Keprihatinan Kaltim
TAMPAKNYA suara Gubernur Awang Faroek Ishak makin menggila kiprahnya, selalu tampil di hampir
Begitu besar aktivitasnya seolah dia mampu menutup semua pintu dan lubang bagi siapapun selain dirinya untuk secara terus menerus mampu tampil di permukaan dan terus mendorong terjadinya image setter. Di situlah satu di antara sekian banyak keunggulan incumbent (petahana) apabila tampil kembali untuk menjadi calon Gubernur Kaltim 2013-2018.
Misalnya Selasa (11/06), dua aktivitas besar di Samarinda berupa ground breaking pembangunan Sekolah Khusus Olahraga Internasional (SKOI). Gubernur Kaltim Awang Faroek Ishak mengaku gerah dan kecewa melihat kondisi terkini komplek Stadion Utama Palaran di Samarinda Seberang yang terbengkelai. Jalan akses menuju stadion rusak parah dan penuh ilang di sepanjang jalan sehingga mirip hutan.
“Stadion megah seperti ini seperti hutan saja! Jalannya yang rusak parah, di kiri-kanannya dipenuhi rerumputan dan ilalang. Ini ada yang tidak beres dari manajemen pengelolaan Stadion yang sebenarnya fasilitas olahraganya berkelas internasional. Yakin saja kalau saya tanyakan ini ke instansi-instansi terkaitnya, pasti tidak ada yang tahu.”
Pada malam harinya, dia juga mengaku kian memprihatinkan akibat eksploitasi sumber daya alam (SDA) berlebihan di Kaltim.
“Coba Anda terbang di atas bumi Kaltim. Saya sedih melihatnya, karena bumi Kaltim sudah banyak sekali berlubang,” ucapan itu disampaikan ketika menyerahkan Proper Lingkungan kepada perusahaan pertambang di Kaltim.
Satu kecewa dan satunya lagi keprihatinan ditampakan oleh Awang. Untuk menutup kesedihan di kompleks olahraga Palaran, akhirnya gubernur memanfaatkan lokasi itu untuk dijadikan sekolah bertaraf nasional, anggarannya pun cukup luar biasa.
Pembangunan SKOI di area Stadion Palaran, menurut Kepala Dispora Kaltim Sigit Muryono merupakan satu kesatuan dengan Stadion Palaran. Menempati area seluas 17 hektare, bangunan yang dibangun pada tahap permulaan seluas 10 hektare. Anggaran yang dialokasikan Rp 285 miliar dari APBD Kaltim. Selanjutnya akan ditingkatkan menjadi Institut Olahraga Indonesia (IOI).
Awang benar-benar menggenjot dan memanfaatkan setiap momen untuk menebarkan citra sebanyak-banyaknya. Dia rela pontang-panting Samarinda-Balikpapan, untuk menggenjot citranya. Karena di dua wilayah inilah dia harus mendulang suara sebanyak-banyaknya.
Bebannya bukan menyiapkan kemenangan pilgub, melainkan bagaimana merealisasikan percepatan pembangunan untuk Kaltim. Termasuk persoalan yang dia sedihkan bahwa Kaltim bolong-bolong, alamnya dikuras habis untuk pertambangan. Kesedihan dan keprihatinan di ujung masa jabatan.
Awang memanfaatkan benar simpul awal dan simpul akhir untuk menghapus kesan simpul tengah. Di ujung dan akhir digenjot sedemikian rupa agar muncul kesan semua serba sukses dalam memimpin Kaltim.
Di antara banyak sukses dan keberhasilan itu, pesoalan predikat Silpa terbesar di Indonesia, miskin pembangunan infrastruktur menjadi beban besar siapapun yang akan menjadi Gubernur Kaltim 2013-2018. (*)