Isra & Mikraj

SETIAP tahun, peristiwa Isra dan Mikraj diperingati umat Islam di seluruh dunia. Pemerintah Republik Indonesia menjadikan

Tayang:
Editor: Dheny Irwan Saputra

Oleh: KH Husin Naparin

SETIAP tahun, peristiwa Isra dan Mikraj diperingati umat Islam di seluruh dunia. Pemerintah Republik Indonesia menjadikan sebagai hari besar, jadi hari libur nasional. Dalam peringatan di mana-mana, berbagai tema diusung.

Dalam sepekan ini penulis menghadiri peringatan Isra Mikraj di Kantor Kementerian Agama Kota Banjarmasin mengusung tema: “Mari Kita Tingkatkan Kualitas Kedisiplinan dan Kekhusyuan Beribadah Shalat dengan Mengaplikasikan Dalam Aktivitas Kerja.”

Memang, Isra dan Mikraj adalah peristiwa sarat makna dan pesan. Peringatan dilaksanakan diharapkan dapat meningkatkan keimanan kepada Allah SWT dan kecintaan kepada junjungan Nabi Besar Muhammad SAW, di satu pihak; di pihak lain, umat diharapkan dapat mengambil hikmah dan pelajaran dari peristiwa tersebut untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, lebih-lebih bagi pegawai negeri sipil yang menjadi pelayan masyarakat.

Menarik sekali, Wali Kota Banjarmasin, H Muhiddin dalam sambutan tertulis mengharapkan antara lain melalui peringatan Isra Mikraj dapat: 1). terbentuknya aparatur yang religius dan taat aturan; 2). tumbuhnya semangat kerja yang dilandasi norma-norma agama; 3). adanya kesadaran bahwa bekerja adalah ibadah; 4). terwujudnya pribadi yang bertakwa, bermoral tinggi, terampil, produktif dalam bekerja.

Selain itu; 5). tumbuhnya pikiran positif dan sifat optimis dalam menjalani kehidupan; 6). terciptanya aparatur berjiwa bersih, berwibawa dan disiplin; 7). terwujudnya kinerja yang baik di lingkungan jajaran kantor tempat bekerja.

Ditambahkan, bahwa jika para umara, ulama dan seluruh komponen masyarakat bersatu membangun Kota Banjarmasin, seberat apapun persoalan yang ada akan dapat diatasi bersama. Alangkah positifnya sambutan Walikota Banjarmasin tersebut.

Imam Al-Fakhru Ar-Razi dalam tafsirnya Mafatih Al-Gaib, menyebutkan sebuah  Atsar Sahabi yang mengatakan: “Dunia adalah kebun berhiaskan lima tanaman, yaitu: ilmunya para ulama dan cerdik cendekia, keadilan para pejabat dan penguasa, doa dan ibadahnya ahli ibadah, amanahnya para pedagang dan pemegang kendali ekonomi, dan disiplin serta dedikasinya para pekerja, petugas dan karyawan.”

Sementara Ibnu Mubarak seorang tab’in mensiyalir: “Rusaknya masyarakat memang muncul lewat manusia-manusia terhormat, mereka itu ialah: ulama dan cerdik cendekia, pasukan bersenjata dan alat negara, para ahli ibadah, pedagang dan pemegang kendali ekonomi, dan para petugas dan pekerja.

Ulama dan cerdik cendekia adalah pewaris para nabi, tetapi bila kelompok ini mempermainkan agama dan tergiur harta, masyarakatpun sesat karena tidak ada lagi ikutan dan panutan.

Pasukan bersenjata dan alat negara adalah tentara Tuhan di muka bumi, bila kelompok ini melirik harta dan mabuk sanjungan, bisa jadi musuh angkat bicara dan angkat senjata. Para ahli ibadah adalah bentengnya penghuni bumi, bila kelompok ini silau dunia, kejahatan merebak tanpa dinyana.

Pedagang dan pemegang kendali ekonomi adalah bendahara Tuhan di atas bumi, bila kelompok ini khianat, kejujuran hancur dan bisa jadi korupsi merajalela.

Para petugas dan pekerja adalah pagar keselamatan umat, bila pagar menjadi serigala bagaimana keamanan bisa didapat.” (At-Tafsir Al-Kabir, juz II, hal 182).

Negeri dan negara kita ini dan penghuninya memerlukan:

1. ilmu para cerdik cendekia dan petuah para ulama yang membawa umat kepada kebaikan dan kebenaran, bukan ilmu dan petuah yang justru menyesatkan;

2. Keadilan para pejabat dan penguasa, bukan pejabat dan penguasa yang lihai mengambil kesempatan, yang justru menambah penderitaan rakyat;

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved