Sabtu, 7 Maret 2015

Asiah Jadi Korban demi Anak

Kamis, 3 Januari 2013 06:24 WITA

Asiah Jadi Korban demi Anak
ibrahim/bpost online
Warga ramai ramai melihat lokasi insiden jembatan putus di Desa Baringin A dan B Kecamatan Margasari Kabupaten Tapin, Kalimantan Selatan, Selasa (1/1/2013).

BANJARMASINPOST.CO.ID, RANTAU - Penemuan jenazah Masitah, mengakhiri pencarian korban runtuhnya jembatan gantung Baringin, Desa Magarsari, Candi Laras, Tapin. Jenazah Masitah melengkapi jumlah korban tewas menjadi dua orang, setelah jenazah Asiah ditemukan di dalam sungai.

Kesedihan sangat tergambar di wajah Ibunda Masitah, Halimah saat ditemui BPost, Rabu (2/1). Dia mengaku dua hari sebelum kejadian nahas sesuai perayaan pergantian tahun itu, melewati jembatan itu bersama suami dan Masitah.

Saat mereka berada di tengah jembatan, Masitah mengajak orangtuanya berhenti. Siswi kelas dua MAN 3 Rantau itu lantas mengatakan, seandainya jembatan itu runtuh, mereka bisa meningggal karena masuk ke sungai.

“Kalimat itu masih saya ingat sekali. Dia juga memindahkan pigura bertuliskan nama dan tanggal lahirnya dari kamar ke ruang tamu. Dia anak yang baik, juga cerdas karena rata-rata di rangking dua di sekolahnya,” kata Halimah.

Nestapa juga dirasakan suami Asiah, Masdi. Dia kini harus menjadi single parent dengan lima anak. Yang terkecil baru berusia 7 tahun. Dia meninggal karena kepalanya tertimpa kayu ulin rangka jembatan saat menyelamatkan anak. “Anak selamat namun istri saya meninggal dunia,” ucap dia.

Selasa (1/1) dini hari, jembatan gantung yang menghubungkan Kampung Baringin A dan Baringin B runtuh.

Diduga jembatan yang dibangun Kementerian Pekerjaan Umum (PU) pada 1996 itu tidak mampu menahan beban puluhan orang dan sepeda motor yang berada di atasnya. Apalagi sejak dibangun, jembatan itu tidak pernah mengalami perawatan atau perbaikan.

Halaman123
Editor: Edibpost
KOMENTAR

TRIBUNnews.com © 2015

About Us

Help

Atas