Harga Tak Naik, Tempe Melonggar yang Justru Rugikan Konsumen

Meraka sebisa mungkin untuk menghindari kenaikan harga di tingkat eceran yang bertahan diharga Rp 3 ribu per potong

Harga Tak Naik, Tempe Melonggar yang Justru Rugikan Konsumen
WARTA KOTA/dok
ilustrasi : Mashudi (55), pengrajin tempe asal Kampung Rawa, Johar Baru, Jakarta Pusat, tengah mengemas kedelai untuk dijadikan tempe. 

BANJARMASINPOST.CO.ID, BANJARMASIN - Perajin tempe mempunyai kiat tersendiri untuk menyiasati setiap tibanya kenaikan harga kedelai akibat dolar menguat atas nilai rupiah. Meraka sebisa mungkin untuk menghindari kenaikan harga di tingkat eceran yang bertahan diharga Rp 3 ribu per potong.

“Karena ini akan berdampak pada merosotnya penjualan. Di pasaran kenaikan tempe Rp 1,000 saja akan sangat dikeluhkan,” ujar seorang pedagang di Pasar Lama Banjarmasin.

Untuk itulah, tidak sedikit produsen harus mengambil cara mengurangi kualitas tempe yang dihasilkannya sehingga menjadi tempe longgar dengan harga tidak naik.

“Tapi sebenarnya tempe longgar ini justru merugikan konsumen. Selain rasanya kurang gurih, juga ketika diogoreng lebih meresap minyak,” ujar Fitri, ibu rumah tangga di Banjarmasin.

Tempe longgar berindikasi kurangnya kedelai yang digunakan, maka ketika digoreng minyak lebih banyak meresap ke sana agar bisa digoreng garing.

“Selain lebih boros minyak goreng juga tidak baik untuk kesehatan,” ujarnya.

Penulis: Umi Sriwahyuni
Editor: Halmien
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved