Minggu, 28 Desember 2014
Banjarmasin Post

Asiah Jadi Korban demi Anak

Kamis, 3 Januari 2013 06:24 WITA

Asiah Jadi Korban demi Anak
ibrahim/bpost online
Warga ramai ramai melihat lokasi insiden jembatan putus di Desa Baringin A dan B Kecamatan Margasari Kabupaten Tapin, Kalimantan Selatan, Selasa (1/1/2013).
* Pemprov Kalsel Kirim Tim ke Jembatan Baringin

BANJARMASINPOST.CO.ID, RANTAU
- Penemuan jenazah Masitah, mengakhiri pencarian korban runtuhnya jembatan gantung Baringin, Desa Magarsari, Candi Laras, Tapin. Jenazah Masitah melengkapi jumlah korban tewas menjadi dua orang, setelah jenazah Asiah ditemukan di dalam sungai.

Kesedihan sangat tergambar di wajah Ibunda Masitah, Halimah saat ditemui BPost, Rabu (2/1). Dia mengaku dua hari sebelum kejadian nahas sesuai perayaan pergantian tahun itu, melewati jembatan itu bersama suami dan Masitah.

Saat mereka berada di tengah jembatan, Masitah mengajak orangtuanya berhenti. Siswi kelas dua MAN 3 Rantau itu lantas mengatakan, seandainya jembatan itu runtuh, mereka bisa meningggal karena masuk ke sungai.

“Kalimat itu masih saya ingat sekali. Dia juga memindahkan pigura bertuliskan nama dan tanggal lahirnya dari kamar ke ruang tamu. Dia anak yang baik, juga cerdas karena rata-rata di rangking dua di sekolahnya,” kata Halimah.

Nestapa juga dirasakan suami Asiah, Masdi. Dia kini harus menjadi single parent dengan lima anak. Yang terkecil baru berusia 7 tahun. Dia meninggal karena kepalanya tertimpa kayu ulin rangka jembatan saat menyelamatkan anak. “Anak selamat namun istri saya meninggal dunia,” ucap dia.

Selasa (1/1) dini hari, jembatan gantung yang menghubungkan Kampung Baringin A dan Baringin B runtuh.

Diduga jembatan yang dibangun Kementerian Pekerjaan Umum (PU) pada 1996 itu tidak mampu menahan beban puluhan orang dan sepeda motor yang berada di atasnya. Apalagi sejak dibangun, jembatan itu tidak pernah mengalami perawatan atau perbaikan.

Menyikapi musibah itu, Pemprov Kalsel melalui Dinas PU langsung mengirim tim untuk mengecek jembatan itu dan dua jembatan lain yang dibangun secara bersamaan.

“Pada 1996, dibangun tiga jembatan yang dibangun. Selain jembatan di Baringin, juga dua jembatan di Loksado, HSS. Kami akan mengingatkan pemkab untuk rajin menyosialisasikan kekuatan jembatan, apalagi ada beban tetap,” kata Kepala Dinas PU Kalsel, Martinus.

Dia kembali menegaskan jembatan jenis gantung tidak termasuk daftar aset pemprov. Yang masuk adalah jembatan berbahan kayu ulin, beton, dan bentang panjang seperti Jembatan Barito, Jembatan Rumpiang, dan Jembatan Basirih. “Jumlahnya ribuan dan rutin dilakukan pemeliharaan,” tegas dia.

Gubernur Kalsel H Rudy Ariffin mengaku telah meminta Dinas PU Kalsel berkoordinasi dengan Balai Besar Jalan Nasional Wilayah VII dan Dinas PU Tapin untuk segera mencari solusi pascaruntuhnya jembatan.

Dia menilai musibah itu menjadi pelajaran untuk bersama-sama melakukan pengecekan jembatan. Perlu ada pemeriksaan rutin untuk mengetahui kondisi fisik jembatan. “Apalagi jika jembatan itu memiliki fungsi yang sangat vital,” ucapnya.

Mengenai penegasan pemprov, bahwa jembatan Baringin milik pemkabnya, Bupati Tapin H Idis Nurdin Halidi, enggan mengomentari.

“Kami tidak ingin memperdebatkan masalah itu. Yang penting sekarang secepatnya membantu korban jiwa, menyediakan kapal feri mengatasi keterisolasian dan merencanakan perbaikan jembatan,” katanya di sela-sela mengunjungi keluarga korban.

Berdasar data Pemkab Tapin, sebanyak 1.833 warga sekitar yang memanfaatkan jembatan itu, terpaksa harus kembali menggunakan jukung milik pribadi atau jasa jukung.

Kondisi itu  membuat warga yang ‘menyewakan’ jukung panen rezeki. Mereka menerapkan tarip Rp 1.000 untuk per orang yang hendak menyeberang. Sedangkan sepeda motor, tarifnya beragam, antara Rp 5 ribu hingga Rp 10 ribu. (him/has)
Editor: Edibpost

TRIBUNnews.com © 2014

About Us

Help

Atas