Warga Terus Protes BLSM
SABTU (22/6) pagi, becak yang membawa Hj Asiah (80) tiba di halaman Kantor Pos Besar Banjarmasin.
Istimewa bagi perempuan renta itu. Pasalnya, yang menyerahkan kompensasi kenaikan harga BBM bersubsidi itu adalah Menteri Menristek Gusti Muhammad Hatta. Wajahnya kian ceria saat berfoto bersama dengan menteri asli Banua itu. “Anak-anak saya sudah berkeluarga semua. Jadi uang ini untuk hidup sehari-hari saya,” kata dia.
Hatta pun berpesan agar uang itu digunakan sebaik-baiknya. “Simpan baik duit ini, ninilah,” kata Hatta menggunakan Bahasa Banjar.
Setelah berkomunikasi dengan sejumlah penerima, Hatta menilai penyaluran BLSM di Banjarmasin sudah tepat sasaran. “Seperti Sudirman yang buta huruf, tidak sekolah dan tidak memiliki pekerjaan tidak tetap,” ujar dia.
Kepala Area Ritel dan Properti PT Pos Indonesia Area IX Kalimantan, Akhmad Fauzi mengatakan rumah tangga sangat miskin (RTSM) se-Kalimantan, yang menerima BLSM, berjumlah 626.943 orang. RTSM se-Kalsel mencapai 161.592 orang sementara untuk Banjarmasin sebanyak 19.182 RTSM dengan total dana yang disalurkan Rp 5.754.600.000.
Kemarin, BLSM di Banjarmasin ditujukan untuk warga empat kelurahan di Kecamatan Banjarmasin Tengah, yakni Kampung Melayu, Pekapuran Laut, Pasar Lama dan Seberang Masjid. Jumlahnya 628 RTSM.
Namun hingga loket ditutup pada pukul 16.00 Wita, hanya 427 RTSM. Pembagian dilanjutkan pada Senin (24/6) besok. Selain untuk warga empat kelurahan itu, juga untuk warga Kelurahan Mawar, Kertak Baru Hilir, Kertak Baru Hulu dan Kampung Gadang
Keluhan pun muncul dari sebagian masyarakat yang merasa berhak tetapi tidak terdaftar sebagai penerima BLSM. Seperti Bariah (46) di Jalan Rantauan Darat. Dia adalah janda beranak lima.
Karena stroke, Bariah tidak bisa bekerja. Hidupnya tergantung pada anak-anaknya yang juga hidup paspasan. “Terkadang ada juga tetangga yang memberi uang kepada anak saya,” ujarnya.
Nasin serupa dialami tetangganya, Ratna (50). Dia hidup sendiri dengan mengandalkan upah borongan di pabrik pembuatan roti. “Upahnya tidak tetap,” ujarnya.
Saat dikonfirmasi, Kepala RT setempat, Aspul Yani (40) mengakui kedua warganya layak mendapatkan BLSM. “Dulu ada 10 warga yang mendapat raskin. Sekarang cuma lima warga yang mendapat BLSM,” ujarnya.
Aspul juga mengatakan ada lagi warganya yang mengalami nasib serupa, yakni Imah (50). Dia semula seorang peminta-minta, tetapi karena faktor usia, dia tidak lagi bisa bekerja. “Ingin sekali sebenarnya mendaftarkan Imah, tapi kalau sudah aturan administrasinya seperti itu ya mau bagaimana lagi,” ujarnya.
Keluhan juga disampaikan sejumlah warga Sungai Lulut. Mereka mempertanyakan alasan tidak menerima BLSM kepada sang Lurah, Abdul Rasyid. “Setelah dijelaskan syarat penerimaan BLSM, mereka bisa mengerti,” kata Rasyid.
Protes disuarakan pula oleh warga Jalan Pekapuran A RT 18, Suriadi (59). Pria yang bekerja sebagai pemulung mengaku sudah menanyakan kepala Lurah Karang Mekar tetapi jawabannya yang mendata ‘orang Jakarta’.
“Setiap hari saya harus utang untuk makan. Setelah dapat barang-barang bekas, baru dibayar. Jika dapatnya sedikit ya makin besar utangnya. Dulu saya penerima raskin dan BLT (bantuan langsung tunai). Ini kan tidak adil,” tegasnya. (tim)