Jumat, 19 Desember 2014
Banjarmasin Post

Kramat Tunggak Dulu dan Kini

Sabtu, 5 Januari 2013 00:35 WITA

Oleh: Ahmad Barjie B
Ketua II Forum Islamic Center Kalsel

Negeri ini tak hanya terkenal dengan keindahan dan kekayaan alamnya, tetapi juga bisnis prostitusi yang hampir ada di seluruh kota di dunia dan Indonesia.

Beberapa yang terkenal seperti Kramat Tunggak Jakarta, Dolly Surabaya, Sarkem Yogyakarta, Saritem Bandung dan sebagainya. Bisnis ini seolah tidak ada matinya, sebab ada supply pasti ada demand.

Banyaknya penyakit berbahaya termasuk AIDS yang mengancam perempuan dan pria penikmatnya, tak juga membuat orang takut dan menjauhinya. Bahkan dicari antisipasi melalui kondomisasi. Meniadakan lokasi bisnis ini sebenarnya bukan mustahil.

Kramat Tunggak (KT) misalnya, meskipun menjadi lokasi prostitusi terbesar dan terkenal di Asia Tenggara, dengan tekad kuat dan kesungguhan, ternyata bisa diatasi. Kini KT sudah berubah total, mulanya sebagai poros maksiat, kini jadi tempat mengaji, asalnya pusat kegiatan haram jadah, kini menjadi hamparan sajadah.

Eks lokasi KT telah disulap menjadi Masjid Jakarta Islamic Center (JIC), yang kebesaran dan kemegahannya hanya sedikit di bawah Istiqlal. Ruang induk masjid yang tanpa tiang tengah ini mampu menampung hingga 15 ribu jamaah. Ternyata di dunia ini tidak ada yang mustahil.

Jasa Bang Yos
Perubahan spektakuler KT menjadi JIC memiliki cerita panjang. Prosesnya tak bisa dilepaskan dari jasa Sutiyoso, Gubernur DKI dua periode sebelum Fauzi Bowo. Di hadapan peserta Forum Islamic Center se Indonesia, Sutiyoso menceritakan kronologi gerakan perubahan di sekitar KT.

Ringkasnya, di tahun 1970-an KT direlokasi oleh Gubernur DKI Ali Sadikin. Tujuannya agar sambil dibina para WTS/PSK tidak berkeliaran di sudut-sudut kota Jakarta seperti Bina Ria, Volker dan Ancol. Mereka ditempatkan di KT Jakarta Utara, yang semula masih sepi dan jauh dari keramaian ibukota.

Mulanya PSK dan mucikari yang beroperasi relatif sedikit, tapi kemudian berkembang pesat. Dari ratusan PSK berkembang jadi hampir 2.000 dengan 3.546 kamar tidur, dari luasan tiga hektare menjadi lebih 10 hektar. Hal ini karena KT merupakan lokasi WTS kelas menengah bawah yang murah meriah.

Banyaknya kaum urban yang terdampar di ibukota dan relatif dekatnya lokasi dengan Pelabuhan Tanjung Priok, sehingga penikmatnya juga banyak orang kapal dan orang asing, menjadikan perkembangan KT makin pesat.

Silih berganti Gubernur DKI, dan kerasnya desakan warga Betawi termasuk ulama dan habaib agar lokasi ini ditutup karena makin meresahkan dan menimbulkan penyakit masyarakat, KT tetap bergeming. Banyak yang menolak, tapi banyak pihak juga berkepentingan melanggengkan bisnis ini.

Sutiyoso tidak mau termakan mitos bahwa sesuatu tak mungkin berubah. Sejak  menjabat ia mulai merencanakan penutupan KT. Dia rutin mendatangkan ulama dan dai kondang, termasuk alm Zainuddin MZ  untuk memberi pencerahan kepada warga KT. Intinya, bisnis ini sebuah anomali sosial, bahwa sesuatu yang dianggap emergensi dan terpaksa karena berbagai faktor hanya sementara, jangan dilanggengkan dan dilegalkan.

