Model yang Memprihatinkan

SUDAH biasa, terlalu berani atau nekat diiming-iming bayaran besar. Itulah profesi yang dilakoni model amatiran

Tayang:
Editor: Dheny Irwan Saputra
SUDAH biasa, terlalu berani atau nekat diiming-iming bayaran besar. Itulah ‘profesi’ yang dilakoni model amatiran dan pelajar lagi, bersedia difoto dalam pose apapun, sekalipun tanpa pakaian alias semi telanjang. Ini terkuak setelah jadi perbincangan dan menyentak sebagian warga, seiring bermunculan komunitas fotografi di Kalimantan Selatan.

Berdasarkan data pemilik Fotografer.net, Kristupa Saragih, animo penggemar fotografi di Kalsel sangat besar, jumlahnya hampir 4.000 nama. Anggota yang terdata dari berbagai latar belakang sosial dan profesi itu, cukup aktif mengabadikan momen rutin maupun insidentil atau ritual adat tahunan.

Berbeda foto model yang semi bahkan telanjang, termasuk kategori seni atau pornografi; pemilik Fotografi.net tersebut berujar tergantung membuatnya siapa, dipublikasikan di mana dan siapa yang melihat. Banyak parameternya. Seperti wadah yang dia miliki, diatur ketat sebelum mempublikasikan foto.

Lagi pula, wadah bagi penggemar fotografi itu berbasis di Indonesia, sehingga tunduk pada peraturan yang berlaku di negara ini. “Kami ingin menjadi komunitas yang dibanggakan oleh masyarakat Indonesia. Untuk itu, kami harus mengakomodasi semua pihak, meski tidak mungkin bisa memuaskan semua pihak,” ujar pemiliknya.

Demikian pula Ketua South Borneo Photography Community (SBPC), H Nelwan mengatakan sangat tipis perbedaan antara seni dan pornografi. Seharusnya, seorang model berani menegur jika fotografer sudah melenceng dari konsep pemotretan yang disepakati. Meski dibayar, seharusnya model tidak asal mengikuti keinginan fotografer.

Jika ditelusuri kembali makna seni, adalah keahlian membuat karya yang bermutu (dilihat dari segi kehalusan, keindahan dan sebagainya) atau karya yang diciptakan dengan keahlian yang luar biasa, seperti tari, lukisan dan ukiran. Sedangkan pornografi, adalah penggambaran tingkah laku secara erotis dengan lukisan atau tulisan, untuk membangkitkan nafsu berahi.

Sebuah karya --foto misalnya-- dinilai bermutu, bila dihasilkan melalui keahlian tertentu dan luar biasa hasilnya, terutama sudut pandang yang berbeda dari kelaziman atas suatu objek yang sama. Berbeda jika hanya mengandalkan keindahan, apalagi eksploitasi atas objek yang tergolong mengumbar nafsu berahi, sehingga hasilnya pornografi.

Inilah barangkali dampak buruk kebebasan berekspresi, sehingga tidak bisa terkontrol. Lagi-lagi, atas nama seni sehingga mencoreng komunitas fotografer yang menjalankan fungsinya sesuai kode etik. Pornografi tetap menjadi musuh bersama, karena bertentangan dengan ajaran agama dan nilai budaya bangsa Indonesia.

Terhadap adanya kenyataan model amatir yang bersedia difoto setengah telanjang bahkan bugil, asal kenal fotografernya, cocok tarif, lokasi sesuai, bisa menjaga kerahasiaan, suka sama suka dan fotografer tidak sendirian, ini menyentak banyak pihak dan membuat keprihatinan warga yang menjunjung tinggi nilai moral dalam keseharian mereka.

Pertama, orangtua agar memperketat pengawasan terhadap anak-anak mereka. Kedua, guru atau dosen agar memberikan keteladanan dan sanksi yang bersifat mendidik. Ketiga, penegak hukum agar bertindak tegas menertibkan pornografi. Keempat, ulama agar meningkatkan pembinaan umat yang berakhlak atau budi pekerti mulia.

Upaya antisipasi agar generasi penerus bangsa ini tidak teracuni oleh pornografi, sudah semestinya peranserta semua komponen di masyarakat tadi untuk proaktif. Dalam skala besar, perlu terus-menerus dan serius mempersempit ruang gerak  yang jadi ancaman bangsa ini, sehingga tidak sampai kepada sebuah fenomena yang mengakar.

Pastinya, semua lebih giat lagi mendakwahkan betapa berbahayanya ancaman tersebut, karena tidak sesuai norma agama dan nilai-nilai yang dianut mayoritas penduduk di negara ini. Satu hal yang perlu dipertimbangkan, agar mengarah jaminan perlindungan terhadap kepentingan masyarakat secara umum. (*)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved