Guru Misfalah dalam Kenangan

MASYARAKAT Indonesia yang tinggal di Makkah (mukimin) dan jama’ah haji/umrah, khususnya orang-orang

Guru Misfalah dalam Kenangan
blogspot
KH Husin Naparin Lc MA

Oleh: KH Husin Naparin

MASYARAKAT Indonesia yang tinggal di Makkah (mukimin) dan jama’ah haji/umrah, khususnya orang-orang Banua/Banjar menyebut beliau guru Misfalah, karena ia tinggal dan membuka pengajian di Misfalah, suatu kawasan pemukiman di kota Makkah; tetapi juga  akrab dipanggil guru Husni Tamrin.

Nama lengkapnya Husni Tamrin bin Jafri bin Thaha bin Abdurrasul Al-Banjari Al-Makki Ad-Daari Al-Azhari. Nama beliau diembeli Ad-Daari karena ia adalah seorang alumni Madrasah Daarul-Ulum Ad-Diniyah, Makkah (th 1370 H sampai tamat tingkat Ulya); dan diembeli Al-Azhari karena berstudy di Mesir, Universitas Al-Azhar Kairo, pada Fakultas Ushuluddin,  jurusan  Aqidah & Filsafat, tingkat Licence (S1) dan Dirasat ‘Ulya (pasca sarjana); dari tahun 1962 s.d 1973.

Di Mesir, ia berguru dengan guru-guru besar antara lain Syekh Al-Azhar Abdul Halim Mahmud, Mufti Mesir Syekh Hasanain Makhluf, juga dengan Syekh Zad Al-Haq dan Syekh Muhammad Al-Ghazali. Guru beliau di Makkah sejak usia dini adalah Syekh ‘Asyur Al-Hadrami, Syekh Ibrahim Fattani, Sayyid Al-Wi Al-Maliki, Sayyid Hamid Al-Kaaf.

Guru utama beliau adalah Syekh Muhammad Yasin Padang, yang betul-betul menjadi pendidik, pembimbing dan mursyid beliau dengan mulazamah lebih dari 30 tahun. Syekh ini memilihnya sebagai salah seorang sekretaris kepercayaan untuk menulis karya tulis beliau antara lain Asaanid Al-Faqih Ahmad bin Hajar Al-Haitami Al-Makki dan Maslakul-Jali Fii Asaanid Syekh Muhammad Ali.

Sepulang dari Mesir, beliau dipercayakan menjadi staf pengajar di Madrasah Daarul Ulum untuk tingkat mutawassithah (menengah). Beliau juga menjadi pegawai tetap Rabithah Alam Islami perwakilan Makkah sebagai staf. Materi pengajiannya di Misfalah adalah pembacaan kitab-kitab hadis, lebih khusus periwayatan hadis-hadis mulsalsal bahkan yang gharib (jarang didengar) dengan syarat-syarat yang ketat; selain membaca kitab-kitab fiqih Syafi’i dan Tasauf.

Guru Husni lahir di desa Hamparaya, Kecamatan Sungai Raya, Hulu Sungai Selatan, pada hari Jumat/Sabtu, 13 Sya’ban 1362 H/14 Agustus 1943 M. Usia 4 tahun beliau di bawa Hijrah ke Makkah oleh keluarga. Setelah sekian lama bermukim di Makkah, pada 1429 H/2008 M beliau dan keluarga pulang ke tanah air, bertempat tinggal/membuat rumah di Balitan 3, Banjarbaru, Kalimantan Selatan.

Di sini beliau membuka majelis taklim/pengajian, dalam seminggu penuh berbagai materi antara lain membaca kitab Asy-Syifa karya Qadhi Iyadh, Mujarabat Ad-Dairabi, Bidayatul Hidayah dan Minhajul Abidin karya Imam Al-Ghazali; di samping membaca kitab Shahih Bukhari dan periwayatan hadis-hadis mulsalsal yang beliau terima dari Syekh Yasin Padang.

Sabtu 2 Rabi’ul Awwal 1435 H/4 Januari 2014 M beliau berpulang ke rahmatullah dan dikebumikan di desa kelahirannya, Hamparaya HSS; meninggalkan seorang istri, empat orang anak laki-laki yaitu H.Ahmad dan H.Amin (mukim dan bekerja di Malaysia sebagai dosen), H.Ahyad (mukim di Makkah), dan H.Yahya (Hafidz Alquran 30 Juz) yang membantu Almarhum dalam pengajian, disamping empat orang anak perempuan.

Guru Husni seorang yang berhati rendah. Hal ini tergambar pada pemberian nama majelis taklim beliau: ‘’Zawiatul-Hikmah,’’ artinya satu pojok hikmah; beliau katakan hanya ‘’sebuncu.’’ Kendati beliau telah meninggal, Zawiatul-Hikmah tetap dilanjutkan oleh anak beliau Ustadz H.Yahya; dan penulis didaulat untuk meramaikan taushyiah malam Ahad/Minggu dua kali dalam sebulan. Materi yang penulis sampaikan hanya bersifat Mau’idzah Hasanah, buku pegangan kitab ‘’Dalil As-Sa’ilin’’, karya Anas Ismail Abu-Daud, kitab terakhir yang Almarhum hadiahkan kepada penulis.

Allah yarham Guru Husni, sudah lebih dari seratus hari beliau wafat. (*)

Tags
Fikrah
Editor: Dheny Irwan Saputra
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved