Merajut Cinta, Menepis Amarah

MAHKAMAH Konstitusi, Kamis (21/8), sudah membuat putusan terkait sengketa pilpres. Momentum ini menjadi

Merajut Cinta, Menepis Amarah
tribun lampung
Tribun Lampung

MAHKAMAH Konstitusi, Kamis (21/8), sudah membuat putusan terkait sengketa pilpres. Momentum ini menjadi catatan sejarah sebagai bagian dari proses pemilu yang seru. Berbagai intrik muncul selama perjalanan panjang mulai dari masa-masa kampanye, hari-H pemilihan, hingga berujungnya gugatan ke MK. Kini, ketika MK akhirnya mengetuk palu, tahapan pemilu telah sampai pada titik akhir.

Sidang MK yang berakhir Kamis malam sekitar pukul 20.44 WIB, akhirnya mengesahkan Joko Widodo-Jusuf Kalla sebagai Presiden dan Wakil Presiden Terpilih, mengalahkan pasangan lainnya, Prabowo Subianto-Hatta Rajasa. Semua dalil gugatan yang diajukan oleh tim hukum Prabowo-Hatta ditolak oleh hakim MK. Masalah daftar pemilih khusus tambahan (DPKTb) misalnya, dimentahkan. Demikian pula masalah noken di Papua.

Pilpres 2014 ini bisa disebut sebagai pilpres yang paling seru dibanding sebelumnya. Dengan hanya diikuti dua pasangan calon, yakni Prabowo Subianto-Hatta Rajasa dan Joko Widodo-Jusuf Kalla, pilpres berlangsung dalam suasana yang panas dan menggelorakan pertentangan. Namun kini suasana kita harapkan kembali menjadi hangat dan bersahabat.

Kita berharap, dengan berakhirnya proses di MK, maka segala pertentangan yang sempat mengemuka terkait keberadaan dua kubu, Prabowo-Hatta dan Jokowi-JK, akan berakhir pula. Tak perlu lagi ada intrik dan sejenisnya, yang tentu kita sama tahu, lebih banyak membawa mudarat ketimbang manfaat.

Kecewa adalah sifat yang sangat manusiawi, namun hendaknya hanya muncul sementara dan setelah itu kita semua kembali beraktivitas normal seperti biasa. Janganlah kekecewaan itu malah menjadikan kita berlarut-larut dalam kebencian dan kemarahan yang ujung-ujungnya tentu akan membawa kerusakan pada diri kita sendiri, dan juga bisa berdampak kepada orang lain.

Banyak pengamat yang sebelumnya mengatakan bahwa putusan MK akan membentuk polarisasi di kalangan masyarakat, sehingga kemudian terbelah, lantas berpotensi menjadi kerawanan sosial. Namun, kita percaya, itu semata opini yang akan berbeda dengan kenyataan yang terbentuk di masyarakat.

Kita yakin, masyarakat tidak akan terpolarisasi apalagi kemudian terbelah. Semua akan berjalan seperti adanya dan seperti yang seharusnya.

Memang sempat ada kekhawatiran riak-riak akan bermunculan jika saja putusan MK tidak memuaskan salah satu kubu.

Kita patut bersyukur, berkat kesigapan aparat keamanan, dengan status Siaga I di sejumlah provinsi, terkhusus di DKI Jakarta, potensi kerawanan itu berhasil dieliminasi.

Kini saatnya bagi kita semua untuk kembali kepada kehidupan semula, menjalankan aktivitas sebagaimana mestinya, dan  berpikir untuk berbuat yang lebih baik dan lebih bermanfaat bagi sesama. Tidak perlulah lagi saling sindir, saling caci, saling hujat, dan saling fi tnah. Mari kita lelehkan perbedaan yang di masa pilpres lalu sempat mengkristal. Bergandengan tangan dan saling senyum adalah wujud dari rasa cinta satu sama lain, yang akan menepis amarah, benci, maupun dendam yang pernah ada. (*)

Editor: Dheny Irwan Saputra
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help