Iwak Sapat Karing Khas Banjar, Rasanya Renyah Meski Tanpa Bumbu

Oleh orang Banjar ikan ini biasanya dimasak dalam berbagai bentuk makanan, di antaranya adalah iwak karing sapat.

Iwak Sapat Karing Khas Banjar, Rasanya Renyah Meski Tanpa Bumbu
banjarmasinpost.co.id/yayu fathilah
Konsumen sedang membeli iwak sapat karing di Mini Market Dini di Jalan A Yani Km 4,5 nomor 399, Kelurahan Kebun Bunga, Kecamatan Banjarmasin Timur. 

BANJARMASINPOST.CO.ID, BANJARMASIN - Iwak sapat atau ikan sepat (trichogaster trichopterus) banyak ditemui di sungai-sungai di Kalimantan Selatan.

Oleh orang Banjar ikan ini biasanya dimasak dalam berbagai bentuk makanan, di antaranya adalah iwak karing sapat.

Badannya yang tipis dan tak berlemak ini, membuat rasanya nikmat dan gurih saat disantap. Ikan ini biasanya digoreng kering tanpa bumbu apa pun.

Hasilnya, ikan kering yang gurih dan pastinya menggugah selera, apalagi jika disantap dengan nasi panas. Apalagi jika digoreng kering, sensasi renyahnya akan makin mantap.

Di Banjarmasin, banyak penjualnya, biasanya mudah ditemui di pasar-pasar tradisional. Ada juga yang sudah berupa kemasan untuk oleh-oleh, biasanya dijual di toko-toko.

Seorang pembuat iwak karing sapat adalah Marlina. Menurutnya, proses pembuatan ikan ini dari mengeringkannya hingga memasaknya tergolong mudah.

Pertama, ikan yang baru ditangkap di sungai dibersihkan dulu sisik dan isi perutnya. "Setelah itu diasinkan dengan dilumuri garam, barulah didiamkan selama 30 menit untuk meresapkan garamnya," urainya.

Setelah itu, ikan dijemur hingga kering. "Kalau cuaca panas menjemurnya tiga hari, kalau musim hujan bisa seminggu baru kering," katanya.

Setelah itu, barulah ikan digoreng hingga warnanya kekuningan. "Paling enak jika digorengnya kering sekali. Rasanya akan makin sedap karena terasa sekali kriuk-kriuknya," lanjutnya.

Biasanya, ikan ini dan berbagai varian masakannya banyak ditemui di musim kemarau seperti sekarang ini. Sebab, air sungai mengering membuat ikan-ikan itu bermunculan ke permukaan air sehingga mudah ditangkap.

Proses pengeringannya pun mudah dan cepat karena cuacanya panas terus di siang hari. "Biasanya, harga ikannya yang masih mentah di pasar lebih murah. Kalau sedang musim hujan, karena setoknya langka harganya jadi mahal," ujarnya.

Harganya di saat murah bisa mencapai Rp 40.000 per kilogram, Rp 5.000 per ons dan Rp 10.000 kalau beli hanya 1/4 kilogram. Kalau sedang mahal, beli 1/4 kilogram harganya Rp 15.000.

Di toko-toko suvenir, biasanya juga banyak yang menjual ikan ini dalam bentuk kemasan. Per bungkusnya dijual sekitar belasan ribu hingga puluhan ribu rupiah dan sudah siap dibawa sebagai buah tangan.

Penyuka iwak karing sapat adalah Anis. Dia paling suka jika ikan ini digoreng kering. "Rasanya renyah, gurih dan pastinya mengundang selera makan. Kalau ada lauk ini, saya bisa makan dua piring," katanya.

Di Banjarmasin, banyak toko yang menjual iwak karing sapat yang sudah dikemas. Di antaranya adalah Mini Market Dini di Jalan A Yani Km 4,5 nomor 399, Kelurahan Kebun Bunga, Kecamatan Banjarmasin Timur.

Pemiliknya, H Kusnain Darto mengatakan, iwak karing sapat kemasan yang dijualnya dipasoknya dari pembuat.

Sebungkusnya dijualnya berbeda-beda harganya. Ada yang sebungkus Rp 18.000, ada juga yang Rp 38.000 jika kemasannya lebih besar.

"Kalau yang sudah matang ada yang rasa original dan balado. Sebungkusnya Rp 38.000," terangnya.

Penjual iwak karing sapat kemasan lainnya adalah Sofia Indriyati dari Toko Cendrawasih Sarahai, Jalan Pangeran Samudera nomor 65/24 RT 6, Kelurahan Kertak Baru, Kecamatan Banjarmasin Tengah, Banjarmasin.

Per bungkusnya dijualnya Rp 18.000, isinya satu ons. "Sapatnya ini dari sungai-sungai yang ada di daerah Hulu Sungai seperti Kandangan dan Nagara. Sehari, saya bisa produksi iwak karing sapat sebanyak 20 kilogram," tutupnya.

Penulis: Yayu Fathilal
Editor: Didik Trio
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved