Aiptu Labora Ngaku Sudah Miskin

Anak dan istri Aiptu Labora Sitorus syok. Kepala rumah tangga mereka ditetapkan sebagai tersangka kasus bisnis ilegal bahan bakar minyak (BBM)

Aiptu Labora Ngaku Sudah Miskin
TRIBUNNEWS/HERUDIN
Anggota Polres Raja Ampat, Papua, Aiptu Labora Sitorus (kiri) saat memberikan penjelasan kepada wartawan di kantor Pembela Kesatuan Tanah Air (Pekat), Jakarta Pusat, Jumat (17/5/2013). Labora Sitorus memberikan keterangan terkait kepemilikan rekening sebesar Rp 1,5 triliun.

Kepada pers di Jakarta, kemarin, anggota Polres Raja Ampat, Papua Barat itu menegaskan ingin segera bisa keluar dari masalah yang membelitnya. Karena itu, dia siap menjalani proses hukum.

Nama Labora melambung sejak menjadi sorotan publik karena transaksi keuangan perbankannya dianggap tidak wajar. Transaksi keuangannya mencapai ratusan miliar rupiah dalam kurun waktu 2007-2012. Bahkan, hingga tahun ini menembus  Rp 1,5 triliun.

Ditambah lagi, kepolisian membongkar dugaan adanya praktik illegal logging dan illegal mining yang dilakukan PT Seno Adi Wijaya dan PT Rotua yang dikelola keluarga Labora. Tidak tanggung-tanggung, puluhan ton BBM dan puluhan kontainer kayu disita kepolisian.

Sebaliknya, Labora merasa tidak ada yang salah terhadap rekening ‘jumbo’ yang dimilikinya. Dia menegaskan uang yang tersimpan di puluhan rekening itu merupakan hasil bisnis perusahaan kayu dan BBM yang dikelola istri dan anggota keluarganya.

“Itu kan usaha istri, tentu usaha saya, jadi rekening disepakati bersama. Saya setuju karena berpikir tidak masalah istri punya usaha,” tegas dia.

Labora membantah memiliki simpanan senilai Rp 1,5 triliun. Justru sebaliknya, ia mengaku kehabisan uang alias miskin setelah seluruh rekening tidak bisa digunakan untuk menerima pemasukan.

“Kalau dibilang, sekarang sudah nggak ada uang. Ya gimana, pengeluaran terus, tapi pemasukan nggak ada. Simpanan saya hanya sekitar Rp 6 miliar,” kata Labora.

Uang tersebut berada di tiga rekening Bank Mandiri, dan satu rekening Bank Papua. Namun, setelah menjadi tersangka, Labora tak bisa lagi menggunakan rekeningnya untuk menerima pemasukan. Sementara itu, dia terus mengeluarkan uang untuk menjalankan bisnisnya.

Usaha yang dikaitkan polisi kepada Labora adalah PT Rotua yang bergerak di bidang kayu dan PT Seno Adi Wijaya di bidang minyak gas.

Kedua perusahaan itu berada di Papua dan dibeli oleh istri Labora, sekitar  sepuluh tahun lalu. Saat itu nilai kedua perusahaan tersebut mencapai miliaran rupiah.

Halaman
12
Ikuti kami di
Editor: Anjar Wulandari
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2016
About Us
Help