Ombudsman Ringan Tangan

Sikap laiknya Raja Kecil yang sewenang-wenang dipertontonkan Wakil Ketua Ombudsman RI, Azlaini Agus, di Bandara

Ombudsman Ringan Tangan
DOK
Tribun Pontianak

Sikap laiknya Raja Kecil yang sewenang-wenang dipertontonkan Wakil Ketua Ombudsman RI, Azlaini Agus, di Bandara Sultan Syarif Kasim (SSK) II, Pekanbaru, Senin (28/10). Mantan anggota DPR Fraksi PAN ini, menampar Yana Novia, karyawan PT Gapura Angkasa, bukan karyawan Garuda Indonesia seperti ramai diberitakan.

Sudah menampar, wanita berkerudung ini, bukannya meminta maaf. Dengan lantang ia malah melontarkan kalimat menantang. “Habis nampar saya, Ibu Azlaini mengatakan, emang masalah saya nampar kamu,” kata Yana Novia menirukan kalimat Azlani.

Azlani mengaku kesal dengan penundaan keberangkatan Garuda Indonesia, yang saat itu tengah menunggu konfirmasi cuaca akibat letusan Gunung Sinabung. Ia tambah kesal, karena harus berdiri 20 menit antre untuk naik ke pesawat menuju Bandara Kuala Namu, Medan, Sumatra Utara. Terlalu lama menunggu dan melihat sikap petugas, kekesalan Alzaini memuncak.

Azlaini boleh saja menyangkal telah menampar Yana dan mengaku hanya memarahinya. Namun, kemarahan Azlaini ternyata meninggalkan jejak tanda kemerahan seperti bekas tamparan di pipi Yana. Berbekal bukti itulah, Yana berani melapor ke Mapolsek Bukit Raya. Aksi pejabat publik yang pamer kuasa, bukan sekali ini saja terjadi.

Setidaknya ada empat pejabat yang berulah. Pertama, Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Provinsi Bangka-Belitung, Zakaria Umarhadi, memukul pramugari Sriwijaya Air, Febriyani, dengan koran. Zakaria tak terima ditegur saat menggunakan telepon genggam saat pesawat landing di Bandara Depati Amir, Bangka, Mei lalu.

Kedua, anggota Komisi V DPR dari Fraksi PAN, Andi Taufan Tiro, menampar petugas Bea Cukai Bandara Soekarno Hatta, Februari lalu. Ia kesal dengan pelayanan imigrasi yang hanya membuka satu pintu.

Ketiga, Ketua DPRD Natuna, Hadi Candra, menghajar tiga anggota Satpol PP Natuna, Sutraman (26), Fairuzzabi (24), dan Firman (26) yang menjaga rumah dinasnya, 25 Mei 2011. Hadi tidak menyesal memukul ketiganya karena ia menilai anggota Satpol PP itu tak disiplin.

Keempat, Roy Suryo, yang kini menjabat Menteri Pemuda dan Olahraga, ngotot ingin terbang menggunakan Lion Air. Ia naik pesawat pukul 06.15 WIB, padahal seharusnya ia baru terbang pukul 07.45. Dengan membawa-bawa nama Direktur Lion Air, Roy yang saat itu sebagai anggota DPR dari Fraksi Demokrat, berebut seat yang telah diduduki penumpang lain.

Perilaku Azlaini, Zakaria, Hadi, dan Roy, memantik kejengahan publik. Sebagai birokrat, apalagi pejabat, Azlaini, sejatinya mengedepankan perilaku santun. Menjadi tauladan untuk rakyat yang sudah menggajinya. Bukan malah mengumbar amarah, bahkan hingga melakukan kekerasan fisik. Apalagi, jabatan yang melekat kepadanya adalah Wakil Ketua Ombudsman! Memang ombudsman oleh Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2008 tentang Ombudsman RI, berwenang mengawasi penyelenggaraan pelayanan publik di Tanah Air.

Mulai dari penyelenggara negara dan pemerintahan, Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Badan Usaha Milik Daerah (BUMD), Badan Hukum Milik Negara, serta badan swasta atau perseorangan yang diberi tugas menyelenggarakan pelayanan publik tertentu yang sebagian atau seluruh dananya bersumber dari APBN atau APBD.

Apa yang dipertontonkan Azlani, Zakaria, Hadi, dan Roy, adalah wajah mayoritas birokrat di Republik ini yang masih kental kultur feodal. Menyemat jabatan publik malah ingin dilayani, bukan melayani. Perilaku yang merusak citra pemerintah ini, kian menyempurkan perilaku koruptif para pemegang amanah di negeri ini. Sebuah bukti sahih gagalnya reformasi birokrasi. (*)

Editor: Dheny Irwan Saputra
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help