Kramat Tunggak Dulu dan Kini

Negeri ini tak hanya terkenal dengan keindahan dan kekayaan alamnya, tetapi juga bisnis prostitusi yang hampir ada di seluruh kota di dunia dan Indonesia.

Negeri ini tak hanya terkenal dengan keindahan dan kekayaan alamnya, tetapi juga bisnis prostitusi yang hampir ada di seluruh kota di dunia dan Indonesia.

Beberapa yang terkenal seperti Kramat Tunggak Jakarta, Dolly Surabaya, Sarkem Yogyakarta, Saritem Bandung dan sebagainya. Bisnis ini seolah tidak ada matinya, sebab ada supply pasti ada demand.

Banyaknya penyakit berbahaya termasuk AIDS yang mengancam perempuan dan pria penikmatnya, tak juga membuat orang takut dan menjauhinya. Bahkan dicari antisipasi melalui kondomisasi. Meniadakan lokasi bisnis ini sebenarnya bukan mustahil.

Kramat Tunggak (KT) misalnya, meskipun menjadi lokasi prostitusi terbesar dan terkenal di Asia Tenggara, dengan tekad kuat dan kesungguhan, ternyata bisa diatasi. Kini KT sudah berubah total, mulanya sebagai poros maksiat, kini jadi tempat mengaji, asalnya pusat kegiatan haram jadah, kini menjadi hamparan sajadah.

Eks lokasi KT telah disulap menjadi Masjid Jakarta Islamic Center (JIC), yang kebesaran dan kemegahannya hanya sedikit di bawah Istiqlal. Ruang induk masjid yang tanpa tiang tengah ini mampu menampung hingga 15 ribu jamaah. Ternyata di dunia ini tidak ada yang mustahil.

Jasa Bang Yos
Perubahan spektakuler KT menjadi JIC memiliki cerita panjang. Prosesnya tak bisa dilepaskan dari jasa Sutiyoso, Gubernur DKI dua periode sebelum Fauzi Bowo. Di hadapan peserta Forum Islamic Center se Indonesia, Sutiyoso menceritakan kronologi gerakan perubahan di sekitar KT.

Ringkasnya, di tahun 1970-an KT direlokasi oleh Gubernur DKI Ali Sadikin. Tujuannya agar sambil dibina para WTS/PSK tidak berkeliaran di sudut-sudut kota Jakarta seperti Bina Ria, Volker dan Ancol. Mereka ditempatkan di KT Jakarta Utara, yang semula masih sepi dan jauh dari keramaian ibukota.

Mulanya PSK dan mucikari yang beroperasi relatif sedikit, tapi kemudian berkembang pesat. Dari ratusan PSK berkembang jadi hampir 2.000 dengan 3.546 kamar tidur, dari luasan tiga hektare menjadi lebih 10 hektar. Hal ini karena KT merupakan lokasi WTS kelas menengah bawah yang murah meriah.

Banyaknya kaum urban yang terdampar di ibukota dan relatif dekatnya lokasi dengan Pelabuhan Tanjung Priok, sehingga penikmatnya juga banyak orang kapal dan orang asing, menjadikan perkembangan KT makin pesat.

Silih berganti Gubernur DKI, dan kerasnya desakan warga Betawi termasuk ulama dan habaib agar lokasi ini ditutup karena makin meresahkan dan menimbulkan penyakit masyarakat, KT tetap bergeming. Banyak yang menolak, tapi banyak pihak juga berkepentingan melanggengkan bisnis ini.

Halaman
12
Ikuti kami di
Editor: Dheny Irwan Saputra
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2016
About Us
Help