Otemachi, Tempat Paling Angker di Tokyo Jepang

Musim panas di Jepang dimulai Juli. Di musim panas ini semua cerita hantu bermunculan.

Otemachi, Tempat Paling Angker di Tokyo Jepang
Koresponden Tribunnews.com/Richard Susilo
Monumen Taira no Masakado Kubizuka di Tokyo Jepang. 

BANJARMASINPOST.CO.ID, TOKYO - Musim panas di Jepang dimulai Juli. Di musim panas ini semua cerita hantu bermunculan. Tapi yang satu ini bukan cerita hantu, semua orang Jepang rasanya tahu dan menghindari tempat ini. Tempat paling angker di Jepang karena banyak setan dan black magic yang sangat kuat. Mendengar nama tempat ini saja orang Jepang sudah merinding.

Taira no Masakado, merupakan seorang samurai kaya selama periode Heian. Kubizuka artinya pemenggalan kepala. Meskipun tanggal lahirnya tidak diketahui, namun tanggal kematiannya diketahui 25 Maret 940. Itu adalah hari dia dipenggal setelah pemberontakan Taira Masakado yang berlangsung hanya 59 hari dari tahun 939-940.

Legenda mengatakan bahwa setelah kepala Masakado dipenggal di Kyoto, lalu "terbang" mendarat di Tokyo daerah Otemachi saat ini, tak jauh dari Stasiun Tokyo pintu ke luar C-3.

Daerah Otemachi adalah daerah kantor utama di Tokyo, juga daerah finansial yang sangat ramai dikunjungi para pekerja harian. Mungkin ada yang mengatakan sebagai Wallstreet nya Jepang.

Untuk memadamkan semangat marah Taira no Masakado maka tahun 1309 monumen asli dibangun di Otemachi.

Tapi lebih dari 600 tahun kemudian, nilai tanah telah meningkat secara signifikan dan berlokasi di ibukota Jepang ini terhimpit oleh peruntukan berbagai hal, seperti gedung kantor dan sebagainya. Berbagai pihak ingin menyingkirkan tetapi tak bisa, selalu gagal. Akhirnya tak ada yang berani menyingkirkan lokasi monumen tersebut.

Pada tahun 1923, setelah gempa bumi Kanto yang menghancurkan banyak tempat, monumen itu mulai dibersihkan atau tampaknya akan disingkirkan dan membangun gedung baru. Tak lama kemudian para pejabat dan eksekutifnya malahan tiba-tiba sekarat satu demi satu.

Sebanyak 14 orang meninggal, dan orang-orang mulai berpikir bahwa ini adalah hasil dari kutukan yang disebabkan oleh menyingkirkan monumen. Kementerian Keuangan menyerah dan situs atau monumen batu didirikan pada tahun 1927. Acara ini bahkan disebutkan di website Badan Pajak Nasional.

Setelah berakhirnya Perang Dunia II tahun 1945, militer Amerika yang tidak mengetahui sejarah situs, berusaha untuk mengubah daerah menjadi tempat parkir. Namun, buldoser terbalik, menewaskan pengemudi. Ada protes besar dan rencana itu akhirnya dibatalkan.

Usaha mencoba menghilangkan lagi di zaman modern ini, pemerintah ingin menjual tanah di sekitar monumen untuk berbagai lembaga keuangan, hanya menyisakan tanah monumen itu. Tak lama kemudian Long-Term Credit Bank of Japan (LTCB) dibangun di sana. Namun satu per satu orang yang memiliki kantor berbatasan dengan monumen itu jatuh sakit. Bahkan akhirnya LTCB pun ditutup, dengan kata halus, dilakukan merger dengan bank lain.

Kini ada kelompok relawan telah dibentuk untuk mengurus monumen, dan rekening bank telah dibuka dengan nama Taira no Masakado pada Bank of Tokyo-Mitsubishi UFJ yang berbatasan dengan monumen.

Bisa dibayangkan, sebuah bank besar membuka rekening bank di zaman modern dengan nama orang yang sudah tidak ada. Apakah masuk akal? Padahal kalau umum kita buka rekening bank, pasti ketat sangat, dimintai bukti identitas diri dan sebagainya.

Ada juga dua rumor tentang bangunan di sebelah monumen. Gedung-gedung di sekitar monumen, tidak ada jendela yang menghadap ke sana. Kemudian, meja kerja di bangunan dekat situs tersebut diatur sedemikian rupa sehingga eksekutif tidak duduk dengan punggung mereka ke arah monumen.

Selain tanah dan monumen, orang masih datang untuk berdoa. Tidak ada salahnya menghormati tempat angker ini. Setidaknya banyak bukti tertulis telah berbicara apa adanya dan banyak saksi terhadap angkernya situs ini. Padahal situs ini juga dekat sekali dengan Istana Kekaisaran Jepang.

Mau coba ke sana? Mungkin menarik untuk mengetahui sejarah dan disarankan jangan berbuat macam-macam atau jangan berpikir buruk sebelum ke sana. Semoga saja semua yang ke sana mendapat berkah melimpah dan kebahagiaan di masa depan, dan bukan sebaliknya.

Editor: Edinayanti
Sumber: Tribunnews
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved