang berat. Upaya pembangunan infrastruktur di kawasan ini harus berhadapan dengan bentuk permukaan tanah yang labil. Jalanan yang baru dibangun biasanya hanya akan berumur pendek karena tanah selalu melesak ke bawah.

Pulau Nias dihuni masyarakat yang hidup mandiri sejak berabad-abad yang lalu. Kebudayaan mereka yang masih terjaga keasliannya dari pengaruh luar telah memikat wisatawan mana pun yang menyambanginya. Dalam bahasa setempat, orang Nias menamakan diri mereka sebagai ono niha, di mana ono artinya anak atau keturunan, sedangkan kata niha memiliki arti manusia. Pulau Nias kadang disebut juga sebagai tanö niha, di mana kata tanö bermakna tanah.

Nias terkenal di dunia dengan budaya batu dan selancarnya. Salah satu yang tersohor dari atraksi budaya batu ini adalah lompat batu, yaitu pemuda lokal setempat melompati sebuah dinding batu setinggi 2 meter.

Sebagai lokasi selancar dunia, Pulau Nias sebanding dengan Hawaii dengan kepemilikan ombak besar yang memikat pehobinya. Pulau Nias juga sempat menjadi tuan rumah Indonesian Open Surfing Championship yang berlokasi di Pantai Lagundri.

Fahombe atau tradisi lompat batu di Pulau Nias lahir dari kebiasaan berperang antardesa masyarakat Pulau Nias. Tradisi tersebut dahulu dikhususkan sebagai persiapan perang di mana setiap desa biasanya membentengi diri dengan pagar bambu setinggi 2 meter sehingga para pria desa dilatih untuk bisa melompati pagar tersebut melalui latihan melompati batu. Ini juga sekaligus sebagai sarana uji keberanian dan kedewasaan seorang anak laki-laki di Pulau Nias.

Nias merupakan tanah kuno. Tidak ada yang tahu persis sudah berapa lama masyarakat aslinya hidup di sini. Menurut legenda setempat, kehidupan di Pulau Nias berasal dari Sungai Gomo di mana menjadi mula keturunan 6 dewa dan peradaban manusia.

Oleh karena itu, masyarakat Nias menyebut diri mereka ono niha atau anak masyarakat. Persebaran masyarakat dimulai dari Nias Tengah kemudian berpindah ke utara dan selatan dengan mengembangkan bahasa, adat istiadat, dan seninya masing-masing. Diperkirakan manusia di Pulau Nias sudah ada sejak 30.000 tahun lampau.

Secara tradisional, desa-desa di Pulau Nias dipimpin kepala desa yang memimpin dewan sesepuh. Di Nias masih banyak terdapat desa-desa adat di mana yang menonjol dari desa-desa adat itu adalah penataan arsitekturnya, baik lanskap maupun bangunannya. Dulunya setiap desa dipimpin oleh seorang raja.

Masyarakat Nias menganut sistem hierarki dengan kasta tertinggi yang ditempati bangsawan, diikuti masyarakat biasa. Suku Nias menerapkan sistem marga mengikuti garis ayah (patrilineal). Marga-marga umumnya berasal dari kampung-kampung permukiman yang ada.

Suku Nias mengenal sistem kasta (12 tingkatan kasta) di mana tingkatan kasta tertinggi adalah balugu. Untuk mencapai tingkatan ini, seseorang harus mampu melakukan pesta besar dengan mengundang ribuan orang dan menyembelih ribuan ekor ternak babi dalam pesta selama berhari-hari.

Masyarakat Nias memiliki karakter keras dan kuat yang diwarisi dari budaya pejuang perang. Oleh karena itu, masyarakat dan budaya Nias sampai saat ini mampu bertahan dari serbuan budaya asing. Budaya pejuang Nias telah berlangsung selama berabad-abad ketika desa-desa di sini mendeklarasikan perang satu sama lain. Dahulu peperangan antardesa atau antarsuku berlangsung karena terprovokasi oleh rasa dendam atau masalah perbudakan.

Selain lekat dengan budaya pejuang, masyarakat Nias juga sekaligus masyarakat petani. Mereka menanam ubi, jagung, dan talas untuk memenui kebutuhan hidupnya. Hewan babi, selain menjadi hewan ternak, juga menunjukkan status seseorang karena semakin banyak seseorang memiliki babi maka semakin tinggi pula kedudukannya dalam masyarakat desa.

Pulau Nias bukan tanpa catatan sejarah karena sesungguhnya pulau mengagumkan ini pernah masuk dalam catatan pedagang China, Portugis, dan Arab. Dahulu Pulau Nias dikenal sebagai asal diperolehnya para budak yang kemudian diperjualbelikan oleh Kerajaan Aceh, pedagang Portugis, dan pedagang Belanda. Bahkan, hingga abad ke-19 Nias masih dikenal dunia luar sebagai lokasi perdagangan budak.

Pemerintah Hindia Belanda menguasai Pulai Nias tahun 1825. Meskipun sebenarnya sebelum itu pulau ini telah berhubungan dengan dunia luar, kebudayaan tradisional tetap utuh secara menakjubkan.

Sumber : www.indonesia.travel
Editor: Syamsudin
Sumber: Kompas.com
Bagi apa yang Anda baca dengan teman Anda.
  | Social:    ON Social:    OFF | Option
0 KOMENTAR
46102 articles 13 0
Loading...
Sebelum memberikan komentar, silahkan login menggunakan
TERBARU
TERBARU
TERLAMA
TERKOMENTARI
TRIBUNnews.com © 2014 About Us Help
Atas