Aroma Indonesia di Megaproyek Haji

SEJAK dua tahun lalu, Kerajaan Arab Saudi membatasi kuota haji dari berbagai negara karena pelaksanaan proyek pembangunan dan perluasan

Aroma Indonesia di Megaproyek Haji
tribunkalteng.com/tribunnews.com
Posisi crane yang jatuh menimpa Masjidil Haram, Jumat (11/9/2015) sore. 

BANJARMASINPOST.CO.ID - SEJAK dua tahun lalu, Kerajaan Arab Saudi membatasi kuota haji dari berbagai negara karena pelaksanaan proyek pembangunan dan perluasan Masjidilharam, Makkah.

Tragisnya, Sabtu (12/9) dinihari kemarin, satu dari 15 alat mesin berat jenis crane (derek) roboh sehingga 107 calon haji (calhaj) yang sedang beribadah di dalam masjid, meninggal dan ratusan lainnya luka-luka.

Di antara korban meninggal, terdapat tujuh orang dari Indonesia.

Baca Juga:

Belajar pada Musibah

Hujan yang (Tak) Dirindukan

Bukan 'Human Error'

Terkabul Ingin Meninggal di Mekkah

Sebelum Ambruk, Terlebih Dahulu Petir Menyambar Crane

Target proyek itu adalah memperbesar Masjidilharam hingga mampu menampung 2,2 juta orang.

Saat ini kapasitas salah satu masjid bersejarah di dunia itu adalah 800 ribu hingga 900 ribu orang.


Calon jamaah haji usai terjadi badai dan robohnya crane di Mekkah. (tribunnews.com)

Dalam megaproyek ini ada aroma Indonesianya. Pasalnya, PT Waskita Karya menjadi subkontraktor dalam proyek bertajuk ‘Increasing Capacity Mataf Project’ itu.

Dalam situsnya, PT Waskita Karya menyatakan proyek tersebut sangat bergengsi.

Salah seorang pekerja asal Indonesia dalam megaproyek itu, Sriyono Bashier mengungkapkan, crane yang roboh tersebut terbesar di antara alat berat serupa yang digunakan dalam konstruksi perluasan Masjidilharam.

Selengkapnya baca Banjarmasin Post edisi cetak Senin (14/9/2015) atau klik http://epaper.banjarmasinpost.co.id

Editor: Edinayanti
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved