Saweran
Istilah ini bukan dari kata sawer yang terkesan menakutkan karena dalam Bahasa Jawa berarti ular. Tetapi, hari-hari ini saweran bisa jadi bak ular yang sewaktu-waktu “mematuk” wali kota dan calon wali kota Bandung, Dada Rosada dan Edi Siswadi.
Saweran kini sedang bikin tidur kedua pejabat teras di kota kembang itu kurang nyenyak. Kamis, 23 Mei 2013, Dada dan Edisis, panggilan akrab keduanya, menjalani pemeriksaan di kantor Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), sebagai saksi untuk para tersangka dugaan suap hakim Setyabudi Tedjocahyono, untuk memuluskan perkara bantuan sosial Bandung.
Kasus ini terus bergulir. Baik Dada maupun Edisis memang belum mendapat kepastian apakah bersalah atau tidak. Hanya saja, saweran dalam kasus ini masih tidak mengenakkan. Dan, tentu saja keduanya berharap heboh saweran tersebut berakhir dalam arti sebenarnya.
Dalam prosesi perkawinan adat Sunda, saweran semacam doa. Mengutip literatur, pada sesi saweran kedua mempelai dipayungi, sembari diiringi nyanyian Sunda yang berisi petuah, mereka akan melemparkan kepada hadirin berbagai barang sebagai simbol. Barang-barang itu disediakan dalam sebuah bokor. Isinya terdiri dari uang receh, beras, irisan kunyit, permen, dan lipatan daun sirih.
Masing-masing uba rampe itu mempunyai makna. Uang sebagai simbol kemakmuran, beras simbol kesejahteraan, permen menandakan sepahit apapun kehidupan harus selalu diselesaikan dengan manis. Irisan kunyit dimaknai istri harus bisa memasak dan menjadi obat untuk suaminya kelak. Lipatan daun sirih diharapkan menjadi simbol agar dalam membina keluarga tetaplah harum dan bermanfaat seperti daun sirih.
Dalam dunia kesenian masyarakat Bangka Tengah, saweran dimaknai sebagai pembagian rezeki atau kebahagiaan yang diwujudkan dalam bentuk uang. Lain halnya saweran di dunia ronggeng, sinden, dan dangdut yang berarti cara memberi tip kepada penyanyi, penari ronggeng, atau sinden oleh seseorang/penonton karena merasa terhibur. Jadi, ada yang mempersepsikan saweran sebagai “gaya hidup” bahwa semua hal dapat dibeli dengan uang.
Popularitas saweran mengilhami produser Lucki Lukman Hakim untuk memperoduksi film berjudul Cewek Saweran. Film bertemakan remaja ini menampilkan artis Juwita Bahar, Kriss Hatta, Harry Izwan, Djaduk Ferianto, Marwoto Kawer, dan Dyah Arum dengan sutradara Eddie Cahyono. Film yang menceritakan sebuah kisah percintaan yang dibumbui oleh dangdut modern ini rilis perdana pada 3 Maret 2011.
Tahun lalu istilah saweran sempat populer sebagai simbol gerakan rakyat. Berupa penggalangan dana dari rakyat untuk pembangunan pembangunan gedung KPK. Gerakan ini muncul menyusul sikap DPR yang kurang memberi respon rencana pembangunan gedung KPK yang memang sudah mendesak.
Gerakan saweran dalam arti positif bukan hanya di negeri ini. Gerakan yang pantas ditiru para suporter bola lahir di Australia. Sebuah kelompok suporter pendukung Manchester United yang berbasis di negeri kanguru itu menggalang dana untuk membeli kembali Cristiano Ronaldo dari Real Madrid. Gerakan itu terkenal dengan sebutan Bring Ronaldo Home. “Adalah bentuk loyalitas dan dedikasi para fans terhadap MU,” kata Salah seorang juru bicara gerakan tersebut.
Terbaru, saweran mengispirasi peneliti politik Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia Siti Zuhro untuk memutus mata rantai politik uang dan transaksional bisa dilakukan dengan menonjolkan sistem saweran dari konstituen kepada calon anggota legislatif.
“Partai yang bagus adalah menonjolkan kadernya yang bagus sehingga masyarakat mau ikut saweran untuk dana kampanye. Partai yang cerdas akan memilih orang yang mampu meyakinkan masyarakat,” kata Siti Zuhro seusai diskusi bertajuk “Potensi Caleg Artis dan Aktivis Muda di Pemilu 2014” di media center KPU, Jakarta, Maret lalu. (*)