Gelar Banjar untuk Presiden

PRESIDEN RI Susilo Bambang Yudhoyono rencananya menepati janjinya berkunjung ke Kalsel pada Oktober ini.

PRESIDEN RI Susilo Bambang Yudhoyono rencananya menepati janjinya berkunjung ke Kalsel pada Oktober ini. Meskipun belum ada jadwal pasti, kedatangan orang nomor satu di Indonesia itu paling tidak bisa mengobati kekecewaan warga Kalsel, menyusul batalnya rencana kunjungan pada akhir Mei dan pertengahan September 2013 lalu.

Yudhoyono semula akan datang ke Kalsel pada acara Puncak Hari Bhakti Gotong Royong dan Hari Kesatuan Gerak PKK tingkat nasional di Banjarbaru Mei 2013 lalu. Pada acara itu dia dijadwalkan akan meresmikan 10 proyek MP3EI (Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia), namun karena ada kesibukan Presiden membatalkan kunjungan dan digantikan Wapres Budiono. Peresmian proyek MP3EI pun batal, karena Budiono hanya beberapa menit di Banjarbaru.

Berikutnya, Yudhoyono juga membatalkan kedatangannya ke Banjarmasin pada pembukaan Kongres XXI Persatuan Wartawan Indonesia PWI, pertengahan September 2013, karena terbentur jadwal Sail Komodo di Nusa Tenggara Timur (NTT).

Jika jadi datang, Presiden akan mengikuti tiga acara. Pertama peresmian beberapa proyek yang batal diresmikan karena ketidakdatangannya pada Mei 2013 lalu. Kedua, mengukuhkan kepengurusan baru PWI hasil Kongres di Banjarmasin, dan ketiga menghadiri Kongres Budaya Banjar.

Pada Kongres Budaya Banjar, Yudhoyono akan diberi gelar Tatuha Banua Nang Batuah melalui prosesi batapung tawar dan batumbang apam. Panitia juga sudah menyiapkan busana khas Banjar yakni baju miskat yang biasa dipakai para bangsawan Banjar untuk dikenakan Presiden dan Ibu Ani Yudhoyono pada acara tersebut.

Nah, pemberian gelar Tatuha Banua Nang Batuah bagi Yudhoyono yang harus dipertanyakan. Apa tujuannya dan manfaatnya bagi Kalsel? Apakah Presiden memang perlu diberi gelar para bangsawan banjar tersebut.

Bagi Yudhoyono anugerah gelar itu bukan yang pertama. Pada beberapa kunjunganya ke berbagai daerah di Indonesia dia juga mendapat berbagai gelar adat. Pertengahan Agustus 2013 lalu, Yudhoyono mendapat gelar ‘Sri Perdana Mahkota Negara’ dari Lembaga Adat Melayu (LAM) Provinsi Kepulauan Riau. Pada awal September 2013 lalu, Presiden mendapat anugerah gelar Doktor Kehormatan bidang Hukum Perdamaian dari Senat Univesitas Syiah Kuala (Unsyiah) Nangroe Aceh Darusallam (NAD).

Bahkan Yudhoyono juga mendapat gelar Ksatria Agung dari Ratu Elizabeth II saat berkunjung ke Inggris pada November 2012 lalu. Gelar ‘Knight Grand Cross in the Order of the Bath’ ini dulunya diberikan kepada tentara atau masyarakat sipil yang memiliki prestasi menonjol.

Rasa bangga mungkin muncul di dalam diri sebagian orang yang melihat betapa Inggris sangat menghormati Indonesia. Rasa bangga membuat sebagian orang terlena dan lupa menganalisis apa yang sebenarnya diinginkan oleh pihak Inggris, sehingga mereka memberikan gelar Kesatria Agung kepada Presiden RI.

Nyatanya, setelah pemberian gelar, banyak perjanjian antara Inggris dan Indonesia yang disepakati. Salah satunya, ditandatanganinya proyek Pembangunan LNG Tangguh kepada perusahaan Inggris, sebesar 12 miliar dolar di Indonesia pada November 2012.

Kembali kepada rencana pemberian gelar adat banjar kepada Presiden Yudhoyono oleh Lembaga Adat Banjar, apakah juga memiliki tujuan tertentu atau bermakna urgens bagi daerah dan kemajuan daerah ini. Misalnya, dengan pemberian gelar itu, Kalsel nantinya mendapat dukungan penuh sebagai tujuan utama investasi asing dan prioritas pembangunan di wilayah Indonesia Timur. Atau  bermakna pesan politik tertentu menjelang Pemilu 2014, dan sekadar seremonial belaka.

Sejatinya, pemberian gelar dalam adat mana pun adalah hal lumrah dan biasa. Dalam pengertian, adat mana pun dewasa ini selalu ingin mendapat legitimasi dan pengakuan dari penguasa.

Barangkali pemberian gelar kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono adalah salah satu ikhtiar untuk mengangkat adat budaya tersebut. Apa pun tujuannya, kita berharap Presiden menepati janjinya datang dan tidak lagi mengecewakan masyarakat Kalsel. (*)

Tags
Tajuk
Editor: Dheny Irwan Saputra
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved