A PHP Error was encountered

Severity: 4096

Message: Object of class stdClass could not be converted to string

Filename: controllers/articles.php

Line Number: 105

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Object of class stdClass to string conversion

Filename: controllers/articles.php

Line Number: 105

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Undefined variable: Object

Filename: controllers/articles.php

Line Number: 105

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Trying to get property of non-object

Filename: controllers/articles.php

Line Number: 105

Saatnya Petani Membaca Fenomena Iklim - Banjarmasin Post
  • Tribun Network
  • Login
  •  
  •  
  • Tribun JualBeli
Rabu, 30 Juli 2014
Banjarmasin Post

Saatnya Petani Membaca Fenomena Iklim

Sabtu, 15 Juni 2013 00:35 WITA
Oleh: Khairullah
PNS di BMKG Stasiun Klimatologi Banjarbaru

Petani di Kalimantan Selatan apabila melakukan pola tanam cuma dengan cara kebiasaan tanpa melihat keadaan variabilitas iklim akan menimbulkan resiko yang besar pada hasil yang dihasilkan.

Keadaan iklim yang variatif pada suatu tempat dan waktu tertentu seharusnya menuntut petani untuk tanggap dan memahami bentuk permasalahan iklim yang ada. Bagaimana menyusun strategi budidaya atau pola tanam yang menyesuaikan dengan keadaan iklim.

Hal ini disebabkan iklim mempunyai peran yang sangat penting dalam proses budidaya tanaman pangan. Di Indonesia unsur iklim yang paling terasa pengaruhnya ini adalah curah hujan. Apabila curah hujan terlalu tinggi maka dapat menimbulkan bencana banjir, dan sebaliknya bila terlalu rendah justru bisa menimbulkan kekeringan.

Permasalahan utamanya iklim kita adalah fenomena alam yang bersifat tidak dapat diatur. Sehingga solusi yang harus dilakukan adalah bagaimana melakukan penyesuaian dan adaptasi terhadap keadaan tersebut. Terkadang terjadi fenomena iklim di luar kebiasaan.

Fenomena yang di luar kebiasaan seperti ini yang lazimnya kita sebut sebagai anomali iklim. Frekuensi kejadian anomali iklim ini semakin sering terjadi. Sedangkan iklim ekstrem secara gamblang adalah suatu rata-rata sejumlah peristiwa cuaca ekstrem pada periode tertentu, misalnya hujan yang terus-menerus sepanjang musim. Apabila petani di Kalimantan Selatan tidak mampu mengantisipasi hal-hal ini maka akan menyebabkan kerugian.

Terjadinya anomali iklim di antaranya sangat berhubungan erat peristiwa ENSO (El Nino Southern Oscillation) yang terdiri atas dua peristiwa El Nino dan La Nina. Saat peristiwa La Nina terjadi, curah hujan di Kalimantan Selatan akan meningkat daripada normalnya. Sebaliknya saat peristiwa El Nino, curah hujan pada umumnya akan jauh menurun daripada normalnya.

Kalimantan Selatan, pada 2010 terjadi penurunan produksi padi dibandingkan pada 2009, yakni dari 1.957.550 ton menjadi 1.842.091 ton seperti yang dicatat Dinas Pertanian dan Hortikultura Kalimantan Selatan pada 2011.

Adapun penurunan produksi padi secara umum di Kalimantan Selatan disebabkan oleh dampak iklim (musim penghujan yang panjang) dimana petani secara umum tidak bisa tanam serta banyak tanaman padi yang mengalami puso.

Di musim penghujan yang panjang menyebabkan penyakit dan serangan hama tanaman padi juga meningkat. Fenomena ini terkait erat dengan La Nina pada 2010 yang menyebabkan musim hujan menjadi lebih panjang dari pada biasanya bahkan nyaris tak ada musim kemarau atau kemarau basah.

Seringnya terjadi cuaca yang ekstrem di Kalimantan Selatan juga harus jadi perhatian. Masih belum lepas di ingatan kita pada 9 dan 10 April 2013 terjadi hujan sangat lebat melanda sebagian besar kawasan Kalimantan Selatan hingga terjadi banjir di sebagian besar wilayah kita.

