• Tribun Network
  • Login
  •  
  •  
  • Tribun JualBeli
Sabtu, 25 Oktober 2014
Banjarmasin Post

Mesir di Ambang Perang Saudara

Senin, 1 Juli 2013 07:02 WITA
Mesir di Ambang Perang Saudara
| AP
Presiden Mesir Mohammed Mursi

KAIRO, BPOST - Kondisi menegangkan terjadi di Ibu Kota Mesir, Kairo, Minggu (30/6). Belasan ribu orang berkumpul di Lapangan Tahrir, meminta turunnya Mohammad Mursi yang pada hari itu tepat setahun menjadi presiden Mesir.

Mereka menilai, Mursi telah gagal mengemban amanah reformasi pascajatuhnya Presiden Hosni Mubarak, 25 Januari 2011 lalu. Lapangan Tahrir pula yang menjadi saksi bisu awal gerakan massa menjatuhkan Mubarak dan mendudukkan Mursi sebagai presiden pertama hasil pemilu.

Namun, aksi kali ini berbeda bahkan dikhawatirkan menjadi pintu terjadinya perang saudara. Pasalnya, Jumat (28/6), belasan ribu orang pendukung Mursi juga menggelar aksi di tempat serupa.

Mereka menyatakan mendukung dan siap melawan kekuatan yang ingin menjungkalkan sang presiden. Bentrokan kedua kubu kerap terjadi di berbagai kota. Setidaknya delapan orang tewas –termasuk serorang mahasiwa asal Amerika Serikat– dan puluhan lainnya luka-luka.

Pada aksi menentang Mursi, kemarin, pemimpin oposisi Mohammad Elbaradei menilai pemerintah telah gagal memimpin Mesir ke arah demokrasi. “Revolusi sudah pecah sehingga kami hidup sebagai manusia dan harus diperlakukan layaknya manusia. Sayangnya, tak ada yang dicapai.

Kami merasa bangsa ini mengalami kebuntuan dan negeri akan runtuh bukan karena presiden berasal dari Ikhwanul Muslimin, dan bukan karena hanya satu partai politik yang berkuasa. Negeri ini ambruk karena pemerintahnya gagal. Benar-benar gagal,” kata penerima Nobel Perdamaian ini.

Elbaradei juga mendesak Mursi segera menggelar pemilu yang dipercepat. “Kami ingin pemilu kembali digelar dan ingin membangun kembali fondasi rumah yang sudah hancur,” ucap dia.

Kelompok oposisi mengklaim sudah mengumpulkan tanda tangan 22 juta warga Mesir yang menghendaki pria itu segera lengser. Mursi dinilai membuat sejumlah keputusan kontroversial. Salah satu keputusannya yang paling dikritik adalah dekrit yang diterbitkan November 2012. Dekrit tersebut melindungi dirinya dari gugatan hukum.

Ekonomi Mesir pun terjun bebas. Nilai mata uang jatuh hampir 20 persen sejak Mursi menjadi presiden. Selain itu, investasi asing pun mengering dan bisnis lumpuh karena kelangkaan bahan bakar dan listrik. Dari sisi HAM, aksi kekerasan kian meluas.

“Kami sudah memberi dia kepercayaan membuat program baru. Untuk mengoreksi apa yang Mubarak lakukan kepada Mesir. Tapi, Mursi tidak melakukannya. Jadi, kami berhak menarik kepercayaan yang sudah diberikan warga Mesir kepadanya,” tegas aktivis anti-Mursi, Eman el-Mahdy.

Sebaliknya, Mursi menyebut penentangnya adalah masa kelompok pecundang yang tak bisa mengalahkannya pada pemilu. Kini mereka meluapkan kekesalan melalui aksi di jalan. Mursi juga menegaskan tidak khawatir karena yakin pemerintahannya didukung lebih banyak orang, apalagi organisasi Ikhwanul Muslimin menyatakan akan ‘menjaga’ dirinya.

Diyakini, aksi oposisi bakal kembali disaingi pendukung Mursi yang menyebut musuhnya Tamarod alias pemberontak. Bentrokan-bentrokan yang kerap terjadi pun bisa makin membesar. Untuk mengantisipasi terjadinya bentrokan yang berujung pertumpahan daerah, membuat militer mengerahkan personelnya ke kota-kota besar di Mesir, dalam kondisi siap perang.

Namun, berembus kabar tidak sedap, pimpinan militer akan mengambil alih pemerintahan, jika perang saudara terjadi. (kps/arb/alj/rpb) 

Editor: Halmien
Bagi apa yang Anda baca dengan teman Anda.
  | Social:    ON Social:    OFF | Option
0 KOMENTAR
187552 articles 13 0
Loading...
Sebelum memberikan komentar, silahkan login menggunakan
TERBARU
TERBARU
TERLAMA
TERKOMENTARI
TRIBUNnews.com © 2014 About Us Help
Atas