Belum Mampu Kalahkan Mafia

USMAN, seorang pengusaha angkutan barang asal Lhokseumawe, menumpahkan unek-uneknya

Belum Mampu Kalahkan Mafia
Serambinews
Serambi Indonesia

USMAN, seorang pengusaha angkutan barang asal Lhokseumawe, menumpahkan unek-uneknya kepada Kepala Ombudsman Republik Indonesia (ORI) Perwakilan Sumatera Utara, Abyadi Siregar SSos, dalam sebuah pertemuan di Kantor ORI Perwakilan Aceh yang dipimpin Dr Taqwaddin MH, Rabu (1/10) lalu.

“Kalau saya diberi senapan dan diizinkan menembak, maka saya akan tembak sendiri para `bajing loncat’ yang sering merampok truk-truk milik saya di lintasan Halaban hingga Kampung Lalang, Sumatera Utara,” ujar Usman, melalui harian ini edisi kemarin.

Unek-unek Usman sebenarnya hanyalah lagu lama yang terus didendangkan, dan selama ini seperti langsung sirna bak awan tersaput angin. Harian ini sudah berkali-kali menulis tentang kegetiran nasib angkutan penumpang dan barang asal Aceh yang terus mengalami intimidasi berkepanjangan saat di Sumut.

Ada bus penumpang dilempari kaca, ada karton mi instan yang diletakkan di sisi jalan lalu wajib diisi uang oleh pengemudi dan kernet angkutan. Ada pungutan liar terang-terangan dari oknum mengaku polisi yang secara lantang berkata, mereka tak butuh surat menyurat tapi hanya butuh uang. Serta yang paling brutal adalah bajing loncat yang senantiasa menguras barang dari mobil pengangkut ke dan dari Aceh.

Sudah lelah para korban itu mengadu, suara mereka juga telah parau, tapi penyakit jalanan itu bukannya mereda, malah makin menjadi jadi. Jangan salahkan jika, curahan hati (curhat) yang ditumpahkan kepada Kepala Ombudsman Republik Indonesia (ORI) Perwakilan Sumatera Utara, Abyadi Siregar SSos, juga dianggap hanya sebagai lantunan suara yang segera hilang ditelan gema di ujung lorong. Dengan kata lain, tak banyak yang bisa diharapkan, walau pihak Ombudsman Sumut itu berjanji mengusut. Rakyat sudah lelah dengan janji janji.

Jika kita telusuri secara lebih mendalam, puncak dari semua ketergantungan itu adalah stake holder di Aceh --terutama jajaran birokrasi-- yang kalah kelas dalam melakukan lobi.

Kita mencatat, betapa Pemerintah Aceh mati-matian berusaha menghidupkan pelabuhan di Aceh, namun tetap saja gagal. Mafia Medan punya jaringan dan mengawal regulasi pelabuhan itu hingga pintu Senayan. Akibatnya regulasi untuk operasional pelabuhan di Aceh tetap saja tergantung Sumut. (*)

Editor: Dheny Irwan Saputra
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help