Berapa banyak kerusakan berupa infrastruktur maupun lahan pertanian dan perkebunan. Bagaimanapun faktor meteorologis berupa curah hujan yang tinggi tetap menjadi faktor utama bencana tersebut.

Satu hal lagi yang harus diperhatikan yakni semakin berkurangnya luasan lahan pertanian di Jawa dan Sumatera membuat ketahanan pangan di Indonesia makin terancam. Hal tersebut makin diperparah dengan kondisi anomali iklim dan iklim ekstrim yang juga dirasakan dampaknya di Indonesia.

Potensi pengembangan sentra pertanian tanaman pangan seperti halnya di wilayah Kalimantan Selatan terbuka luas. Lahan pertanian rawa lebak di daerah Hulu Sungai dan sekitarnya, lahan pertanian rawa pasang surut di sebagian Kabupaten Banjar dan Barito Kuala serta lahan kering di Tanah Laut adalah contoh potensi yang dapat digali.

Kearifan lokal pertanian di daerah ini harus terus dapat dipertahankan disertai dengan pemahaman tentang pengelolaan iklim di daerah kita. Sekolah Lapang Iklim dapat menjadi suatu fasilitator komunikasi penyampaian informasi iklim yang penting bagi petani. Akan tetapi permasalahan utama adalah penggunaan bahasanya yang terlalu teknis sehingga sulit untuk dipahami langsung oleh petani.

Proses diseminasi informasi tersebut dapat dilakukan secara efektif, di antaranya dengan menggunakan penyuluh pertanian dan pengamat hama penyakit tanaman sebagai mediator. Proses transfer informasi dan pengetahuan iklim kepada petani dapat dilakukan melalui pelatihan berupa Sekolah Lapang Iklim yang kini tengah digakkan di Indonesia.

Pada 2013, Sekolah Lapang Iklim juga dilaksanakan oleh Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Kalimantan Selatan di Banjarbaru dengan tema “Sekolah Lapang Iklim Sebagai Upaya Meningkatkan Produktivitas Tanaman Pangan di Kalimantan Selatan”. BMKG adalah institusi yang mempunyai tanggung jawab mendukung ketahanan pangan selain peringatan dini bencana.

Pada proses pendidikan singkat ini peserta yang nota bene adalah petani dibekali dengan mengenal unsur cuaca dan iklim, mengetahui bagaimana pembentukan awan dan hujan, hubungan iklim dan hama pengganggu tanaman. Peserta juga diajari memahami prakiraan hujan bulanan dan musim dari BMKG.

Mereka juga ditunjukkan bagaimana iklim ekstrem dan mengantisipasi dari sisi pertaniannya. Tak lupa diajarkan bagaimana memahami kearifan lokal yang tepat di Kalimantan Selatan untuk penentuan kalender tanamnya. Pengenalan alat ukur cuaca dan membuat alat penakar hujan sederhana serta kalibrasi juga diberikan sebagai modal memahami keadaan iklim.

Peserta diberikan pemahaman yang benar tentang bagaimana pola hujan, zona musim, tipe iklim dan neraca air lahan di daerahnya. Diharapkan pengalaman dan pengetahuan yang diberikan kepada penyuluh pertanian dan pengamat hama penyakit tanaman ini dapat diajarkan kepada petani dan diaplikasikan. Mereka juga diharapkan dapat mengembangkan ketrampilannya dalam mensosialisasikan pentingnya Sekolah Lapang Iklim (SLI) dan menampilkan output yang nyata kepada para petani dan berbagai pemangku kepentingan pertanian.

Memang peristiwa anomali dan iklim ekstrim telah terjadi secara global. Perubahan ini harus kita sikapi secara lokal dalam kebersamaan demi kesejahteraan di banua kita. Kita tak dapat menghindari fenomena-fenomena tersebut, yang dapat kita lakukan adalah mengatur strategi untuk keberhasilan hasil tanaman pangan dan meminimalisir kerugian maupun kerusakan yang dialami. Sekolah Lapang Iklim (SLI) dapat menjadi pilihan strategi yang jitu. (*)
Editor: Dheny
Bagi apa yang Anda baca dengan teman Anda.
  | Social:    ON Social:    OFF | Option
TRIBUNnews.com © 2014 About Us Help
Atas