Bersama UI, pihaknya juga melakukan riset, yang hasilnya mengandung pesan warga KT ingin berubah, tak ingin hidup mati dalam gelimang dosa, tapi mereka tak tahu jalan keluarnya. Maka Sutiyoso juga aktif memberi keterampilan kepada sejumlah orang, dari WTS-nya, mucikarinya, tukang parkir, ojek, pedagang asongan sampai premannya yang tak sedikit.

Hingga 1999 ketika warga KT sudah siap berubah, melalui SK Nomor 6285, Sutiyoso menutup resmi KT. Semua WTS dan mucikari disalurkan bekerja sesuai jenis keterampilannya disertai modal usaha, dan para juru parkir ditampung sebagai tukang parkir Pemda DKI.

Eks lokalisasi KT yang mencapai 15 hektar pun dibebaskan. Kini di atas tanah yang dulu tempat orang berpesta maksiat, justru menjadi pusat ibadah, dakwah dan kegiatan keislaman bergengsi di ibukota dan sekitarnya, bahkan sering dijadikan pusat event keagamaan nasional dan internasional.

Banyak Pelajaran
Perubahan KT menjadi JIC mengandung banyak pesan positif. Rehabilitasi dan relokasi WTS, jika tanpa pembinaan ke arah perubahan justru akan membesar. Yang terjadi seolah legitimasi dan legalisasi. Harus ada keberanian membalik keadaan.

Pemerintah sebagai agen utama perubahan harus memiliki tekad kuat dan berada di depan. Betapa pun kerasnya gerakan dakwah, berbuih-buih ulama berceramah, tanpa dukungan penguasa, perbaikan sulit terwujud. Ini mengandung pesan perlunya kerjasama ulama dengan umara. Ulama tak perlu beroposisi kepada umara, kecuali untuk kebaikan.

Bahwa kritik harus diberikan dan disikapi proporsional. Semula Bang Yos dikritik melakukan politik pencitraan bernuansa agama. Dia juga dicurigai akan beroleh duit banyak, sebab eks lokasi yang sudah dibebaskan sangat strategis dan menguntungkan untuk dibangun mal atau pusat bisnis.

Tetapi Bang Yos tidak berpikir ke sana. Bersama ulama, habaib, cendikiawan dan tokoh masyarakat, ia justru berhasil menyulap KT menjadi pusat dakwah yang monumental.  Ini menunjukkan, tak selamanya kritik positif.  Pejabat pemerintah sebagai kekuatan eksekusi harus memiliki sikap dan tegar. Kalau sesuatu memang positif, sudah seharusnya direalisasikan tanpa ragu.

Keinginan perubahan, haruslah disertai solusi. Keberhasilan menyulap KT karena ada solusi alternatif yang disediakan Pemda. Perubahan tak sekadar gagasan top down dari pemerintah dan elit, tetapi juga bottom up, ada keinginan berubah dari masyarakat sendiri melalui proses penyadaran yang intensif dan konsisten tanpa kenal lelah. Mengapa banyak daerah gagal mengatasi WTS liar, premanisme, mengatur PKL, terminal/taksi dan sejenisnya, boleh jadi alternatif solusi tidak ada atau tak memadai.

Keberhasilan Jakarta meniadakan lokasi WTS besar hendaknya menginspirasi daerah lain melakukan hal sama. Kita yakin wanita dan para pihak yang bergelut di dunia begini pasti ingin berubah dan tidak nyaman dengan keadaannya. Keinginan berubah ini harus disambut oleh masyarakat, pemerintah dan para pihak.

Kita jangan hanya mencaci, mengecam dan menyudutkan. Teramat penting mengajak dan mencarikan solusi agar orang bisa keluar dari keterpurukan. Sudah waktunya perubahan dan dakwah solusi dijadikan model pendekatan. (*)
Editor: Dheny

TRIBUNnews.com © 2014

About Us

Help

Atas