Pergaulan Bebas
MUSIM dingin, awal 2004. Ketika kami berjalan melewati sisi dalam Kota Amsterdam, isteri saya rupanya melihat sesuatu yang mengundang rasa ingin tahu.
MUSIM dingin, awal 2004. Ketika kami berjalan melewati sisi dalam Kota Amsterdam, isteri saya rupanya melihat sesuatu yang mengundang rasa ingin tahu.
“Apakah wanita setengah telanjang di dalam kaca itu boneka atau orang sungguhan?” selidiknya. “Itu orang sungguhan. Dia adalah pelacur profesional,” kata saya sambil tertawa, sementara isteri saya tampak bingung tak percaya.
Amsterdam memang beda dengan kota-kota lain di Belanda. Kota ini sangat padat, dan penduduknya amat beragam, ditambah ribuan turis yang terus berdatangan dari berbagai penjuru dunia. Selain istana, museum, universitas, kanal, toko dan hotel, di sini tersedia segala macam hiburan, dari yang halal hingga yang haram. Di kawasan ini, bukan hanya pelacuran, narkoba pun dalam batas tertentu dilegalkan.
Sebagai orang Banjar, saya bersyukur Banua kita tidak sebebas Amsterdam. Tetapi akhir-akhir ini, saya mulai khawatir. Bulan lalu, BPost memberitakan adanya bisnis pelacuran secara online di Banjarmasin.
Sebelumnya, koran ini juga pernah menyiarkan foto dua sejoli yang bercumbu mesra di taman kota, di siang bolong. Apakah Banjarmasin, perlahan-lahan mulai mengikuti jejak Amsterdam?
Minggu lalu, wartawan sebuah stasiun TV lokal, menemui saya di kampus, meminta komentar mengenai masalah serupa. Katanya, belakangan ini banyak pasangan di luar nikah yang tertangkap basah di sejumlah hotel melati di Banjarmasin. Banyak di antara yang tertangkap itu adalah pelajar, bahkan masih SMP. Lebih seru lagi, ada yang masuk kamar di sore hari, masih dengan seragam sekolah!
Perilaku mesum itu, tentu bukan hanya ada di hotel-hotel melati. Seorang kawan dari Jakarta, yang menginap di sebuah hotel berbintang di pusat kota Banjarmasin, mengeluh karena berulangkali ditelepon wanita penghibur. Ada pula tamu, seorang cendekiawan Aceh, diinapkan di sebuah hotel di tepi jalan protokol. Esok hari, dia marah-marah karena tengah malam, pintu kamarnya diketuk perempuan nakal.
Kita semua tahu, pergaulan bebas, bukanlah budaya nenek moyang kita, dan jelas bertentangan dengan norma agama. Karena itu, wajar jika banyak orang merasa resah dan marah, mencaci-maki bahkan ingin menghukum berat para pelaku kemesuman itu. Tetapi kalau kita renungkan, sebagian dari para pelaku itu, terutama para remaja pelajar, sebenarnya adalah korban-korban yang perlu dikasihani.
Rumah tangga adalah tempat paling dasar dan utama dalam menanamkan nilai-nilai moral dan agama. Kebanyakan anak-anak yang bergaul bebas biasanya kurang mendapatkan perhatian orangtua di rumah. Orangtua sangat sibuk, akibat terlalu miskin atau terlalu kaya. Bisa pula karena orangtua terlalu longgar sehingga anak dibiarkan bebas, atau sebaliknya, terlalu ketat, sehingga anak memberontak.
Di zaman internet ini, mendidik anak memang makin berat. Boleh dikata, hampir semua pelajar, apalagi mahasiswa,memiliki telepongenggam, yang bisa menyimpan video. Setiap ada razia telepon genggam di sekolah, hampir bisa dipastikan akan ditemukan video-video porno di dalamnya. Kasus di SMK Barabai yang baru lalu, hanyalah permukaan gunung es. Kasus serupa sebenarnya terdapat di banyak sekolah.
Keadaan ini diperparah lagi oleh tuntutan hidup yang makin tinggi. Kini untuk hidup mandiri dan bisa berumah tangga, tidaklah semudah zaman dahulu. Masa pendidikan yang harus ditempuh makin lama, dan setelah sarjana, jarang sekali orang langsung mendapat pekerjaan dengan penghasilan yang cukup untuk berkeluarga. Akibatnya, masa lajang makin panjang, sementara godaan makin merajalela.
Inilah tantangan besar bagi para orangtua, guru, ulama, masyarakat dan pemerintah. Dapatkah agama diajarkan sesuai dengan kebutuhan generasi internet? Bagaimana caranya agar mereka yakin bahwa norma-norma agama amat penting bagi kebahagiaan dan masa depan mereka? Bagaimanapula agar kontrol masyarakat tidak longgar, dan peraturan pemerintah dijalankan sungguh-sungguh?
Jika kita tak peduli dengan semua ini, mungkin kelak Banjarmasin akan sejajar dengan Amsterdam dalam hal kemesuman, tetapi tetap ketinggalan dalam hal kebersihan, keteraturan, kesenian dan keilmuan. Kita memang pandai meniru budaya Barat yang buruk, sedangkan yang baik-baik justru kita abaikan! (*)