Ulama dan Harta Penguasa

Halal-haram adalah norma agama. Ironisnya, sikap tak peduli halal-haram itu kadang justru ditemukan pada

Tayang:
Editor: Dheny Irwan Saputra

Oleh: Mujiburrahman

“APAKAH uang ini halal atau haram?” tanya seorang politisi yang licin bagai belut.

“Halal, Pak. Ini honor resmi, sesuai aturan,” kata yang menyerahkan, yang juga dikenal sebagai ustadz.

“Lalu, uang yang di amplop kedua ini, bagaimana?”

“Kalau yang itu, tergolong syubhat Pak, tak jelas asal usulnya.”

“Kalau tak jelas halal atau haram, anggap halal sajalah,” kata si politisi sambil tertawa.

“Sekarang, amplop ketiga yang paling besar dan banyak isinya ini, bagaimana?” selidik si politisi.

“Yang itu, jelas haram Pak.”

Si politisi terdiam sejenak, lalu berkata: “Bisakah dicarikan dalilnya, agar yang haram ini jadi halal?”

Anekdot di atas menunjukkan bahwa ukuran halal-haram seolah hanya permainan kata tanpa makna. Keserakahan telah membuat manusia mengabaikan tuntunan moral.

Godaan hidup mewah, telah menggelapkan mata manusia dari cahaya kebenaran. Orang tak peduli lagi bahwa harta yang haram akan membawa bencana di dunia ini, lebih-lebih di akhirat kelak.

Halal-haram adalah norma agama. Ironisnya, sikap tak peduli halal-haram itu kadang justru ditemukan pada orang-orang yang sangat memahami agama, dan sering berbicara tentang agama, dari ustadz, tuan guru, pengurus organisasi keagamaan, partai politik berbasis agama hingga pegawai di Kementerian Agama.

Akhirnya, masyarakat jadi sinis. “Tokoh agama saja begitu, apalagi orang biasa,” katanya.

Tentu masih amat banyak tokoh agama yang tulus dan bersih. Tetapi tak dapat dipungkiri pula, satu orang tokoh agama yang rusak moralnya, mungkin lebih berbahaya dari kerusakan puluhan bahkan ratusan orang biasa.

Bukankah mereka adalah teladan dan pegangan bagi masyarakat dalam menghadapi keruntuhan moral saat ini? Kalau mereka rusak, siapa lagi yang bisa dijadikan pegangan?

Inilah beban tanggung jawab yang amat berat, yang dipikul oleh tokoh agama. Masalah ini sebenarnya bukanlah hal baru. Sejak zaman kerajaan dan kesultanan hingga era nasionalisme dan demokrasi modern, para tokoh agama seringkali berhadapan dengan godaan harta haram, yang berasal dari para penguasa. Karena itu, ada baiknya kita menengok ke belakang, becermin pada sejarah.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved