Bersikukuh Tidak Lakukan Illegal Logging

Hasnan Cuma Lambaikan Tangan

Dua malam sudah, staf Badan Pengelola Taman Hutan Raya (Tahura) Sultan Adam

Hasnan Cuma Lambaikan Tangan
Syaiful Akhyar
ilustrasi:; Aparat Polres Hulu Sungai Selatan menunjukkan barang bukti kayu ulin yang disita, Rabu (18/4/2012)

BANJARMASINPOST.CO.ID, MARTAPURA  - Dua malam sudah, staf Badan Pengelola Taman Hutan Raya (Tahura) Sultan Adam, M Hasnan menjalani penahanan di Mapolres Banjar. Dia menjadi tersangka kasus dugaan illegal logging (pembalakan liar) terkait pemesanan kapal wisata berbahan kayu ulin yang diduga diambil tanpa izin dari kawasan Tahura di Desa Kalaan, Aranio, Banjar.

Selama 20 hari sejak dua hari lalu, Hasnan menghuni Rutan Mapolres Banjar. Tidak menutup kemungkinan masa penahanannya diperpanjang jika hingga tenggat penahanan, proses pemberkasannya belum kelar dilakukan penyidik Unit Krimsus Satreskrim Polres Banjar.

Meski sudah dikenai status tersangka, Hasnan belum sekalipun memberi penjelasan kepada pers terkait perkembangan kasusnya. Saat BPost meminta konfirmasi, Sabtu (31/8), dia enggan berkomentar.

Hasnan yang mengaku sudah sekitar 30 tahun menjadi pegawai negeri sipil (PNS) itu cuma melambaikan tangan sebagai tanda tidak mau ditemui. Sementara dua pengacaranya yang disewa dari Jakarta,  Handiman Nainggolan dan Dedi Hermawan, tidak terlihat.

Pria itu langsung dijebloskan ke sel setelah menjalani pemeriksaan pertama sebagai tersangka. “Pada pemeriksaan itu, kami tegaskan lagi mengenai letak Desa Kalaan yang masuk Kawasan Tahura. Hasnan tetap mengaku tidak tahu. Begitu juga saat ditanya asal kayu yang dipakai untuk kapal itu,” ucap Kasatreskrim Polres Banjar, AKP Ade Papa Rihi.

Diungkapkan Ade, Hasnan cuma mengaku memesan kapal yang akan digunakan untuk memancing, kepada Sirajuddin. Kapal itu diperkirakan menelan biaya Rp 50 juta.

“Sampai sekarang baru dibayar Rp 25 juta yang dibuktikan dalam tiga kwitansi pembayaran. Sisanya menunggu mesin kapal itu datang, tapi terlebih dulu kami amankan,” ungkapnya.

Bagaimana jika dia terus membantah? “Yang penting bagi kami adalah sejumlah bukti yang  mengarah kepada dia (Hasnan). Selain itu keterangan saksi ahli juga mematahkan ketidaktahuannya terhadap kawasan Tahura Sultan Adam,” kata Ade.

Saat dihubungi,  Kepala BP Tahura Sultan Adam, Ahmad Ridhani juga mengatakan bahwa Hasnan adalah salah satu staf yang tahu dan mengerti sekali mengenai kehutanan. Selain masa pengabdiannya yang lama, dia sering ikut pelatihan kehutanan.

“Karena dia paling paham lokasi dan titik koordinat, maka Hasnan selalu kami bawa saat melakukan kegiatan di kawasan Tahura Sultan Adam. Dengan semua itu, jadi saya menyangsikan kesaksiannya terkait ketidaktahuan Desa Kalaan masuk kawasan hutan konservasi,” kata Ridhani. (nic)

Penulis: Rendy Nicko
Editor: Edi Nugroho
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help