Ramai-ramai Beli Rompi Antipeluru
Maraknya aksi penembakan terhadap polisi, tak hanya meresahkan jajaran korps Bhayangkara tersebut
JAKARTA, BPOST - Maraknya aksi penembakan terhadap polisi, tak hanya meresahkan jajaran korps Bhayangkara tersebut. Masyarakat ikut resah. Betapa tidak, polisi yang dipersenjatai bisa menjadi korban, apalagi masyarakat sipil.
Antisipasi dilakukan pimpinan polri. Mereka menyerukan polisi yang bertugas ke ‘lapangan’, harus membawa senjata api. Sebaiknya tidak satu orang. Juga mengenakan rompi antipeluru.
“Pemakaian rompi akan diutamakan bagi yang bertugas di malam hari. Tentunya pemakaian disesuaikan dengan fungsi tugasnya,” kata Kabag Penum Divisi Humas Polri Kombes Agus Rianto di Jakarta, kemarin.
Selama dua bulan ini, terjadi beberapa kali penembakan terhadap polisi. Korbannya antara lain anggota Satlantas Polsek Gambir Aipda Patah Saktiyono, anggota Satuan Binmas Polsek Cilandak, Aiptu Dwiatno. Juga Bripka Ahmad Maulana dan Bripka Sukardi.
Terakhir Briptu Ruslan Kusuma yang ditembak di Cimanggis, Depok, Jabar, Jumat (13/9) malam.
Ternyata, penggunaan rompi antipeluru tidak hanya dilakukan polri. Para pengawal pribadi pun kini ramai-ramai memakainya. Mereka tidak mau ambil risiko menjadi korban penembakan.
Berbeda dengan polisi, orang-orang yang biasa mengawal pengusaha dan pesohor itu harus menyediakan sendiri. Imbasnya, tingkat pembelian ‘rompi baja’ itu meningkat.
Seorang pedagang alat militer berizin di kawasan Jalan Fatwamati, Jakarta, Iwan Prakoso Adiningrat mengakui terjadinya peniingkatan penjualan tersebut.
Bahkan dia mengatakan yang membeli tidak hanya pengawal pribadi atau perusahaan pengamanan, tetapi juga warga yang khawatir terhadap keselamatannya.
“Sejak ada penembakan-penembakan itu, terasa sekali peningkatannya. Kalau tadinya lima sampai 10 unit menjadi 15 hingga 20 unit per hari dari berbagai macam level. Umumnya permintaan untuk self defence,” kata Iwan.
Dia menjual aneka rompi, helm dan jaket. Rompi antipeluru level 1 (tingkatan terendah yang hanya mampu menahan peluru kaliber di bawah 1 atau 2,54 mm) dijual Rp 3,5 juta, hingga antipeluru level 4 yang mampu menahan peluru senjata laras panjang yang harganya mencapai Rp 8,5 juta.
Selain itu Iwan menjual helm antipeluru yang harganya berkisar dari Rp 2,5 juta hingga Rp 4,5 juta. Kemudian jaket antisenjata tajam seharga Rp 1,5 juta dan rompi antisenjata tajam dijual dia seharga Rp 1 juta.
Berdasar penelusuran BPost di Pasar Senen, Jakarta, yang dikenal sebagai sentra penjualan perlengkapan militer, juag mulai terjadi peningkatan pembelian meskipun tidak drastis.
“Di luar TNI dan Polri, yang membeli agak banyak biasanya security. Beli lima sampai sepuluh rompi. Penjualan rompi antipeluru itu musiman, karena yang membeli adalah orang-orang tertentu,” kata seorang pedagang, Andri.
Andri menjual satu jenis rompi dengan dua bahan jenis kevlar, yakni soft body dan hard body.