Senin, 31 Agustus 2015

Saatnya Petani Membaca Fenomena Iklim

Sabtu, 15 Juni 2013 00:35

Petani di Kalimantan Selatan apabila melakukan pola tanam cuma dengan cara kebiasaan tanpa melihat keadaan variabilitas iklim akan menimbulkan resiko yang besar pada hasil yang dihasilkan.

Keadaan iklim yang variatif pada suatu tempat dan waktu tertentu seharusnya menuntut petani untuk tanggap dan memahami bentuk permasalahan iklim yang ada. Bagaimana menyusun strategi budidaya atau pola tanam yang menyesuaikan dengan keadaan iklim.

Hal ini disebabkan iklim mempunyai peran yang sangat penting dalam proses budidaya tanaman pangan. Di Indonesia unsur iklim yang paling terasa pengaruhnya ini adalah curah hujan. Apabila curah hujan terlalu tinggi maka dapat menimbulkan bencana banjir, dan sebaliknya bila terlalu rendah justru bisa menimbulkan kekeringan.

Permasalahan utamanya iklim kita adalah fenomena alam yang bersifat tidak dapat diatur. Sehingga solusi yang harus dilakukan adalah bagaimana melakukan penyesuaian dan adaptasi terhadap keadaan tersebut. Terkadang terjadi fenomena iklim di luar kebiasaan.

Fenomena yang di luar kebiasaan seperti ini yang lazimnya kita sebut sebagai anomali iklim. Frekuensi kejadian anomali iklim ini semakin sering terjadi. Sedangkan iklim ekstrem secara gamblang adalah suatu rata-rata sejumlah peristiwa cuaca ekstrem pada periode tertentu, misalnya hujan yang terus-menerus sepanjang musim. Apabila petani di Kalimantan Selatan tidak mampu mengantisipasi hal-hal ini maka akan menyebabkan kerugian.

Terjadinya anomali iklim di antaranya sangat berhubungan erat peristiwa ENSO (El Nino Southern Oscillation) yang terdiri atas dua peristiwa El Nino dan La Nina. Saat peristiwa La Nina terjadi, curah hujan di Kalimantan Selatan akan meningkat daripada normalnya. Sebaliknya saat peristiwa El Nino, curah hujan pada umumnya akan jauh menurun daripada normalnya.

Kalimantan Selatan, pada 2010 terjadi penurunan produksi padi dibandingkan pada 2009, yakni dari 1.957.550 ton menjadi 1.842.091 ton seperti yang dicatat Dinas Pertanian dan Hortikultura Kalimantan Selatan pada 2011.

Halaman123
Editor: Dheny Irwan Saputra
KOMENTAR
TRIBUNnews.com © 2015 About Us Help
Atas