Saatnya Pengembangan Bandara Syamsudin Noor

Tak dapat dipungkiri bahwa Bandara Syamsudin Noor berperan sebagai gerbang udara di Provinsi Kalimantan Selatan. Peran bandara terbesar se Kalselteng

Tak dapat dipungkiri bahwa Bandara Syamsudin Noor berperan sebagai gerbang udara di Provinsi Kalimantan Selatan. Peran bandara terbesar se Kalselteng ini semakin menjadi penting ketika ditetapkan sebagai bandara Embarkasi Haji melalui Keputusan Presiden RI Nomor 45 Tahun 2003, dimana jamaah haji dari Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah dapat terbang langsung dari Banjarmasin ke Arab Saudi tanpa harus melalui Embarkasi Juanda Surabaya atau Sepinggan Balikpapan.

Peran bandara yang demikian penting namun belum diimbangi dengan infrastruktur fasilitas sisi darat yang memadai. Sebagaimana diberitakan pada harian ini edisi  21 Maret 2013 bahwa PT Angkasa Pura I menyiapkan dana sebesar  Rp 1 triliun guna pengembangan kapasitas terminal Bandara Syamsudin Noor.

Secara teknis kapasitas terminal penumpang Bandara Syamsudin Noor yang memiliki luas 9.943 meter persegi sudah tidak memadai lagi untuk menampung banyaknya jumlah penumpang saat ini.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Kalimantan Selatan tercatat jumlah penumpang di Bandara Syamsudin Noor pada 2010 mencapai 2.610.506 orang. Pada 2011 melonjak menjadi 2.979.598 orang, atau mengalami kenaikan sebesar 14,14 persen.

Dengan asumsi angka pertumbuhan 15 persen maka pada 2012 jumlah penumpang mencapai 3.400.875 orang atau sekitar 3,5 juta orang.

Sesuai Keputusan Menteri Perhubungan No 44 Tahun 2002 tentang Tatanan Kebandarudaraan Nasional, idealnya utilitas penggunaan terminal bandara atau nilai IAP4 (Indikasi Awal Pembangunan, Pendayagunaan, Pengembangan dan Pengoperasian) lebih kecil dari 0,6.

Dengan luas terminal 9.943 meter persegi dan jumlah penumpang sebesar 3,5 juta orang pertahun maka utilitas penggunaan terminal Bandara Syamsudin Noor memiliki nilai IAP4 sebesar 2,46. Artinya tingkat utilitas penggunaan terminal sudah sangat overload  hingga mencapai 246 persen  atau dengan kata lain jumlah penumpang sudah mencapai hampir dua setengah kali lipat dari kapasitas terminal yang tersedia.

Kondisi di atas mengakibatkan rendahnya kualitas pelayanan terhadap penumpang, seiring bertambahnya jumlah penumpang maka ketidaknyamanan semakin dirasakan oleh penumpang. Sempitnya ruang check in, ruang tunggu keberangkatan maupun ruang kedatangan disamping menjadikan penumpang berjubel dan harus berdesak-desakan juga menimbulkan kesan kesemrawutan Bandara Syamsudin Noor.

Demikian juga sempitnya kapasitas lahan yang digunakan untuk parkir kendaraan menyebabkan kesulitan bagi pengantar atau penjemput mencari tempat parkir serta menyebabkan kemacetan kendaraan saat memasuki areal parkir. Tidak berlebihan bila ada kalangan yang mengidentikkan Bandara Syamsudin Noor dengan terminal bus Pulogadung.

Terminal Baru
Mengacu Keputusan Menteri Perhubungan Nomor : SKEP/347/XII/99 tentang Standar Rancang Bangun dan/atau Rekayasa Fasilitas dan Peralatan Bandar Udara, pengembangan terminal bandara dapat dilakukan dengan tiga strategi yaitu strategi pertama dengan menambah luas bangunan secara horizontal ke sisi kiri, kanan atau sisi darat bangunan terminal yang ada.

Halaman
12
Editor: Dheny Irwan Saputra
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved