Kardus

Sejak dulu barang ini sangat populer di masyarakat, hanya saja pemakaiannya belum se-massal sekarang. Saat ini tidak ada paking atau pembungkus yang tidak memerlukan kardus, semua pakai mulai makanan, minuman, barang elektronik sampai tempat tidur.

Tayang:
Editor: M Fadli Setia Rahman

SEJAK dulu barang ini sangat populer di masyarakat, hanya saja pemakaiannya belum se-massal sekarang. Saat ini tidak ada paking atau pembungkus yang tidak memerlukan kardus, semua pakai mulai makanan, minuman, barang elektronik sampai tempat tidur.

Semua dibungkus pakai kardus. Untuk ekspor-impor pun minta jasa kardus pula, potongan tubuh yang dimutilasi pun dibungkusnya pakai kardus, bom juga dibawa pakai kardus.

Begitu pentingnya sampai-sampai kardus bekas pun masih dipakai. Lihat saja, hampir separuh bagasi pesawat terbang dibawa pakai kardus bekas. Belum lagi yang pakai kereta api, bus bahkan mobil pribadi.

Kardus-kardus yang sudah tidak bisa dipakai, sudah rusak, nyaris tak berbentuk jangan dibuang karena masih bisa didaur ulang dengan harga masih lumayan. Ada pemulung yang datang untuk membeli, itu kalau tidak keduluan tukang parkir untuk menutup kaca-kaca mobil dan sadel sepeda motor.

Di zaman modern sekarang, di mana orang yang mencari aman memilih transfer uangnya pakai rekening bank, masih ada juga yang memakai jasa kardus.

Nggak percaya? Para terduga koruptor atau penyuap yang tertangkap basah oleh KomisiPemberantasan Korupsi (KPK) rata-rata memakai kardus untuk menyimpan uangnya. Kesannya tak mencurigakan.

Makelar proyek yang banyak bekerja sama dengan Partai Keadilan Sejahtera (PKS)m Ahmad Fathanah -tepergok KPK membawa uang Rp 1 miliar yang diduga untuk Presiden PKS (waktu itu), Luthfi Hasan Ishaaq-- juga menenteng kardus untuk menyimpan uangnya.

Maunya sih dengan kardus orang tidak curiga, tapi karena kasusnya terlalu sering orang pun lebih curiga dengan yang bawa kardus daripada tas buatan luar negeri berharga mahal.

Para anggota DPR yang pernah berurusan dengan KPK sudah sangat akrab dengan kardus bekas. Ketika penggunaan rekening bank masih aman, tidak masalah.

Begitu korupsi mulai santer terdeteksi, transfer pakai rekening ditinggalkan. Orang mulai pakai uang tunai. Caranya agar agar tidak mencurigakan ya pakai kardus, bekas mi instan atau air mineral. Untuk membedakan siapa menerima berapa, cukup ditandai dengan kode-kode atau dengan warna-warna tertentu.

Orang-orang DPR cukup banyak pengalaman soal ini. Menurut Tempo edisi 11-17 Maret 2013, mantan Kepala Korlantas Polri Irjen Pol Djoko Susilo yang kini tersangka korupsi pembelian alat simulator SIM, membayar hampir semua transaksi dari 35 unit properti dan 3 SPBU dengan uang tunai.

Uang dibawa dalam kardus ke bank untuk dikirim sebagai setoran tunai. Para pegawai Ditjen Pajak yang belakangan tertangkap tangan menerima suap menggunakan jasa kardus pula.

***

Nah, dalam kaitan dengan kasus korlantas ini pula ada namaanggota DPR yang kecomot. Mereka sudah dipanggil KPK sebagai saksi, seperti Bambang Susatyo dan Azis Syamsudin (Golkar), Beny K Harman dan M Nazaruddin (Demokrat), Herman Hery (PDIP), bahkan  Anas Urbaningrum dan Saan Mustofa (keduanya teman akrab di Partai Demokrat) juga disebut ikut membicarakan ihwal pembelian alat simulator tadi.

Mereka datang dalam pembahasan anggarannya bersama Irjen Djoko Susilo. Tapi mereka membantah karena pembelian simulator memakai uang non APBN jadi tak mungkin dibahas dewan.

Apapun alasan mereka AKBP Teddy Rusmawan yang menyerahkan uang untuk mereka sudah bersaksi di KPK. Azis Syamsudin mendapat Rp 4 miliar untuk Golkar yang diberikan di tempat parkir, Demokrat Rp 4 miliar diterima Nazaruddin di sebuah hotel, PDIP Rp 2 miliar diantar ke kantor dll.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved