Minggu, 23 November 2014
Banjarmasin Post

Polisi Vs Warga, 23 Terluka

Minggu, 24 Maret 2013 11:09 WITA

BANJARMASINPOST.CO.ID - Akibat bentrokan antara warga dan anggota Kepolisian Sektor Barumun Tengah, Kabupaten Padang Lawas, Sumatera Utara, Sabtu (23/3/2013), sebanyak 23 orang terluka, 10 di antaranya luka tertembak. Hingga Sabtu malam, para korban masih dirawat di RSUD Padang Sidimpuan dan satu korban lain dilarikan ke RSUP Adam Malik, Medan.

Informasi yang diperoleh Kompas dari berbagai sumber menunjukkan, kerusuhan dipicu penangkapan polisi terhadap tiga warga Aek Buaton, Kecamatan Aek Nabara Barumun, Padang Lawas, Sabtu subuh. Mereka adalah M Siregar, Yahya Siregar, dan Roy Siregar.

Ketiganya dituding menjadi otak sejumlah keributan yang terjadi di Aek Nabara Barumun, seperti penganiayaan pada polisi dan pencurian senjata, sehingga mereka dibawa ke Kepolisian Resor (Polres) Tapanuli Selatan. Mendengar ketiganya ditangkap, ratusan orang mendatangi Polsek Barumun Tengah. Mereka menuntut pembebasan ketiga orang tersebut.

Kepala Bidang Dokumentasi Liputan Kepolisian Daerah (Polda) Sumut Ajun Komisaris Besar MP Nainggolan melaporkan, ada sekitar 80 sepeda motor dan 4 truk warga Aek Buaton yang mendatangi Polsek Barumun Tengah. Massa kemudian melempari kantor polisi dengan batu serta menciduk dan menganiaya Kapolsek Barumun Tengah Ajun Komisaris Sahnun Siregar.

Namun, saat hendak membawa Kapolsek dengan sepeda motor, anggota polisi memperingatkan warga dengan melontarkan tembakan peringatan. Warga tetap tak menggubris sehingga peluru pun dilontarkan polisi ke arah warga.

Pemicu penembakan

Anggota DPRD Kabupaten Padang Lawas, Erwin Pane, yang dihubungi dari Medan, mengatakan, saat polisi mulai menembak yang pertama, strategi warga berubah. ”Para ibu kemudian ditempatkan di posisi depan, sementara bapak-bapak di belakang. Tak tahu siapa pemicunya, tetapi tiba-tiba ada tembakan dan banyak orang yang terkena,” tutur Pane.

Tercatat di antaranya 10 warga terkena tembakan. Ada yang tertembak di dada, perut, punggung, tangan, dan kaki. Korban juga jatuh di kepolisian, yaitu 13 polisi terluka, termasuk Kapolsek Barumun Tengah, Kepala Satuan Serse dan Kriminal Polres Tapanuli Selatan, dan sejumlah perwira polisi lain akibat serangan warga.

Warga yang tertembak adalah Asrian Harahap (31), Kahar Harahap (45), Rustam Nasution (33), Muarasundut (28), Amir Khotip (52), Murni (43), Masdawiyah (46), Asrul Abib (43), Harayan (58), dan Asruk Lubis. Beberapa orang dilaporkan kritis.

Yusuf Nasution, pengacara warga, mengatakan, konflik dipicu kasus tanah ulayat seluas 2.500 hektar di Aek Nabara Barumun yang terjadi sejak 1998. Tanah ulayat itu diduga dikuasai oknum anggota DPRD Padang Lawas. ”Kami menuntut pihak kepolisian bertanggung jawab atas kasus penembakan ini,” tuturnya.

DPRD Padang Lawas juga akan mempertanyakan bagaimana polisi bisa melontarkan peluru ke warga. ”Kami akan meminta penjelasan kepada kepolisian,” ujar Pane.

Koordinator Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras) Sumut Herdensi Adnin mengatakan, konflik tanah adalah persoalan klasik dan akan terus berulang. Seharusnya polisi melihat kasus secara komprehensif. Kontras juga mempertanyakan langkah kepolisian melontarkan peluru kepada warga. Kontras menilai negara alpa melindungi kelompok petani yang rentan terhadap pemodal.
Editor: Syamsudin
Sumber: Kompas.com

TRIBUNnews.com © 2014

About Us

Help

Atas