Senin, 26 Januari 2015
Banjarmasin Post

Nasib Guru TIK Bersertifikasi

Senin, 3 Juni 2013 00:37 WITA

Tahun pelajaran 2013/2014 tinggal menunggu bulan dan tentunya para orangtua siswa mengalami kesibukan tersendiri. Kesibukan yang menurut saya menjadi sebuah tradisi yang sulit berubah, tahun pelajaran baru maka selalu diikuti dengan serba baru mulai dari baju hingga sepatu baru. Namun hal itu wajar saja selama itu memang diperlukan bukan sekedar ingin bergaya.

Selain kesibukan para orangtua siswa, sekolah juga mengalami kesibukan lain tentang penerimaan siswa baru, yaitu menyambut kedatangan kurikulum yang penuh kontroversi yaitu kurikulum 2013.

Kurikulum 2013 akan diterapkan secara bertahap dan terbatas, yakni pada kelas I dan kelas IV SD, kelas VII atau kelas I SMP dan kelas X atau kelas I SMA/SMK. Dengan cakupan sasaran penerapan, 2.598 sekolah dasar, 15.629 guru, dan 342.312 siswa. Tingkat SMP 1.521 sekolah lanjutan pertama, 27.403 guru, dan 341.312 siswa. Sedangkan tingkat SMA diterapkan di 1.270 sekolah menengah atas, 5.979 guru, dan 335. 940 siswa. Untuk SMK di 1.021 sekolah menengah kejuruan, 7.102 guru, dan 514.783 siswa.

Kurikulum 2013 ini memang penuh dengan cobaan sebelum anggarannya benar-benar disahkan oleh DPR. Salah satu pemicu besar dari kurikulum 2013 ini adalah hilang mata pelajaran teknologi infomasi komputer (TIK) yang sebenarnya sangat diperlukan di era teknologi seperti ini.

Penuis sampai sekarang belum tahu alasan yang pasti kenapa TIK dihilangkan di kurikulum 2013. Memang pernah berbicara dengan salah seorang narasumber dari Pustekom saat itu bahwa TIK itu wajar dihilangkan karena anak-anak sekarang sudah lahir di era digital jadi tak perlu lagi diajarkan teknologi seperti cara menghidupkan dan mematikan komputer, apa itu word, excel dan powerpoint karena mereka juga bisa bahkan kadang lebih bisa dari gurunya.

Kalau melihat alasan semacam itu bahwa alasan dihilangkan karena siswa sudah bisa maka tentunya mata pelajaran seperti olahraga, agama, Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris tentu juga bisa dihilangkan karena mereka kadang juga bisa.

Seharusnya mata pelajaran TIK itu bukan dihilangkan tapi lebih diberdayakan lagi atau dengan kata lain level pembelajarannya tidak lagi mengenal tapi lebih kepada operasionalnya. Belum lagi masalah, bagaimana kelanjutan guru sertifikasi TIK, mau mengajar apa mereka?

Halaman123
Editor: Dheny
KOMENTAR ANDA

TRIBUNnews.com © 2015

About Us

Help

Atas