Riset: Tamat SMA Terbukti Memperpanjang Umur

Estimasi itu setara dengan jumlah kematian yang dapat dihindari setiap tahun bila semua perokok di AS berhenti merokok. Demikian kata peneliti studi

Riset: Tamat SMA Terbukti Memperpanjang Umur
banjarmasinpost.co.id/kompas.com
Ilustrasi 

BANJARMASINPOST.CO.ID - Sekolah ternyata tidak hanya meningkatkan pendapatan, tapi juga menyehatkan. Sebuah studi baru mengestimasi lebih dari 145 ribu kematian per tahun dapat dihindari di AS bila mereka yang tak tamat menyelesaikan SMA-nya.

Estimasi itu setara dengan jumlah kematian yang dapat dihindari setiap tahun bila semua perokok di AS berhenti merokok. Demikian kata peneliti studi tersebut.

Penemuan riset ini mendukung kebijakan pemerintah AS untuk meningkatkan tingkat pendidikan rakyatnya. Bahwa tingkat pendidikan dapat memperbaiki usia harapan hidup warganya.

"Dalam kebijakan kesehatan masyarakat, kita sering fokus pada mengubah perilaku menjadi lebih sehat seperti pola makan, merokok dan minum alkohol," kata Virginia Chang, salah satu peneliti dan associate profesor kesehatan masyarakat di New York University Steinhardt School of Culture, Education and Human Development. "Pendidikan, yang lebih fundamental, dari hulu mendorong perilaku sehat seharusnya menjadi elemen kunci dalam kebijakan kesehatan di AS," katanya.

Masyarakat dengan pendidikan lebih tinggi hidup lebih lama karena berbagai alasan. Termasuk di antaranya, mereka memiliki pendapatan lebih tinggi, perilaku lebih sehat, dan kesehatan psikologi yang lebih baik.

Untuk studi tersebut, peneliti mengikuti lebih dari sejuta orang antara tahun 1986-2006, melihat tingkat pendidikan dan kematiannya. Mereka juga menggunakan informasi dari orang yang dilahirkan pada 1925, 1935 dan 1945 untuk menentukan bagaimana tingkat pendidikan mempengaruhi kematian dari waktu ke waktu.

Mereka mengestimasi pada 2010, 145.243 kematian seharusnya dapat dicegah jika mereka yang tak tamat sekolah mendapatkan ijazah SMA dan tambahan 110.068 kematian dapat dihindari jika masyarakat yang mulai kuliah tetapi berhenti terus melanjutkan studinya sampai selesai.

Peneliti juga menemukan antara 1925-1945, tingkat kematian rendah di semua tingkat pendidikan, tetapi jauh lebih rendah di antara kaum berpendidikan universitas. Hasilnya, jarak tingkat kematian di antara orang dengan tingkat pendidikan berbeda semakin besar sepanjang waktu.

"Kecuali tren ini berubah, kematian yang disebabkan tingkat pendidikan rendah akan terus berlanjut di masa depan," kata salah satu peneliti, Patrick Krueger, asisten profesor Departemen of Health & Behavioral Sciences di University of Colorado, Denver.

Masyarakat pendidikan tinggi ditemukan cenderung tidak merokok, lebih rajin olahraga dan punya akses lebih besar untuk mendapat asuransi kesehatan. Tambahan lagi, studi menemukan kemajuan pengobatan dan pencegahan penyakit jantung dalam beberapa puluh tahun terakhir dinikmati sebagian besar oleh mereka yang berpendidikan tinggi.

Studi ini diterbitkan 8 Juli ini di jurnal PLOS ONE.

Editor: Didik Trio
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved