Meski Lumpuh Samuel Ingin Jadi Programer

melihat Samuel atau yang biasa dipanggil Sam sedang tidur telentang sambil mengetik di laptop miliknya.

Meski Lumpuh Samuel Ingin Jadi Programer
net

BANJARMASINPOST.CO.ID, JAKARTA - Programmer lepas di Galileo Indonesia, Samuel Franklyn (47), lumpuh sejak 2010 akibat rusaknya syaraf tulang belakang saat terjatuh di jalan.

Meski demikian, dia tidak mau bergantung dengan orang lain dan tetap ingin bekerja. Saat ditemui di kediamannya, Kompas.com melihat Samuel atau yang biasa dipanggil Sam sedang tidur telentang sambil mengetik di laptop miliknya.

Sam sudah empat tahun bekerja dengan posisi tidur di rumah kontrakannya di Jalan Asem, Tanjung Duren, Jakarta Barat. Laptop Sam diletakkan di sebuah pipa besi yang dimodifikasi sedemikian rupa sehingga bisa menopang laptop untuk digunakan Sam dengan posisi tidur.

Penyangga laptop Sam dibuat khusus oleh Arif Christianto, teman dekat Sam. Sehari-hari, Sam dibantu oleh Mona (45), pengasuh Sam yang dari kecil sudah ikut keluarganya. "Saya dari zaman ibunya (Sam) sampai sekarang," ujar Mona.
Mona setiap harinya datang saat siang untuk membantu Sam makan, mandi, dan saat buang air. Jelang sore, Mona pulang ke rumahnya yang tidak jauh dari rumah kontrakan Sam untuk mengurus suaminya.

Dari sore jelang malam, Mona kembali ke tempat Sam hingga pagi hari. Saat ini Sam bekerja sebagai karyawan lepas di Galileo Indonesia sebagai programmer. Sebelumnya Sam bekerja tetap di sana, namun setelah mengalami sakit lumpuh, Sam mengundurkan diri walaupun perusahaan tetap memperbolehkan Sam bekerja di rumahnya tanpa harus ke kantor.

Pengobatan alternatif

Ketika Sam mulai merasa sakit dan tidak bertenaga, dia dibantu beberapa temannya melakukan pemeriksaan di rumah sakit Royal Taruma, Jakarta Barat. Dokter di sana berkesimpulan bahwa ada masalah dengan syaraf tulang belakang Sam.

Untuk mengetahui lebih jelasnya, Sam diminta untuk cek dengan Magnetic Resonance Imaging (MRI). Namun Sam tidak bisa memasuki mesin MRI karena badannya melebihi lebar mesin. Sam memiliki berat badan 150 kilogram saat itu.

Hal tersebut menyebabkan Sam berusaha mencari berbagai cara pengobatan alternatif, di antaranya reflexology dan akupuntur. "Ini saya lagi ikut program akupuntur. Katanya sih bisa sembuhin syaraf-syarafnya. Ya saya berharap saja yang terbaik dari Tuhan. Enggak terlalu pengen sembuh, nanti jadi beban pikiran," kata Sam.

Salah satu teman Sam pernah memberikan kata-kata yang sangat berkesan dan menjadi penyemangat untuk Sam. Inti dari perkataan temannya adalah bahagia jangan dinilai dari kesehatan.

"Kalau saya enggak optimistis nanti saya mana bisa hidup, nanti saya enggak pernah bahagia dong," kata Sam.

Editor: Halmien
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help