Cantik Itu...
CANTIK itu mahal. Barangkali banyak orang, khususnya kaum Kartini yang berpendapat demikian. Untuk menjadi cantik,
Bagi perempuan yang menganggap kecantikan merupakan harta berharga, salon adalah tempat menghabiskan waktu paling cocok. Segala macam perawatan ada di sana. Dan mereka kadang tak peduli dengan banyaknya uang yang harus dikeluarkan dari dompet. Asal bisa cantik itu tak masalah.
Perawatan mahal di salon elit, dengan jaminan mutu tinggi tentu tak terjangkau perempuan yang tergabung dalam keluarga ekonomi menengah ke bawah. Jangankan mengunjungi salon, untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari saja kalang kabut. Apalagi bahan bakar minyak (BBM) dan elpiji akan naik. Ah, itu hanya akan menambah derita yang berkepanjangan.
Harga kosmetik mahal tak terjangkau itulah, barangkali, satu celah yang bisa dimanfaatkan oknum-oknum tak bertanggung jawab. Selain, tentunya, banyaknya minat konsumen terhadap barang-barang harga terjangkau walaupun secara kualitas dan efeknya tak memenuhi standar. Masih banyaknya masyarakat yang mengesampingkan urusan kualitas membuat produk kosmetik ilegal menjamur dan beredar luas.
Produk kosmetik ilegal, karena tanpa izin edar, sudah melekat erat dalam kehidupan sehari-hari. Ada oknum dan ada orang yang memerlukannya. Di Bandung, walau Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (BBPOM) Bandung beberapa kali melakukan sweeping, tapi tidak pernah bisa bersih karena memang ada keterikatan antara pemasok dan pemakai.
Namun faktanya, kosmetik ilegal itu juga banyak yang mahal dan bukan hanya merambah urusan kulit luar. Menurut Kepala BPOM RI Lucky S Slamet, bukan hanya kosmetik ilegal, tapi banyak temuan ternyata obat injeksi yang mengandung hormon. “Keinginan tampil cantik dimanfaatkan banyak orang,” jelasnya.
Lucky mengatakan, produk tersebut bukan barang baru di dunia obat-obatan, namun baru untuk produk kosmetik. Injeksi hormon difungsikan untuk meremajakan kulit dan harganya ada yang mencapai Rp 850 ribu. Benar, ternyata bukan puluhan ribu alias mahal juga.
Walau belum ada pengujian mengenai kandungan bahan berbahaya, namun tanpa izin edar tetap saja membahayakan. Apalagi dikhawatirkan ada bahan pemutih yang dilarang, yaitu merkuri. “Produk ini jelas peruntukannya bukan untuk kosmetik,” kata Lucky.
Jika pihak yang bertanggung jawab tak mampu membersihkan agar produk-produk ilegal tersebut tak beredar lagi, maka masyarakat yang harus waspada. Bukan tak mungkin Anda cantik saat ini justru karena kosmetik yang seharusnya tak boleh menempel di kulit pipi Anda.
Maka dari itu, Anda tetap harus menghindari produk-produk yang keberadaannya tidak terjamin. Bukan tak mungkin efeknya akan membuat Anda menyesal seumur hidup. Dan perlu diingat, cantik itu sebenarnya tidak mahal dan tidak perlu memakai kosmetik ilegal.(*)