Sutarto Hadi Sempat Kram

mulai dari bundaran Lianganggang sampai A Yani Km 24 itu, iring-iringan mulai tercerai berai. Bahkan ada peserta yang sampai tidak memakai alas kaki

Sutarto Hadi Sempat Kram
banjarmasinpost.co.id/nia kurniawan
BEM FH Unlam ketika menyampaikan aspirasinya ke Rektor Unlam Sutarto Hadi yang sedang melakukan nazarnya, Sabtu (11/4/2015) dini hari. 

BANJARMASINPOST.CO.ID, BANJARBARU - Usai berjalan kurang sudah lebih lima jam mulai dari gerbang Unlam Banjarmasin, kini Rektor Unlam Sutarto hadi sudah sampai di bundaran Lianganggang, sekitar pukul 02.30 wita.

Tapi ada sedikit kendala, ya, dia sempat mengalami kram kaki di posisi sekitar Jalan A Yani pal 16. " Aduh kram, perlu terapis," ujar Sutarto, Sabtu (11/4/2015) dini hari.

Perlu diketahui, Sutarto Hadi memulai perjalanan nazarnya dengan berjalan kaki mulai pukul 21.00 dari gerbang Unlam di Banjarmasin. Semua ini untuk memenuhi upaya nazarnya karena terpilih sebagai rektor Unlam.

"Untung cuma kram sebentar saja, Alhamdulilah sudah sampai Bundaran Lianganggang ternyata juga saya masih kuat dampingi pak rektor," ujar Syaiful, staf rektorat Unlam.

Sementara Rektor Unlam Sutarto Hadi ditunggu kedatangannya di Jalan A Yani pal 23 oleh para peserta. Tampak dosen Unlam Dwi atmono turun dari mobil plat merah DA 171 karena mengaku tidak kuat lagi.

"Terpaksa didiskon tiga kilometer. Ga kuat," ujar Dwi atmono.

Ada peristiwa menarik. Sekitar di Jalan A Yani Pal 18 , perwakilan dari BEM FH Unlam memberikan kado. Uniknya, kado berisi batu kerikil sebagai simbol jalanan Unlam yang rusak.

"Saya apresiasi rektor menjalankan nazarnya, tapi menurut saya nazar seperti itu "lucu". Lebih baik rektor bernazar untuk memperbaiki kondisi kampus yang sangat buruk dan aksi ini kami dedikasikan untuk mengawal hearing yangg sudah dilakukan kemarin dengan pihak jajaran rektor," ujar Ariyanto Ketua BEM FH Unlam.

Dia mengatakan, batu kerikil itu dihadiahkan sebagai simbol agar rektor memprioritaskan jalan kampus yang sangat rusak untuk diperbaiki segera.

Dari pantauan, mulai dari bundaran Lianganggang sampai A Yani Km 24 itu, iring-iringan mulai tercerai berai. Bahkan ada peserta yang sampai tidak memakai alas kaki karena sepatu rusak.

Penulis: Nia Kurniawan
Editor: Halmien
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help