Metamorfosis IAIN Jadi UIN

Kini, kabar itu makin jelas setelah Rektor IAIN Antasari Prof HA Fauzi Aseri memaparkan

Metamorfosis IAIN Jadi UIN
IAIN Antasari

PROSES metamorfosis (perubahan bentuk atau peralihan status) Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Antasari menjadi Universitas Islam Negeri (UIN) Pangeran Antasari, terus bergulir dan diupayakan para petinggi lembaga pendidikan Islam terbesar di Kalimantan ini, sejak beberapa tahun terakhir.

Kini, kabar itu makin jelas setelah Rektor IAIN Antasari Prof HA Fauzi Aseri memaparkan perkembangan dan kemajuan rencana tersebut dalam Rapat Kerja dan Penyusunan Anggaran IAIN Antasari 2014 di Novotel Banjarbaru, Rabu-Kamis (29-30/1) dihadiri Sekretaris Jenderal (Sekjen) Kementerian Agama Republik Indonesia, H Bahrul Hayat.

Dalam pertemuan itu, Fauzi Aseri menuturkan memiliki tiga rencana strategis yakni peningkatan akses, peningkatan mutu dan peningkatan tata kelola akuntabilitas serta pencitraan. Melalui kebijakan tersebut, diharapkan target meningkat secara signifikan. Juga, peningkatan kapasitas dan kualitas kelembagaan.

Itulah dasar mengapa pihak pengelola institut kini, bertekad mengembangkan menuju universitas berstatus penuh. Namun demikian, prosesnya tidak semudah apa yang dibayangkan kebanyakan orang. Setelah mendapat restu, digenjot persiapan seperti penyiapan fasilitas belajar dan mengajar, tenaga dosen sejak ada rencana peningkatan status tersebut.

Kongkretnya, persiapan yang dilakukan mulai pembangunan infrastruktur, tenaga pendidik dan sejumlah persyaratan lain; untuk menjadikan kampus itu sebagai universitas Islam bagi warga banua. Seperti tenaga pendidik, sudah tidak ada lagi S1 dan banyak memiliki tenaga doktor, juga yang menyelesaikan program magister di berbagai disiplin ilmu.

Dalam waktu yang tidak lama, setahun atau dua tahun lagi, IAIN Antasari yang berjuluk kampus hijau -–karena mahasiswa dan mahasiswinya mengenakan seragam jaket hijau-- akan bermetamorfosis menjadi UIN Pangeran Antasari. Artinya, pengetahuan yang digali para mahasiswa di sana tidak hanya ilmu agama, tapi juga ilmu umum.

Dari segi kemahasiswaan, sudah dipersiapkan. Sebab, persyaratan untuk bisa dilakukan pengalihan status IAIN menjadi UIN, mahasiswa-mahasiswinya kurang lebih 10 ribu dan memiliki sejumlah organisasi unit kemahasiswaan. Sekarang, IAIN Antasari sudah hampir sama dengan perguruan tinggi ternama di Indonesia.

Persyaratan untuk jumlah mahasiswa dan organisasi kemahasiswaan, misalnya di IAIN Antasari sudah punya organisasi intra kampus. Resimen Mahasiswa (Menwa), Pramuka, Pecinta Alam, Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) dan Lembaga Kesenian Mahasiswa (LKM). Semua itu dibina institut, dikembangkan oleh mahasiswa dari empat fakultas, setiap angkatannya.

Selanjutnya, yang dipersiapkan sejak lama perubahan fakultas yang ada di IAIN Antasari, misalnya Tarbiyah menjadi Fakultas Tarbiyah dan Keguruan, Syariah menjadi Fakultas Syariah dan Ekonomi Islam, Dakwah menjadi Fakultas Dakwah dan Komunikasi, Ushuluddin menjadi Fakultas Ushuluddin dan Humaniora.

Sekarang, sebagaimana dikutip Fauzi Aseri sedang dibangun kampus II IAIN Antasari di atas lahan 80 hektare dan sudah memiliki master plan. Dalam perencanaan pembangunan kampus II itu, didirikan satu tower setinggi 30 meter. Ditarget pembangunan kampus II di Cempaka, Banjarbaru itu selesai pada 2015.

Sebagai perguruan tinggi Islam negeri terbesar di Kalimantan, IAIN Antasari terus berbenah, menata sumber daya dosen dan melengkapi infrastruktur, sehingga bisa memenuhi persyaratan untuk dikembangkan menjadi UIN Pangeran Antasari. Jika tidak mengalami kendala yang berarti, pengalihan status tersebut akan bisa didapatkan pada tahun depan.

Betapa optimisnya sivitas akademika IAIN Antasari menyambut perubahan status tersebut, pembangunan kampus II pun mulai dikerjakan. Namun demikian, perkuliahan dan penambahan fasilitas kampus I di Jalan Achmad Yani Km 4,5 Banjarmasin, tetap dilakukan meski pembangunan infrastruktur kampus II memerlukan dana tidak sedikit.

Sekjen Kemenag RI, Bahrul Hayat mengatakan sangat mendukung master plan yang direncanakan rektor IAIN Antasari. Itu dalam rangka percepatan pengembangan IAIN Antasari menuju UIN Pangeran Antasari, sehingga universitas itu nantinya menjadi pusat studi Islam dan pusat ungggulan yang memiliki nilai-nilai islami.

Proses panjang pengalihan status IAIN menjadi UIN, tetap menjadi perhatian para petinggi IAIN Antasari, yakni pengembangan infrastruktur di kampus baru. Juga memperluas data aksesnya, perluasan fakultas dan dukungan warga Banua tentunya, sehingga terwujud proses dan percepatan sebagaimana yang dikehendaki.

Yang tidak kalah pentingnya output dari tahun ke tahun, harus memiliki karakteristik, siap dan memiliki keyakinan hati serta perilaku; sehingga menjadi perisai bagi segelintir orang yang meragukan perubahan status IAIN Antasari bermetamorfosis menjadi UIN Pangeran Antasari. Semoga! (*)

Editor: Dheny Irwan Saputra
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved