Ideologi

Tanggal 1 Juni 2013, hari peringatan lahirnya Pancasila, tak ada getaran apa pun. Semua biasa-biasa, tak ada yang istimewa bahkan acara peringatan tak banyak diketahui rakyat.

Tayang:
Editor: M Fadli Setia Rahman

TANGGAL 1 Juni 2013, hari peringatan lahirnya Pancasila, tak ada getaran apa pun. Semua biasa-biasa, tak ada yang istimewa bahkan acara peringatan tak banyak diketahui rakyat.

Pancasila seolah telah terkubur bersama dengan penggalinya, Bung Karno (mantan Presiden Soekarno). Biasalah ada komentar bernada bangga atau kritis dari pengamat atau anggota DPR. Tapi implementasinya juga nol, hanya basa-basi.

Pancasila sebenarnya sudah kiamat sejak tumbangnya rezim Orde Lama. Munculnya Orde Baru seketika membumihanguskan apa pun yang berbau Soekarno, tak terkecuali Pancasila.

Peringatan lahirnya Pancasila tak ada lagi, diganti dengan Hari Kesaktian Pancasila tiap tanggal 1 Oktober, untuk memperingati keberhasilan Soeharto dalam menumpas Gerakan 30 September.

Naskah Proklamasi yang dibaca tiap peringatan 17 Agustus pun tega-teganya menghapus nama Soekarno sebagai wakil rakyat. Otomatis nama Hatta juga hilang, padahal keduanya dalam naskah tertera sebagai wakil-wakil bangsa Indonesia. Pancasila makin ‘menggelora’ tapi sebagai alat politik belaka, sehingga tidak dipahami sebagai ideologi bangsa.

Ini berbeda sekali saat zaman Soekarno. Pancasila saat itu diresapi oleh berbagai kalangan masyarakat termasuk partai politik. Setiap 1 Juni peringatan lahirnya Pancasila selalu meriah. Orang seperti tidak merasa lelah untuk menempuh perjalanan jauh,  kaki demi ikut merayakan lahirnya Pancasila. Rakyat masih miskin, tapi hatinya kaya.

Selepas rezim Orde Baru sebenarnya banyak orang berharap kehidupan kembali normal, tidak diliputi rasa takut, bebas berpendapat, bebas mendirikan partai politik, kebebasan pers dijamin dll. Pancasila pun ditempatkan kembali pada posisinya, bukan simbol kekuasaan yang dikeramatkan tapi ideologi negara yang menjadi penuntun bangsa.

Tapi semua itu baru mimpi. Yang jelas-jelas sudah didapat barulah kebebasan di segala bidang, sebebas-bebasnya sampai-sampai rakyat yang tidak puas bisa bebas melakukan tindakan anarkistis.

Kalah pilkada bakar toko-toko, buruh yang meminta kenaikan upah memblokir jalan umum, tak puas dengan polisi bakar kantor Polsek atau Polres, menduduki tanah negara minta ganti rugi saat diusir, dijatuhi hukuman penjara tak mau dieksekusi, bikin partai baru tak henti-hentinya, pers bebas memberitakan apa saja tanpa batasan, penyerobotan tanah rakyat marak di mana-mana, korupsi di pemerintahan maupun DPR/DPRD menggila, preman merajalela dll.

Dalam situasi seperti ini ideologi apa yang sesungguhnya menghinggapi bangsa ini? Tak ada nilai Pancasila yang hadir dalam kehidupan kita.

Orang merindukan Pancasila tapi untuk kembali ke sana, nyasarnya sudah terlalu jauh. Tinggal mimpi-mimpi saja.                    

***

Pancasila itu sumber dari segala sumber hukum, falsafah bangsa dan dasar dari segala ideologi. Tapi kehidupan sekarang sudah tidak lagi mencerminkan sila-sila dari lima sila itu.

Sebenarnya masyarakat berharap partai politik sebagai penampung aspirasi rakyat memelopori ‘lahirnya’ kembali Pancasila. Celakanya parpol sekarang juga tidak memiliki ideologi yang tegas menyiratkan Pancasila, baik doktrin maupun perilaku orang-orangnya.

Karena itu kalau ada tuduhan bahwa partai di Indonesia tidak punya ideologi memang benar. Seharusnya yang mempersatukan itu ideologi, tapi partai di Indonesia saat ini tidak lebih dari kumpulan orang-orang yang punya kepentingan sama, untuk diri sendiri dan kelompok.

Mengerahkan massa pun dengan uang. Memang masih ada partai yang memiliki akar kuat di masyarakat, karena faktor historis dan figur pemimpin, tapi oknumnya sama saja.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved