Jumat, 21 November 2014
Banjarmasin Post

Hercules Dipaksa Jalan Jongkok

Minggu, 10 Maret 2013 08:06 WITA

Hercules Dipaksa Jalan Jongkok
BERITA KOTA/ANGGA BHAGYA NUGRAHA
Hercules (tengah, jongkok) beserta puluhan anak buahnya digiring oleh aparat ke Polda Metro Jaya, Jakarta Selatan, Jumat (8/3/2013) malam. Mereka ditangkap terkait bentrokan dengan membawa senjata api di kawasan Jalan Lapangan Bola, Srengseng, Kembangan, Jakarta Barat, sore harinya.
BANJARMASINPOST.CO.ID, JAKARTA - Hercules Rozario Marcel, tokoh pemuda Timor Leste di Jakarta, tak berkutik di tangan satuan Brimob. Bersama puluhan anak buahnya, Hercules dipaksa jalan jongkok dengan tangan di atas kepala sejauh puluhan meter.

“Hei, jalan jongkok kamu! Jalan jongkok!” bentak sejumlah personel Brimob kepada Hercules dan puluhan anak buahnya saat dikeler dari gedung Resmob ke Ditreskrimum Polda Metro Jaya berjarak sekitar 40 meter.

Saat ditangkap di Perumahan Kebon Jeruk Indah, Srengseng, Kembangan, Jakarta Barat, Hercules dan 45 anak buahnya tidak berdaya ketika Resmob Polda Metro Jaya dipimpin Kasat Resmob Polda Metro Jaya AKBP Hengky Heryawan datang bersama sekitar 20 anak buahnya. membawa senjata laras panjang.

Hercules dan kelompoknya langsung diperintahkan telungkup dengan tangan ke belakang dan diplakban.

“Herculesnya mana... Hercules mana? Tangkap langsung borgol...  lakban... lakban,” perintah Hengky saat turun dari mobilnya.

Hercules bersama 49 anak buahnya pun resmi ditetapkan sebagai tersangka dan ditahan di Rutan Polda Metro Jaya. Hercules yang juga ketua umum Gerakan Rakyat Indonesia Baru GRIB dituduh melakukan penghasutan terhadap sejumlah orang, melakukan perlawanan terhadap petugas, kepemilikan senjata api, dan pemerasan.

Khusus untuk pemerasan, Hercules dan anak buahnya diduga memeras di beberapa perusahan di Jakarta mencapai ratusan juta hingga miliaran rupiah.

“Dari hasil pemeriksaan 50 orang terbukti melakukan pelanggaran hukum dan kita lakukan penahanan,” kata juru bicara Polda Metro Jaya Kombes Rikwanto di Mapolda Metro Jaya, Sabtu (9/3).  

Rikwanto menjelaskan, dari 51 orang yang ditangkap di kawasan pertokoan Rich Place, Kembangan, Jakarta Barat pada Jumat (8/3) sore, satu orang dilepas karena tidak terbukti terlibat.

Hercules dan M Sidik dikenakan pasal 160 tentang penghasutan dan melawan petugas dan melanggar pasal 214 KUHP. Hercules juga dikenakan UU Darurat nomor 12 tahun 1951 setelah di rumahnya ditemukan senjata jenis FN dengan peluru 27 butir tanpa izin. “Dia juga terkena kasus pemerasan,” ungkap Rikwanto.

Kasat Reskrim Polres Jakarta Barat AKBP Hengki Haryadi menyebut, aksi pemerasan yang dilakukan Hercules dan anak buahnya sudah lama berlangsung. “Korbannya perusahaan, diperas ratusan juta, bahkan miliaran rupiah,” ujarnya.

Kepolisian sebenarnya sudah melakukan pengamanan terhadap tempat-tempat yang dianggap rawan aksi preman. Kelompok Hercules ditangkap lantaran dalam tiga bulan terakhir, polisi banyak mendapatkan informasi dari masyarakat tentang aksi mereka yang menimbulkan ketidaknyamanan.

Menurut Hengki dalam melakukan pemerasan, kelompok Hercules biasanya mendatangi perusahaan-perusahaan dengan kedok uang keamanan sehingga perusahaan tidak akan diganggu kelompoknya. “Mereka mendatangi perusahaan dan meminta sejumlah uang,” bebernya.

Bahkan, sebut Hengki, sampai ada perusahaan yang ditempeli kertas bertuliskan “Dengan memberi kompensasi maka tidak akan diganggu’.

Masih menurut Hengki, di kawasan Cengkareng ada perusahaan yang diperas sebanyak Rp 25 juta yang setelah ditelusuri pelakunya anak buah Herules. “Bahkan ada ratusan juta hingga miliaran,” imbuhnya.

Selama ini tidak ada perusahaan yang berani melapor. Namun beberapa hari lalu, ada satu perusahaan di Kalideres, Jakarta Barat membuat laporan karena tidak tahan dengan ulah pemerasan kelompok Hercules.

Kepolisian pun melakukan apel pasukan di tiga lokasi, termasuk Pertokoan Rich Place di Kembangan Jakarta Barat. Di lokasi tersebut, apel polisi yang dipimpin Kanit Krimum Polres Jakbar AKP Marbun didatangi anak buah Hercules dengan memancing emosi petugas sambil mengacungkan senjata tajam dan menggeber-geber sepeda motor.

Akibatnya, terjadi bentrokan antara polisi dan anak buah Hercules. Polres Jakbar meminta bantuan Resmob Polda Metro Jaya. Mereka akhirnya sukses menangkap 51 orang termasuk Hercules.

Terpisah, Camat Kembangan  Slamet Riyadi mengungkapkan pihaknya belum pernah mendapatkan aduan langsung dari warga terkait aksi premanisme yang dilakukan kelompok Hercules.

Pistol Pindad

Saat melakukan penangkapan, aparat kepolisian dari Polres Jakarta Barat dan Resmob Polda Metro Jaya menyita berbagai jenis barang bukti. Salah satu barang bukti yakni berupa senjata api disita dari Hercules.

“Senjata api milik Hercules berasal dari PT Pindad. Senjata api itu disita dari rumahnya berikut dua buah magazen dan 27 butir pelurui FN,” jelas Kombes Rikwanto.

Polisi menyita sejumlah barang bukti berupa tiga bilah parang, satu buah panah, dua buah anak panah, satu bilah pisau belati, satu pucuk senpi jenis FN, dua buah magazen, satu pucuk senjata api jenis revolver, 27 butir peluru, dan uang tunai Rp 5.900.000 yang diduga hasil pemerasan.

Selain itu, juga disita empat mobil anak buah Hercules dari kawasan Pertokoan Rich Place, Kembangan disaksikan pengacara Hercules.  Dari penggeledahan pada mobil Daihatsu nomor polisi B 1133 UVD silver milik Frankey Hercules ditemukan uang Rp 300 ribu, satu bilah golok, senjata api dengan peluru enam buah, tas beris satu potong kayu, BPKB, handphone, satu kartu bertuliskan intelejen atas nama Frankey, puluhan peluru gotri, empat buah cincin, dua buah batu bulat, pisau dapur, alat pancing, satu senapan angin serta 10 kotak pelurunya, satu tabung gas.

Dari mobil kedua Daihatsu Grand Max tanpa plat nomor ditemukan satu buah samurai dan satu golok. Mobil ke tiga, Suzuki APV Noppol B 1348 SOO tidak ditemukan apa-apa, sedangkan dari mobil ke empat dengan nopol B 2443 GO ditemukan satu sangkur, satu kater, satu buah handphone, satu gunting rumput, dan satu buah petasan.

Ikraman Thalib, kuasa hukum Hercules mengungkapkan pihaknya menghormati proses hukum yang berjalan. “Apa yang dilakukan penyidik kita hargai. Selanjutnya kita serahkan ke proses hukum,” ujarnya.

Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo menyerahkan seluruh permasalahan premanisme yang kini marak di ibu kota kepada aparat keamanan. Jokowi enggan berkomentar terkait penangkapan Ketua Umum Gerakan Rakyat Indonesia Baru (GRIB) Hercules Rosario Marshal.

“Eggak tahu, itu urusan Polda,” ucapnya singkat.Berbeda dengan sikap Wakil Gubernur Basuki Tjahaja Purnama yang terkejut saat mendengar penangkapan Hercules.

Basuki menyerahkan semua keputusan soal Hercules kepada polisi. “Semuanya biar diserahkan ke polisi. Ya, kita tunggu berita acara pemeriksaannya saja,” ujar mantan Bupati Belitung Timur itu.

Bantah Memeras

Beberapa saat setelah ditangkap, Hercules sempat angkat bicara dengan membantah telah melakukan provokasi saat polisi menggelar apel di Ruko PT Tjakra Multi Strategi.

Dikatakan, insiden terjadi ketika dia baru saja pulang kerja. Hercules melihat apel petugas Polres Metro Jakarta Barat di lokasi kejadian. “Sebelum ada apel itu, saya ketemu Pak Kapolsek dan Pak Kasat (Reskrim Polres Jakbar). Saya bilang, ‘Oke, tidak ada masalah’,” ujarnya.

Namun Hercules mengakui sebelumnya sempat bertemu manajemen ruko PT Tjakra Multi Strategi yang disebut bernama Sandra. Dalam pertemuan itu terjadi selisih paham saat Sandra menunjuk-nunjuk dirinya. “Saya bilang, ‘Kamu ngapain atur-atur saya’,” ujar Hercules kepada Sandra.

Hercules pulang kembali ke rumah yang tak jauh dari lokasi. Namun, saat itu dia justru ditangkap oleh polisi. “Tapi saya sudah minta maaf sama Pak Kanit dan Resmob karena sudah marah-marah,” ujar Hercules.

Saat ditanya mengenai adanya pemerasan yang dilakukannya, Hercules membantah. “Tidak ada pemerasan,” tegas Hercules. (tribunnwes/warkota/adi/mal/coz/ded)
Editor: Halmien

TRIBUNnews.com © 2014

About Us

Help

Atas