Puisi Itu Hamami Adaby

BIASANYA, jika bercerita tentang nama, maka Hamami Adaby (1942 – 2013) dengan senang hati dan gembira

Puisi Itu Hamami Adaby
bpost
Alm Hamami Adaby

Mengenang tujuh hari meninggalnya sastrawan Kalsel Hamami Adaby

Oleh: HE Benyamine
Pengamat sastra, tinggal di Banjarbaru

BIASANYA, jika bercerita tentang nama, maka Hamami Adaby (1942 – 2013) dengan senang hati dan gembira menjelaskan arti namanya –-kamar mandi yang indah. Lebih bersamangat jika yang dibicarakan puisi.

Ya, puisi adalah kebahagiaan, kegembiraan, dan ketenangan. Memang ada yang berpendapat bahwa karena terlalu sering menulis puisi; sebagian puisi Hamami Adaby ada yang seadanya. Tetapi jika melihat bagaimana beliau bercumbu dengan kata-kata dalam keseharian, maka istilah ‘pengendapan atau perenungan’ dalam memberi ruh puisi seperti sudah menyatu menjadi puisi itu sendiri -–begitu juga pada ‘puisi seadanya’.

Hamami Adaby dengan puisi bercerita tentang hidup dan kehidupannya, seperti dalam buku puisi Nyanyian Seribu Sungai (Tahura Media, 2011). Buku yang memuat satu judul puisi Nyanyian Seribu Sungai dengan jumlah 11.000 kata ini bagai senandung perjalanan hidup beliau sendiri, tentang dongeng-dongeng, mitos-mitos, tradisi lisan, dan imajinasi sungai-sungai di Kalimantan Selatan, yang meneguhkan bahwa puisi menjadi jalan kebahagiaan, kegembiraan, dan ketenangan; yang terungkap dalam ‘Penyair di mana?/di antara dua keindahan/doa dan harapan’ (NSS, 2011:100).

Dalam buku itu juga, seakan beliau mengajak seseorang berbicara dengan panggilan Zu. Seakan ada kebijaksanaan yang mengiringi sebutan nama tersebut. Begitu juga dengan buku kumpulan puisi lainnya, seperti dengan HO.

Puisi menjadi semangat dan harapan, hingga saat terakhir, beliau masih mengumpulkan puisi-puisi sahabat dengan tema romantis untuk diterbitkan bersama dengan puisi beliau sendiri, tentu rencananya dengan biaya sendiri.

Meski sudah terkumpul, naskahnya tak sempat diterbitkan. Namun, beliau masih sempat meminta anaknya merekam dan berpesan untuk memperdengarkan dan mencarikan judul sebuah puisi yang boleh diperdengarkan setelah kepergian beliau.

Ketika beliau mengatakan akan menerbitkan novel, yang ternyata dalam waktu singkat beliau menyelesaikan empat buah yang diterbitkan secara indie. Novel terakhir yang selesai berjudul Kamar Itu Telah Kosong.

Hamami Adaby tentu mendengar dan mengetahui kritik tentang novel-novelnya, tetapi beliau mengesampingkannya dan lebih memilih berkejaran dengan waktu –-tarian keindahan yang mengecup semangat beliau.

Halaman
1234
Editor: Dheny Irwan Saputra
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved