A PHP Error was encountered

Severity: 4096

Message: Object of class stdClass could not be converted to string

Filename: controllers/articles.php

Line Number: 107

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Object of class stdClass to string conversion

Filename: controllers/articles.php

Line Number: 107

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Undefined variable: Object

Filename: controllers/articles.php

Line Number: 107

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Trying to get property of non-object

Filename: controllers/articles.php

Line Number: 107

Pak Gurunya Memakai Anting-anting - Banjarmasin Post
  • Tribun Network
  • Login
  •  
  •  
  • Tribun JualBeli
Selasa, 2 September 2014
Banjarmasin Post

Pak Gurunya Memakai Anting-anting

Senin, 18 Maret 2013 07:03 WITA
Pak Gurunya Memakai Anting-anting
net
Ilustrasi
BANJARMASINPOST.CO.ID, MARTAPURA - Aksi foya-foya menggunakan dana tunjangan sertifikasi masih saja terjadi di provinsi ini. Seperti yang ditemukan anggota DPRD Banjar.

Anggota Komisi IV H Djamhari mengaku pernah melihat seorang pria guru yang mengenakan anting-anting emas. Juga sering melihat perempuan guru yang rambutnya dicat warna-warni. Gaya hidup mereka pun ‘gaul’.

“Saya sangat miris melihatnya. Seorang guru kok seperti itu.  Jangan mentang-mentang dapat sertifikasi, terus bisa bergaya,” kata Djamhari yang dulunya kepala sekolah ini di Martapura, kemarin.

Dia mengungkapkan, dia bertemu para guru ‘gaul’ itu saat melakukan kunjungan kerja di Aluhaluh dan Sungaibatang, Martapura Barat.

Ketua Komisi IV DPRD, H Gusti Abdurrahman tidak menampik perubahan perilaku guru, terkait tunjangan sertifikasi yang diperolehnya.

“Sering kami temui yang seperti itu. Banyak dari mereka taraf hidupnya mulai naik. Tapi apakah itu diimbangi dengan mutu pengajaran mereka? Itu yang jadi pertanyaan,” tegasnya.

Meski tidak secara tegas menyalahkan penyimpangan penggunaan tunjangan sertifikasi itu, pria yang biasa disapa Antung Aman itu mengatakan program sertifikasi ditujukan untuk meningkatkan profesionalisme dan kualitas pengajar. Bukan malah untuk memenuhi keperluan pribadi, seperti penampilan fisik.

“Harusnya tunjangan itu untuk membeli laptop atau sesuatu yang bisa membekali dan menambah ilmunya. Bukan malah pamer kemapanan,” tegas dia.

Pengakuan menggunakan tunjangan sertifikasi untuk keperluan pribadi diungkapkan seorang guru berstatus PNS di SMPN di Aluh-aluh. Guru berjenis kelamin pria itu kerap menggunakan dana tunjangan sertifikasi untuk keperluan konsumtif dan berjalan-jalan. Bagi dia, yang terpenting proses belajar mengajar berjalan lancar.

“Tiap triwulan cair dan langsung masuk rekening pribadi. Jadi terserah kami penggunaannya,” ucap dia.

Menyikapi itu, Kepala Dinas Pendidikan Banjar, Gusti Ruspan Noor berjanji menindaklanjuti temuan Komisi IV DPRD.

“Terkait adanya laki-laki guru yang memakai anting-anting dan rambut perempuan guru dicat warna-warni, akan kami cek. Kalau terbukti kami tidak segan-segan memberi teguran. Ini untuk meningkatkan profesi guru,” tegasnya.

Dikatakan Ruspan, program sertifikasi bertujuan meningkatkan kualitas guru. Dengan bantuan dana, diharapkan bisa untuk membeli perlengkapan dan peralatan mengajar sehingga hasil proses belajar mengajar menjadi lebih baik.

“Selain itu, guru bisa lebih fokus. Tidak lagi mencari objekan ke mana-mana. Kalau kami menghendaki agar dana tunjangan itu untuk membeli peralatan IT (informasi teknologi),” kata dia.

Ruspan mengatakan Dinas Pendidikan sebenarnya telah melakukan pemantauan terhadap perilaku para guru di Banjar, pascaprogram sertifikasi. Hasilnya, tidak jauh berbeda dengan temuan Komisi IV DPRD.

“Memang ada kecenderungan sebagian digunakan untuk konsumtif, tetapi tak semua. Sebagian ada juga yang benar-benar untuk peningkatan mutu. Misalnya membeli buku dan laptop untuk profesionalitas mengajar,” ungkapnya.

Dengan berstatus guru besertifikasi, seorang pengajar mendapat tambahan dana tiap bulan, yang dibayar menggunakan sistem rapel. Bahkan bagi guru PNS, besarannya setara gaji pokok.

Selain untuk keperluan konsumtif, laporan khusus koran ini beberapa waktu lalu juga mengungkap beberapa penyimpangan penggunaan tunjangan sertifikasi.

Ada seorang guru rela tidak mengambil beasiswa pendidikan S2 (strata dua) karena ingin tetap mendapat tunjangan sertifikasi.

Dia beralasan, jika mengikuti pendidikan itu, tunjangannya bisa dicabut karena tidak aktif mengajar.

Akan tetapi, usut punya usut, dia bersikap itu karena sudah telanjur membeli mobil menggunakan sistem kredit. Dan, uang yang digunakan untuk mengangsur berasal dari tunjangan sertifikasi.

Lebih parah lagi, karena mendapat tambahan uang, beberapa guru menjadi ‘lupa diri’. Mereka menikah lagi.

Menyikapi penyimpangan-penyimpangan itu Ketua Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRO) Kalsel, H Dahri mengatakan, pada prinsipnya tunjangan profesi memang hak guru yang menerima. Selain itu tidak ada peraturan yang mengharuskan penggunaannya.

Akan tetapi dia mengharapkan tunjangan itu dapat membantu meningkatkan kinerja dan kesejahteraan.

“Dengan guru yang sejahtera diharapkan dapat melaksanakan tugas profesinya secara sepenuh hati tanpa terganggu kesulitan ekonomi rumah tangga. Selain itu, tentunya para guru harus selalu berusaha meningkatkan kualitas profesinya,” katanya. (has/nic)
Editor: Syamsudin
Bagi apa yang Anda baca dengan teman Anda.
  | Social:    ON Social:    OFF | Option
0 KOMENTAR
132672 articles 13 0
Loading...
Sebelum memberikan komentar, silahkan login menggunakan
TERBARU
TERBARU
TERLAMA
TERKOMENTARI
TRIBUNnews.com © 2014 About Us Help
Atas